Thursday, 28 November 2013

[POETRY] Musikalisasi Kematian




Detik yang berlari
Tanpa ampun
Mengiringi lagu yang melankolis
Dengan bara amarah beradu
Diantara hati busuk
Penguasa kegelapan
Yang tinggal seujung jari
Hidupnya
Pernahkah kau bertanya
Pada merah yang berseri?
Pernahkah kau bertanya
Pada mereka yang kau kotori?
Pernahkah kau bertanya
Pada jiwa dan tangis yang bernyanyi?
Semua itu hilang dalam asa
Mengiringimu dengan melodi
Engkau di ujung cita
Kan disambut lantunan puisi merdu
Yang memekik telinga surga
Yang mencabik hati manusia
Menghancurkan mata dan kalbu
Mengusir para penyantun
Tak satupun orang tau
Akan bangkaimu yang membusuk
Dan durga akan menyambutmu
Dengan biola belati tanpa ragu


Read moreMusikalisasi Kematian | Kemudian.com

Wednesday, 27 November 2013

[NOVEL] Hotaru Chapter: 1

The World Of Butterfly

“All creatures live and share millions of memories with their beloved. Those memories keep on living until they arrive in their next life. Although they’ve forgotten about it and grasp only a few scattering hazes. But surely one day, their memories will arise and tears would fall down to their cheeks,



“Hey,, ayah..”


“Kenapa Hotaru?” kataku sambil meletakkan cangkir kopiku di meja.


“Kenapa namaku Hotaru? Itu terdengar seperti nama anak perempuan, kan? Semua terus memanggilku Ho-chan, Ho-chan dan mengatakan aku bisa bersinar di malam hari. Sangat menyebalkan!”


Aku menatapnya, anak tunggalku yang baru berumur 5 tahun. Ia baru saja pulang dari sekolah dan seperti biasa, mengadu masalah namanya, Hotaru Hosaka.


“Hey,,” Aku mengelus kepalanya lembut dan tersenyum, “Nama ayah lebih terdengar seperti nama anak perempuan kau tau? Dan Hotaru itu nama yang keren untuk ayah. Tidakkah kau pikir demikian Aka?”


Aka, istriku tercinta yang sedang mencuci piring menjawabku dengan senyumannya yang cemerlang sambil berkata, “Ada cerita dibalik nama itu, Hotaru. Sebuah cerita indah tentang ayahmu dan cinta pertamanya,”


“Cinta pertama?” Dengan bingung Hotaru menggelengkan kepalanya dan bergumam, “Apa itu? Sepertinya aku pernah mendengarnya,”


“Jangan begitu Aka. Bukan begitu..” Aku berdiri dari tempat dudukku, meletakkan cangkir sisa kopi di pencucian piring sambil menatap kalender yang menggantung di dinding di hadapanku, “Hari ini.. ya?”


Aka berjalan mendekatiku dan menyentuhkan jariku ke salah satu tanggal di kalender bulan Juni itu sambil tersenyum, “27 Juni. Hari istimewamu. Kau tak keberatan bercerita padanya, kan?”


“Aka jangan menjahiliku.” kataku sambil tertawa, “Sepertinya.. aku masih  ingat.. “


Kutatap Hotaru yang balas menatapku dari sofa dan menggembungkan pipinya tanda jengkel, “Baiklah.. “ kataku sambil duduk disampingnya, menepuk kepalanya dan tersenyum, “Dulu, waktu ayah masih berumur 15 tahun,,,”







Ibuku meninggal waktu aku hendak menginjak 12 tahun. Orang yang paling berharga bagiku, alasan dibalik nilaiku yang mengagumkan, dan alasan untukku hidup telah pergi meninggalkanku. Saat itu aku hidup dalam kematianku, seakan akan aku tak memperdulikan apapun, berhenti sekolah dan mengunci diriku di rumah. Ayahku dengan putus asanya menyemangatkanku untuk terus hidup, seperti yang aku janjikan pada ibu. Tapi aku sama sekali tak peduli. Jadi selama sekitar 3 tahun, aku berhenti bersekolah dan kini, hal – hal yang saat itu kuperbuat pada ayah membuatku ingin mengulang segalanya.


