Wednesday, 27 November 2013

[NOVEL] Hotaru Chapter: 1

The World Of Butterfly

“All creatures live and share millions of memories with their beloved. Those memories keep on living until they arrive in their next life. Although they’ve forgotten about it and grasp only a few scattering hazes. But surely one day, their memories will arise and tears would fall down to their cheeks,



“Hey,, ayah..”


“Kenapa Hotaru?” kataku sambil meletakkan cangkir kopiku di meja.


“Kenapa namaku Hotaru? Itu terdengar seperti nama anak perempuan, kan? Semua terus memanggilku Ho-chan, Ho-chan dan mengatakan aku bisa bersinar di malam hari. Sangat menyebalkan!”


Aku menatapnya, anak tunggalku yang baru berumur 5 tahun. Ia baru saja pulang dari sekolah dan seperti biasa, mengadu masalah namanya, Hotaru Hosaka.


“Hey,,” Aku mengelus kepalanya lembut dan tersenyum, “Nama ayah lebih terdengar seperti nama anak perempuan kau tau? Dan Hotaru itu nama yang keren untuk ayah. Tidakkah kau pikir demikian Aka?”


Aka, istriku tercinta yang sedang mencuci piring menjawabku dengan senyumannya yang cemerlang sambil berkata, “Ada cerita dibalik nama itu, Hotaru. Sebuah cerita indah tentang ayahmu dan cinta pertamanya,”


“Cinta pertama?” Dengan bingung Hotaru menggelengkan kepalanya dan bergumam, “Apa itu? Sepertinya aku pernah mendengarnya,”


“Jangan begitu Aka. Bukan begitu..” Aku berdiri dari tempat dudukku, meletakkan cangkir sisa kopi di pencucian piring sambil menatap kalender yang menggantung di dinding di hadapanku, “Hari ini.. ya?”


Aka berjalan mendekatiku dan menyentuhkan jariku ke salah satu tanggal di kalender bulan Juni itu sambil tersenyum, “27 Juni. Hari istimewamu. Kau tak keberatan bercerita padanya, kan?”


“Aka jangan menjahiliku.” kataku sambil tertawa, “Sepertinya.. aku masih  ingat.. “


Kutatap Hotaru yang balas menatapku dari sofa dan menggembungkan pipinya tanda jengkel, “Baiklah.. “ kataku sambil duduk disampingnya, menepuk kepalanya dan tersenyum, “Dulu, waktu ayah masih berumur 15 tahun,,,”







Ibuku meninggal waktu aku hendak menginjak 12 tahun. Orang yang paling berharga bagiku, alasan dibalik nilaiku yang mengagumkan, dan alasan untukku hidup telah pergi meninggalkanku. Saat itu aku hidup dalam kematianku, seakan akan aku tak memperdulikan apapun, berhenti sekolah dan mengunci diriku di rumah. Ayahku dengan putus asanya menyemangatkanku untuk terus hidup, seperti yang aku janjikan pada ibu. Tapi aku sama sekali tak peduli. Jadi selama sekitar 3 tahun, aku berhenti bersekolah dan kini, hal – hal yang saat itu kuperbuat pada ayah membuatku ingin mengulang segalanya.


Subuh. Aku kabur dari rumah. Umurku sudah 15 tahun dan aku masih mendamba-dambakan ibuku dan rumahku saat itu masih berada di pinggiran desa. Sebuah rumah kecil di desa yang kecil pula, dikelilingi perbukitan dan hutan. Salah satu dari hutan – hutan itu diyakini masyarakat adalah hutan suci bernama “Hutan Roh”. Dikatakan bahwa apabila seseorang memasuki hutan itu, ia takkan bisa menjadi manusia lagi. Dan saat itu aku berniat memasukinya sehingga aku bisa menjelma menjadi roh dan menemui ibu.


Aku berjalan tanpa arah. Aku berpikir apabila aku memasuki hutan itu aku bisa menemui ibu sebagai roh atau aku akan mati sia – sia. Tapi tiba – tiba, seekor kunang – kunang melintas di hadapanku, bersinar terang sambil mengelilingi kepalaku.


“Ikuti aku..”


Aku terkejut, “Siapa disana?” Aku berbalik dan tak ada seorangpun disana. Tubuhku gemetar, entah pengaruh angin dingin tau apa, “S..Siapa..”


“Ikuti aku..”


Seekor kunang – kunang muncul di hadapanku dan terbang dengan pelan seolah-olah ia mengisyaratkan aku agar mengikutinya. “Ah.. Ikuti aku..” kataku dalam hati dan menyadari bahwa kunang – kunang itu telah membuntutiku dari pekarangan rumahku.


