Saturday, 15 February 2014

[NOVEL] Hotaru Chapter: 4

-Part 4-

“Everyone has their
own reasons. Whether good or bad.  And those
reasons could cost everything one had. So for now, let’s just see how far they could
push in their hope,”

Matahari dunia roh sama panasnya dengan yang ada di dunia
nyata. Kilauan sinarnya seakan-akan bergerak sendiri, berbentuk seperti daun
dengan warna keemasan dan terbang bebas mengitari langit yang menjelang siang.
Langit-langit ruang tamu Terra-Oni yang terbuat dari kaca mengantar sinar-sinar
itu masuk dan dengan nakalnya mereka bermain kejar-kejaran di sekelilingku,
mengundang keringat untuk keluar dari sekujur tubuhku. Panas.

Aku sudah berdiri di hadapan Terra-Oni selama kurang lebih 2
jam, menjelaskan pakaian yang disediakan Chizue satu per satu mulai dari jenis
kain hingga sejarahnya yang hampir semuanya adalah karanganku. Namun tak ada
satupun pakaian yang menurutku sangat berkualitas itu menarik baginya.
Terra-Oni. Sang penguasa distrik roh hewan dan pengidap fanatisme pakaian
pertama yang pernah kutemui. Selang 2 jam itu yang ia lakukan hanya menguap dan
mengeluh. Mencercaku dengan kantuknya.

“J..Jadi, kain yang baik adalah kain yang tidak berbau,
menyerap keringat, dan memiliki tekstur yang lembut sehingga nyaman digunakan,”
kataku sambil memperlihatkan sebuah kimono keemasan dengan bordiran bunga putih
di tepiannya, “salah satu kimono yang berkelas untukmu, Terra-Oni. Dan aku
yakin kau akan terlihat cocok dalam kimono ini, lebih dari kimono-kimono yang
sudah kutunjukkan sebelumnya.”

Terra-Oni menguap, mengusap matanya dan membenarkan kacamata
yang terpampang di mata kanannya untuk melihat lebih jelas, “Benarkah?”

“Y..Ya..” jawabku sambil mengangguk, “Emas merefleksikan
aura kehormatan seorang kaisar, i..iya kan Chizue?”

Chizue, dengan tampang datar dan mata yang hampir tertutup
mengangguk pelan kemudian bersin, “Hatsyii! Maaf, teruskan.” katanya sambil
mengusap hidungnya.

“Jadi, apa kimono ini menarik minatmu?” tanyaku pelan sambil
tersenyum jengkel, ‘Tanuki yang
sangat plin-plan!’ pikirku.

“Hng.. Semuanya sangat bagus. Tapi apa ya? Sepertinya ada
sesuatu yang kurang,” kata Terra-Oni sambil melambaikan kaki depannya ke arah
kumpulan kelinci di pojok ruangan. Dengan segera kelinci-kelinci itu membawakan
kue-kue khusus untuknya.

Terra-Oni melanjutkan omelannya dengan kue-kue memenuhi
mulutnya, “Aku punya kain yang bisa berganti warna,” katanya dengan suara yang
berkecamuk dengan kue-kue itu kemudian menelannya,”sesuai dengan kehendakku
dengan aroma yang tak kalah dengan aroma cendana. Dibandingkan dengan kainmu
Tuan Hosaka, salah satu usagi di sana
pun akan merasa ogah mengenakannya.” Terra-Oni menunjuk salah satu kelinci yang
membawa poci sementara kelinci itu dengan gelagapan mengangguk-angguk.

‘Kalau begini terus kapan selesainya,’ pikirku sambil
menelan ludah dan mengusap keringat yang mengucur di dahiku, “Terra-Oni, jika
dari sekian pakaian tidak ada yang ­­menarik minatmu, maka dengan berat hati
aku harus meminta maaf atas perkataanku sebelumnya,” kataku sambil melipat
kimono emas barusan dan memasukkannya ke dalam kardus, “mungkin di kunjunganku
yang kan datang akan ada pakaian-pakaian baru yang lebih memikat hatimu..
mungkin?”

Terra-Oni mengejap-ejapkan matanya, mengendus-endus kemudian
tersenyum, “Menarik! Sungguh dewa yang menarik!”

Chizue tersentak kaget, “Apa ada masalah Tuan?”