Subuh. Aku kabur dari rumah. Umurku sudah 15 tahun dan aku masih mendamba-dambakan ibuku dan rumahku saat itu masih berada di pinggiran desa. Sebuah rumah kecil di desa yang kecil pula, dikelilingi perbukitan dan hutan. Salah satu dari hutan – hutan itu diyakini masyarakat adalah hutan suci bernama “Hutan Roh”. Dikatakan bahwa apabila seseorang memasuki hutan itu, ia takkan bisa menjadi manusia lagi. Dan saat itu aku berniat memasukinya sehingga aku bisa menjelma menjadi roh dan menemui ibu.


Aku berjalan tanpa arah. Aku berpikir apabila aku memasuki hutan itu aku bisa menemui ibu sebagai roh atau aku akan mati sia – sia. Tapi tiba – tiba, seekor kunang – kunang melintas di hadapanku, bersinar terang sambil mengelilingi kepalaku.


“Ikuti aku..”


Aku terkejut, “Siapa disana?” Aku berbalik dan tak ada seorangpun disana. Tubuhku gemetar, entah pengaruh angin dingin tau apa, “S..Siapa..”


“Ikuti aku..”


Seekor kunang – kunang muncul di hadapanku dan terbang dengan pelan seolah-olah ia mengisyaratkan aku agar mengikutinya. “Ah.. Ikuti aku..” kataku dalam hati dan menyadari bahwa kunang – kunang itu telah membuntutiku dari pekarangan rumahku.


“Mengapa kau mengikutiku? Siapa kamu?”


“Ikuti aku..”


“Ah, kau sangat keras kepala. Kemana kita akan pergi? Aku harus menemukan hutan roh, bukan sarang kunang – kunang..” kataku sambil meninggalkannya dan berjalan lagi.


“Ikuti aku..”


Aku meliriknya dan menoleh lagi, “Apa?”


Kunang – kunang itu menyala dengan terangnya dan aura keemasan memancar mengelilinginya yang menarik perhatianku, “Baiklah. Kita pergi..”


Aku mengikutinya dan melewati berbagai macam pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Ada sebuah lapangan yang dipenuhi rerumputan biru tetapi ketika aku menapakkan kaki di atasnya, jutaan rumput bertebaran di langit seakan akan angin meniupnya pergi. Ternyata itu bukan rumput, melainkan jutaan kupu – kupu biru yang belum pernah kulihat. Kemudian ada sebuah sungai kecil yang dipenuhi kunang – kunang tapi ‘milikku’ tetap diam di bahuku dengan kilau keemasannya yang lain daripada yang lain. Aku kehausan dan kuminum air sungai itu dan ternyata rasanya sangat manis semanis gula. Kemudian aku melewati sebuah kuburan dengan kelelawar – kelelawar yang bersembunyi di dahan dahan pohon. Aku takut. Bukan karena kelelawar itu, melainkan palang kubur yang terbuat dari kaca dan begitu bersih seakan – akan yang berada di dalam sana bukan manusia.





Aku terus berjalan dan berjalan hingga kami tiba di sebuah tempat dimana sebuah tangga besar dan sangat tinggi menghadang. Sangat tinggi hingga puncaknya pun tak terlihat, “Tak mungkin. Kita akan menaiki ini?” Kunang- kunang itu menyala terang dan terbang ke arah tangga.


Tangga tangga itu sangat kasar. Berlumut dan semakin tinggi aku mendaki, semakin tebal kabut yang menyelimutiku. Kunang – kunang itu terus terbang dan menyala terang namun tak wajar. Ia terbang ke kanan, kemudian curam ke kiri dan seterusnya, sementara kilaunya kian membesar.


Kabut menjadi semakin tebal seraya aku terus mendaki, “Hey kau.. dimana kamu? Aku tak..”


Ya, aku sadar tangga itu sangat tidak layak untuk digunakan. Salah satu anak tangganya sangat rapuh, diselimuti lumut yang sangat tebal. Seketika keseimbanganku lenyap. Aku terjatuh.


Aku berpikir tentang kematian. Begitu aku mati, aku akan dapat bertemu dengan ibu lagi. Aku akan lenyap dari mata ayah. Akku takkan menjadi beban bagi siapapun.


‘Aku tak takut mati, kan?’ Itulah yang aku pikir saat itu. Tapi aku salah. Aku takut mati. Saat itu, aku memohon akan nyawaku. Tiba – tiba sepasang tangan kecil yang putih bersih meraihku, memelukku di kehangatan pemiliknya dan mengangkatku, terbang. Aku selamat. Seorang gadis dengan iris mata emas dan rambut hitam yang begitu indah dan panjang menggenggam tanganku dan ia terbang, membawaku melampaui langit berkabut itu dan tiba di puncak tangga – tangga luar biasa itu.