“Mengapa kau mengikutiku? Siapa kamu?”


“Ikuti aku..”


“Ah, kau sangat keras kepala. Kemana kita akan pergi? Aku harus menemukan hutan roh, bukan sarang kunang – kunang..” kataku sambil meninggalkannya dan berjalan lagi.


“Ikuti aku..”


Aku meliriknya dan menoleh lagi, “Apa?”


Kunang – kunang itu menyala dengan terangnya dan aura keemasan memancar mengelilinginya yang menarik perhatianku, “Baiklah. Kita pergi..”


Aku mengikutinya dan melewati berbagai macam pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada sebuah lapangan yang dipenuhi rerumputan biru tetapi ketika aku menapakkan kaki di atasnya, jutaan rumput bertebaran di langit seakan akan angin meniupnya pergi. Ternyata itu bukan rumput, melainkan jutaan kupu – kupu biru yang belum pernah kulihat. Kemudian ada sebuah sungai kecil yang dipenuhi kunang – kunang tapi ‘milikku’ tetap diam di bahuku dengan kilau keemasannya yang lain daripada yang lain. Aku kehausan dan kuminum air sungai itu dan ternyata rasanya sangat manis semanis gula. Kemudian aku melewati sebuah kuburan dengan kelelawar – kelelawar yang bersembunyi di dahan dahan pohon. Aku takut. Bukan karena kelelawar itu, melainkan palang kubur yang terbuat dari kaca dan begitu bersih seakan – akan yang berada di dalam sana bukan manusia.





Aku terus berjalan dan berjalan hingga kami tiba di sebuah tempat dimana sebuah tangga besar dan sangat tinggi menghadang. Sangat tinggi hingga puncaknya pun tak terlihat, “Tak mungkin. Kita akan menaiki ini?” Kunang- kunang itu menyala terang dan terbang ke arah tangga.


Tangga tangga itu sangat kasar. Berlumut dan semakin tinggi aku mendaki, semakin tebal kabut yang menyelimutiku. Kunang – kunang itu terus terbang dan menyala terang namun tak wajar. Ia terbang ke kanan, kemudian curam ke kiri dan seterusnya, sementara kilaunya kian membesar.


Kabut menjadi semakin tebal seraya aku terus mendaki, “Hey kau.. dimana kamu? Aku tak..”


Ya, aku sadar tangga itu sangat tidak layak untuk digunakan. Salah satu anak tangganya sangat rapuh, diselimuti lumut yang sangat tebal. Seketika keseimbanganku lenyap. Aku terjatuh.


Aku berpikir tentang kematian. Begitu aku mati, aku akan dapat bertemu dengan ibu lagi. Aku akan lenyap dari mata ayah. Akku takkan menjadi beban bagi siapapun.


‘Aku tak takut mati, kan?’ Itulah yang aku pikir saat itu. Tapi aku salah. Aku takut mati. Saat itu, aku memohon akan nyawaku. Tiba – tiba sepasang tangan kecil yang putih bersih meraihku, memelukku di kehangatan pemiliknya dan mengangkatku, terbang. Aku selamat. Seorang gadis dengan iris mata emas dan rambut hitam yang begitu indah dan panjang menggenggam tanganku dan ia terbang, membawaku melampaui langit berkabut itu dan tiba di puncak tangga – tangga luar biasa itu.


“K..Kau..” kataku sambil menjauh darinya dan ia membuang muka padaku, “Huh?” gumamku.


 Wajahnya begitu putih dan cantik, namun terkesan dingin, sedih, dan bimbang. Ia tak mengatakan sepatah katapun padaku sejak tiba di puncak tangga itu dan entah kenapa aku merasa ia marah padaku. Terhadap kecerobohanku dan keinginanku yang walaupun sekejap saat itu, keinginan untuk mati. “Maaf atas kecerobohanku..”


 Untuk sekejap aku merasa ia tersipu dan sedikit lega, “Aku lega kau tak marah pada..”


Aku tak tau apa yang terjadi kemudian. Aku yakin saat itu ada sesuatu yang menghantam kepala bagian belakangku dengan keras dan membuatku tak sadarkan diri. Sakit. Namun tiba – tiba aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku, dengan lembut dan halus. Aku yakin saat itu, ia menciumku.

 

~TSUZUKU~

 

READ MORE

Hotaru Chapter: 1 | Kemudian.com

No comments:

Post a Comment