Wednesday, 19 February 2014

[NOVEL] Hotaru Chapter: 5

-Part 5-
I might know nothing
about you. But I know someone’s yearning and eagerly loved you, even if you
know nothing about her either.”

Hening. Tatapan tajam laki-laki itu menusuk legam hitam yang
berkabut, menggerayangi suasana panas menjadi dingin. Aku masih diam. Karena
sosok dingin itu seolah-olah dapat mengoyakku kapanpun ia mau.

Kualihkan mata ke arah Chizue, berharap ia tahu apa maksud
semua itu. Namun aku justru terkejut melihat ekspresi wajahnya.. seperti
melihat setan, yang kemudian balas menatapku dengan wajah yang sama,
“M..Mereka..”

“Apa?” tanyaku sambil berdiri dan menatap laki-laki itu, “Ano,, Terima kasih telah menyela..” aku
belum sempat menyelesaikan kata-kataku saat laki-laki itu dengan tiba-tiba
memukul keras punggungku, mengakibatkan sakit yang teramat sangat.

Aku berteriak, “Itte!!!”

“Dasar lembek!”
teriaknya geram, “Hey Shiro! Kau susah-susah dengan komat-kamit anehmu itu
menyuruhku datang kemari, ke dunia bobrok bau ini untuk orang seperti ini?
Orang lembek ini? Jangan bercanda!” serunya sambil tersenyum kesal.

Shiro, maksudnya mungkin gadis cantik dengan iris emas yang
sejak tadi menutup mulutnya, dan sepertinya tidak berniat bicara itu terlihat
kaget, mengerutkan alis matanya kemudian menghela nafas, menatapku lagi dengan
tatapan lesu dan menggelengkan kepalanya.

“A..Apa?” tanyaku sembari merintih, “Apa maksud..”

“Sudahlah! Jelaskan semuanya di luar! Di sini bau sekali!”
kata laki-laki itu lagi sambil memikulku di bahunya dan berjalan keluar pintu,
“Kita pergi!”

“O..Oy! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!” seruku memukul
punggung laki-laki itu, kemudian menatap Chizue, “Hey Chizue tolong aku!”

“H..Hey Tuan.. mau bawa Hosaka kemana?” tanya Chizue gugup
sambil mendekati laki-laki itu, “T.. Tuan Suzaku..”

“Tuan?”

Laki-laki itu berbalik ke arah Terra-Oni dan tersenyum
sinis, “Kali ini kalian takkan kutuntut. Bersyukurlah pada Suzaku-sama yang
baik ini.” serunya lalu mengayunkan tangannya, menciptakan angin keras yang
menerbangkannya, dan gadis itu.




“Hosaka!” teriak Chizue sambil
melompat dan meraih bawah jubahku.

Aku dan Chizue dibawa dua orang
misterius itu keluar istana, keluar dunia roh hewan, ke atas langit dengan kabut
berawan putih pekat misterius dan berhenti di sana, melayang di atas awan.

“Nah, sekarang buka bajumu!”
seru laki-laki yang dipanggil Suzaku-sama itu sambil menurunkanku dari
gendongannya, “Bau busuk dunia itu akan mencemari keindahan dunia dewa. Bau
penuh kelicikan dan kebencian itu. Ini kali kedua dan terakhirku pergi ke sana!”

“Apa? Lalu pakaianku?” seruku
kaget, “Lagipula, siapa kalian? Seenaknya mengaturku dan nggak ngejelasin
apapun.”

“Oi bocah. Sekali lagi kau
katakan hal seperti itu lehermu sudah ada di lemari Yuki-Onna* sebagai souvenir,”
kata Suzaku sambil melempar satu set kimono, “Tentu saja kau harus berpakaian
sopan. Kau pikir dirimu telanjang lebih baik dari aroma busuk? Mattaku!”

Ettou, Tuan Suzaku, Nona Shiro, bisakah kalian menjelaskan apa
maksud semua ini?” tanya Chizue, muncul dari belakangku.

Perempuan itu, Shiro, tampak
terkejut sekaligus lega begitu melihat Chizue.

“Ta-Nu-Ki! Beraninya kau
membuntuti kami! Kau membuatku terpaksa harus membawamu kembali ke sana karena
aromamu sama sa..” seru Suzaku mengendus-endus sembil mengangkat Chizue
kemudian terdiam, “kau.. bersih..” katanya kemudian menurunkan Chizue, “untuk
ukuran roh hewan baumu sangat unik.”