“K..Kau..” kataku sambil menjauh darinya dan ia membuang muka padaku, “Huh?” gumamku.


 Wajahnya begitu putih dan cantik, namun terkesan dingin, sedih, dan bimbang. Ia tak mengatakan sepatah katapun padaku sejak tiba di puncak tangga itu dan entah kenapa aku merasa ia marah padaku. Terhadap kecerobohanku dan keinginanku yang walaupun sekejap saat itu, keinginan untuk mati. “Maaf atas kecerobohanku..”


 Untuk sekejap aku merasa ia tersipu dan sedikit lega, “Aku lega kau tak marah pada..”


Aku tak tau apa yang terjadi kemudian. Aku yakin saat itu ada sesuatu yang menghantam kepala bagian belakangku dengan keras dan membuatku tak sadarkan diri. Sakit. Namun tiba – tiba aku merasakan sesuatu menyentuh bibirku, dengan lembut dan halus. Aku yakin saat itu, ia menciumku.

 

~TSUZUKU~

 

READ MORE

Hotaru Chapter: 1 | Kemudian.com

Monday, 25 November 2013

[SHORT STORY] When Will My Life Begin?


"These days are normal and I felt like it. But somehow I'm still not myself. At the moment, at the stated place, where will my life grow? When will my life begin?"