“Terima kasih. Jadi?”

“Hng? Kalau soal itu, aku nggak
tau. Tanya Shiro! Dia yang memaksaku menjemput kalian ke dunia bau itu.”

“Shiro?” tanyaku sambil menatap
perempuan yang sedari tadi bungkam itu sambil mengerinyitkan alisku, “Jika aku
tidak salah, bukankah Shiro.. eh.. Shiro-san.. yang membawaku kemari?”

Suzaku terkejut kemudian
menatapku lekat-lekat, “Membawamu?!”

“eh.. i.. iya.. “ jawabku gugup.

Suzaku berbalik menatap Shiro
dengan tatapan marah, kecewa, gusar namun nampak sedih. Shiro pun demikian. Matanya
begitu redup dan tangannya bergetar.

“Shiro!” teriak Suzaku sambil
menyentuh pipi Shiro dengan tangan kanannya, kemudian ia terkejut dan alisnya
berkerut, ”kau.. kau harus menjelaskan semuanya..”

Shiro tampak terkejut kemudian
menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana pun caranya!” seru
Suzaku lagi kemudian menengadahkan telapak tangannya, “Sudah selesai kan? Ayo
kita turun.” katanya, kemudian pusaran angin muncul di bawah kami, menembus
awan dan membawa kami ke distrik utara, dunia dewa.

Kami mendarat di halaman sebuah
rumah besar yang sepi. Tampak ornamen dan suasana jepang kuno pada taman luas
tersebut. Rumahnya berupa rumah-rumah klasik jepang dengan kayu harum yang
khas. Atmosfer yang melambangkan orang yang tinggal di sana adalah orang tua,
pikirku pada mulanya.

“Kucchan?”

Obaa-san..” kata Suzaku sambil mengerinyitkan matanya, “Sudah
kubilang berhenti memanggilku seperti itu..”

Onee-chan Suzaku sayang..” Pintu terbuka dan seorang perempuan
cantik mengenakan kimono yang begitu indah dan membawa sebuah biwa duduk di dalam ruangan, “Ara, kau membawa tamu yang unik.”

‘Cantiknya.. Sasuga dewi dari dunia dewa.’ pikirku, “Maaf
mengganggu,” kataku sambil membungkuk. Tiba-tiba seekor ular putih melilit kaki
dan memanjat naik ke bahuku, “Hee!!! Apa ini?! Suzaku-sama! U..Ular ini!!”

“Heeh itu peliharaannya, nggak usah
dipikirin.” seru Suzaku sambil duduk di depan ruangan tempat perempuan itu
duduk, “Jadi bagaimana?”

“Ngg.. Sangat.. jujur..” kata
perempuan itu sambil tersenyum kemudian keluar dan duduk di samping Suzaku, “Kalau
Shicchan datang kesini, biasanya ada masalah ya?”

“Oi.. Ularnya..” kataku sambil
menatap Chizue, “Apa ini Chizue? Tolong aku!”

“Tenang, jika aku tidak salah,
ular putih, dan biwa itu, ia adalah
salah satu dari dewa-dewa utama, Benzaiten**-no-Kami..” jawab Chizue tenang, “salah
satu dewi kemakmuran, kurasa.”

“Tepat.” jawab Benzaiten sambil
tersenyum, “Jadi kali ini masalah apa?”

Aku sekilas menatap Shiro yang
tak henti-hentinya menarik nafas, memainkan jari-jarinya, dan merenung, “Ia
seperti anak-anak walaupun penampilannya seakan seumuran denganku,” pikirku.

“Ngg.. Aku juga kurang paham. Karena
itulah aku membawa mereka padamu neesan.
Kalau itu neesan, neesan pasti bisa mengetahui secara
langsung, kan?”

“Kucchan jangan merayuku!” seru
Benzaiten sambil tersenyum, jadi kira-kira, anak ini ya?” tanyanya sambil
menatapku, “kemarilah sebentar..”

Ular putih itu turun dari
tubuhku dan aku berjalan menuju Benzaiten, “Permisi.”