Hari itu adalah hari apel pertamaku semenjak libur panjang bagaikan mimpi yang berkelit begitu lincahnya bak kibasan ekor naga di cerita - cerita dongeng. Kutatap matahari yang tak henti - hentinya mengharapkan kehitaman kami meningkat beberapa persen. Panas. Aku mendongak menatap langit saat beberapa burung melintas di langit dan menari dengan gesitnya, "ahh,," pikirku, "rasanya enak sekali,"
Cucuran keringat merembes ke bajuku dan mengubah warna topi yang biru menjadi abu. Abu kehitaman begitulah. Dengan ogah aku memasuki kelas dan duduk berpangku tangan sementara orang - orang kelasku berhamburan dan mengobrol. Rutinitas hari Senin. Kuambil earphoneku, menutup mataku dan bersender di bangku. Menikmati lagu Sen no Yoru wo Koete milik Aqua Timez yang sangat kusukai sehingga tanpa sepengetahuanku, aku berdendang kecii.
"Lihat si Aki,"
"Live-Class-Performance lagi ,kan?" Salah satu temanku, Souda, merogoh telepon genggamnya dan merekamku, "Buka youtube, cepetan!"
Beberapa saat kemudian bel tanda pergantian jam belajar berbunyi dan aku terbangun dari duniaku, mendapati layar proyektor terpampang di depan kelas dan orang - orang sekelas mentertawakanku melihat video gumamanku yang Souta rekam. Memalukan. Aku mengerinyitkan mata dan berpaling, "Sudah masuk, beres - beres!" teriakku sambil bangkit dari bangkuku, mencabut kabel proyektor dan menutup laptop Souta, "Cepat,"
"Hai.. Hai.. Aki-sama.."
Pelajaran berjalan mulus seperti biasa dan aku bermimpi bersamanya. Semua yang ada di papan merupakan makanan sambilan bagiku. Aku sudah terlalu bosan dengan formula - formula dasar yang sebagian besar kupelajari dulu dan saat libur. Aku tak tau bagaimana cara menyita waktu libur yang berharga. Sibuk adalah nafasku. Aku merasa saat dimana orang - orang mengandalkanku, mendukungku, dan membimbingku sangat berharga untukku, karena itu aku akan mendedikasikan segalanya untuk mereka. Terutama ibu.
Seiring dengan desiran angin yang berbisik di telingaku, aku menatap melalui jendela beberapa orang dewasa yang tampak sibuk, berjalan dengan cepat sambil menenteng tas hitam dengan telepon genggam menemani mereka. Selintas benakku bertanya, "Apa yang akan kulakukan setelah ini, ya?"

~~~~


READ MORE

When Will My Life Begin? | Kemudian.com

Sunday, 24 November 2013

[POETRY] Doa untuk Tuhan

Tuhan
Kalau Kau seribu mendengar
Seribu mengetahui
Bisikkanlah selirih kabut saja
Nyanyianku untuk ayah
Puisiku untuk ibu
Dalam keabadian tuk menemukanMu

Tuhan
Kalau Kau seribu penyabar
Seribu pemaaf
Cintailah kebaikan ayah semerbak anggur
dan keburukannya walau sepahit getir
Cintailah kasih sayang ibu semanis madu
dan kesalahannya walau seluas semesta
Diatas semua itu
Mereka merajut aku
Untuk berdoa setiap batas ingatanku
Untuk bersedekah semiskinku
Untuk berjuang seujung ekorku
Untuk tersenyum setulus hatiku
dan Untuk memujaMu

Tuhan
Kalau Kau seribu mendengar
Seribu mengetahui
Tersenyumlah untuk doa kecilku ini

 

READ MORE

Doa untuk Tuhan | Kemudian.com

Saturday, 23 November 2013

[POETRY] Meringis

Meringis..
Anak itu meringis lagi
Entah...
Apa yang ada di benaknya
Dengan riasan lebam di pipi
dan kaki kecilnya yang bergetar, merinding
Tersenyum menatapku
Seolah esok tiada beban

Perempuan
Perselingkuhan
Amarah
Denting porselen menari - nari
Sosoknya..
Terduduk..
Diantara jarum - jarum yang menusuk tiada ampun
Dengan tangannya yang redup
Dengan tubuhnya yang bergetar mungil

Meringis..
Apa ia meringis lagi?
Rautnya terlukis di benakku
Semenjak hari itu
Setelah genting berubah senyap
Dan lampu dimatikan
Merah - merah itu masih terlihat
Diantara prasasti jejaknya yang mungil
Ah..
Ia pasti meringis lagi

READ MORE

Meringis | Kemudian.com

[POETRY] Selamat Pagi

Erang
Dahaga-ku bersemburat
Celah - celah tersibak berkilau
Terik menyilaukan menerjang lensa mata
Memaksaku tuk turun dari singgasana-ku
Ogah
Aku menggeliat bagai ulat

Hari para burung cinta terlewati
Dan hari berbeda telah tiba
Sang sinar memojokkanku
Dengan kilau yang sangat mengusik itu
Aku ingin terkulai lagi
Karena dunia yang lalu sungguh mencekik
Aku ingin bermimpi lagi
Karena dunia yang lalu memakan semua dambaku

Detik - detik berlalu
Semua yang hitam itu kini berubah putih
Karena ia sudah berada di atas
Kicau perabotan dan hewan - hewan besi bertalu - talu
Menggelitik telingaku
Ahh..
Dengan ogah kulipat permadani surgaku
Dan turun dari takhta-ku

READ MORE

Selamat Pagi | Kemudian.com

[POETRY] Tetesan Hujan

Aku rindu warna itu
Kelabu pusing yang hening
Aroma sunyi dan sendu
Diantara gejolak berlian bening
Tangisan surgawi bertalu - talu
Dengan tenang nan anggun

Bebatuan bercengkrama diantara hijau - hijau ranum
Katak berseri, tanpa raut gusar
Karena mereka sedang berpesta diantara daun - daun
Menyanyi tak kenal bosan

Lagi - lagi kudengar
Suara yang kurindukan itu
Lagi - lagi kugambar
Suasana hatiku yang kelabu
Apakah itu sinar, menyala?
Atau kilat menari tersipu - sipu?
Ah.. Ah..
Suaranya terdengar beradu
Yang kurindu, kuangankan
Terjang aku dalam belaian surgawimu..


READ MORE

Tetesan Hujan | Kemudian.com

[POETRY] Scarlet

Sosoknya legam
Diantara sinar - sinar surya yang menjelang mati
Senyumnya tersungging picik penuh maksud
Entah
Scarlet di jubahnya mulai membeku
Membeku seakan bosan

Bilah besi di sakunya yang juga bosan
Menggelantung tak menentu
Pedang-kah itu? Parang-kah itu?
Semua yang nampak bisu tak menentu itu bosan
Bosan dengan darah yang menari - nari

Sosok itu berjalan
Merobek lukisan langit sore dan scarlet yang terbakar
Dengan sedikit senyuman dari paras, amuknya
Tanpa ampun
Dan dengan indahnya ia menari
Kilauan bilah memekik, berputar dan pecah
Di antara jeritan nyanyian kematian yang miris

 READ MORE

Scarlet | Kemudian.com