Benzaiten menyentuh pipiku,
memejamkan matanya, membukanya, kemudian tersenyum, “Anak baik.. Tapi, kamu..
sedih ya..” Benzaiten mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik, “Hacchan?”

Aku terbelalak kaget, “Benzaiten-sama..
darimana.. kau tau..”

Sementara itu, di istana
Terra-Oni di distrik timur, budak-budak Terra-Oni tengah membersihkan kekacauan
yang ditimbulkan Suzaku di ruang tamu. Terra-Oni duduk di singgasananya,
memegang kimono budak bernomor 14 milikku sambil tersenyum senang.

“Tuanku..” kata Nagini sambil
melilit leher Terra-Oni pelan kemudian membaui kimono itu, “Mengapa tuanku
menghentikan saya? Jika tuanku tidak menghentikan saya saat itu, saya bisa
membunuh penyusup itu dan Kaze-no-Kami*** takkan bisa mengorek informasi
darinya. Tapi kenapa?”

“Nagini..” kata Terra-Oni pelan,
“Begitu aku masuk ke ruangan ini, bau dan aura anak itu sudah membuatku
tertarik. Manusia itu.. dan auranya yang lembut namun kuat itu..” katanya
pelan.

“Tapi tuanku..”

“Hng?”

“Ah tidak.. Hanya saja
sepertinya semenjak Terra-Ryou-sama meninggal, tuan terlihat..” Nagini
menghentikan kata-katanya, “lebih bebas..”

Terra-Oni tersenyum, “ Ada masa
ketika seseorang berubah. Perubahan itu terjadi seperti aliran air yang bisa
berpindah dengan mudah, seperti halnya angin.” kata Terra-Oni, “Salah satunya
penyebabnya, adalah cinta. Ya, anak itu..”

“Begitu ya.. Saya penasaran apa
yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang mendorong manusia untuk sebegitu
memperjuangkan hidupnya dan datang ke dunia dewa, dan meluluhkan hati dewa
sehingga meluruskan jalannya?”

“Ya.. Aku juga ingin tau.. Semua
orang punya alasan mereka masing-masing. Entah baik, entah buruk. Dan alasan-alasan
itu dapat mempertaruhkan segalanya yang mereka miliki. Jadi untuk saat ini,
kita hanya bisa melihat sampai mana mereka bisa mendorong harapan mereka,”
jelas Terra-Oni kemudian menguap, “Sudahlah Nagini. Itu bukan urusan kita lagi.
Sebaiknya kau rapikan kimono-kimono buatan Inoue**** itu dan tata gudang
pakaian. Aku tak ingin ada tamu lain yang berkomentar tentang istanaku.”

Nagini terkekeh, “Baik tuanku.”



-End of Chapter 5- 


Keterangan Tambahan:

*) Yuki-Onna: Seorang ayakashi
mitos yang dilambangkan sebagai perempuan salju. Bukan dewa tapi ayakashi yang
tinggal berbaur di dunia manusia.
**) Benzaiten: Dewi ini
sebetulnya berasal dari india, yang bernama sarasvati. Di kenal sebagai dewi
pencemburu dan ia membawa alat musik bernama Biwa serta di tubuhnya selalu di lingkari ular berwarna putih. Ia
melambangkan air dan melindungi para pelajar, musik, seni dan ilmu pengetahuan.
***) Kaze-no-Kami : Dewa angin.
Maksud Nagini adalah Suzaku.
****) Inoue: Nama panjangnya
Terra-Inoue, isteri dari Terra-Oni yang membuat semua kimono yang
diperkenalkan, eh, dicuri Hosaka ^o^)7


PS:

Maaf kesannya singkat #tapi
entah kenapa di list saya Cuma segitu scenenya, soale di scene selanjutnya ya
*psst* *psst*

Mohon kritik saran :”D Maaf
ilustrasinya ngadat soalnya ngga sempet ngambar lagi saking sibuknya aaaa TAT

Kakak, untuk scene terakhir
waktu Terra-Oni megang kimono-nya itu di kata-kata dibilang “milikku” atau “milik
Hosaka” ya? Saya masih bingung soal penulisannya ini :”D saya pikir kalau saya
tulis milikku ntar serasa Hosaka ngeliat Terra-Oni-nya megang gitu.


READ MORE
Hotaru Chapter: 5 | Kemudian.com

No comments:

Post a Comment