“Hey kucing, kau memiliki tuan yang menarik! Ini kali
pertamaku bertemu dewa dengan wajah konyol dan tingkah meragukan seperti anda,
Tuan Hosaka. Atau sebaiknya kupanggil Hosaka saja, ya?” kata Terra-Oni sambil
tersenyum licik, “Ada masalah, Hosaka?”

“Maaf?” tanya Chizue lagi.

Seekor ular melata ke bahu Terra-Oni, berbisik kemudian
melilit leher Terra-Oni membentuk syal, “Sudah kuduga. Kalian menyembunyikan
sesuatu.”

‘Ketahuan!’ pikirku dan Chizue serentak. Aku melangkah
mundur dan menarik napas pelan, “Apa maksudmu menyembunyikan sesuatu?”

“Maksudku?”

“Kau menghinaku?” kataku, menaikkan volume suaraku.

“Oh bukan! Aku akhir-akhir ini kekurangan hiburan, itu saja.
Jadi anggap yang tadi itu lelucon, Hosaka.”

“Lelucon yang tidak lucu. Apa kau marah karena kami membawa
pakaian yang kurang memenuhi seleramu?”

“Pakaian-pakaian itu,” Terra-Oni menatap kardus di samping
kiriku, “hanya kamuflase, kan?”

Chizue menelan ludahnya, ‘Ini berbahaya! Aku tak menyangka
ia akan membongkar kedok Hosaka semudah ini hanya dengan mengamati tingkahnya. Sasuga penguasa distrik timur.’ pikirnya
sambil melangkah mendekati Terra-Oni, “Maaf tuan, tapi barusan tuan secara tidak
langsung telah mengutarakan hal yang kurang berkenan bagi majikan saya. Jika
memang saya atau majikan saya mengecewakan anda, saya mewakili beliau meminta
maaf yang sebesar-besarnya.”

“Iya, kalau begitu saya juga minta ma.. Ah!” seruku kaget
karena Chizue tiba-tiba menginjak kakiku, “Apa?” bisikku lirih.

“Diam!”

“Jadi sekarang apa yang akan kalian lakukan tuan-tuan? Minum
teh?” tanya Terra-Oni, menjentikkan jarinya dan dengan ajaibnya sebuah poci teh
terbang dan menuang teh ke cangkir-cangkir kecil yang juga bertebaran, “atau..”
Terra-Oni menahan kata-katanya, “kembali ke konveksi?”

Aku bergidik, ‘Ah.. Ketahuan..’ pikirku.

“Konveksi.. Tuan? Berhentilah berkelakar karena kami serius
disini.” kata Chizue sambil menggerakkan ekornya.

Tiba-tiba ular syal Terra-Oni
melompat dan menyibakkan jubah yang dikenakan Chizue, “Tepat. Nomor 13,”
katanya, “Baruta mengatakan bahwa ada 3 ekor budak yang melarikan diri tadi
pagi. Dan sepertinya kau adalah salah satunya.”

Terra-Oni menguap, mengendus-endus lagi, “Kerja bagus
Nagini. Dan kau Hosaka, mungkin salah duanya?”

‘Tepat,’ Chizue tersenyum prihatin dan menatapku, ‘sekarang
bagaimana?’

‘Ah, mati sudah.’ Aku menggelengkan kepalaku ke arah Chizue.

“Aku menunggu jawabanmu tuan-tuan. Kelihatannya,” kata
Terra-Oni kemudian menatap seekor serigala yang ditarik beberapa babi
menggunakan rantai api masuk ke ruang tamu sambil tersenyum, ”mereka sudah tak
sabar untuk makan siang.”

“Serigala.. Api..” bisikku lirih, “Terra-Oni.. Akan
kujelaskan semuanya,”

Pintu terbuka lebar dan Baruta, Sang Babi Ketua Perbudakan
terengah-engah memasuki ruangan, “Ternyata benar, mereka orangnya!”

“Maaf. Pernyataan itu mengungkapkan bahwa KAU adalah seorang
BUDAK dan budak tak punya hak untuk bercengkrama dengan Tuanku! Beraninya
kalian menyusup ke Istana!” kata Nagini sambil menjilat pipiku kemudian
terkejut, “I..Ini!”

Terra-Oni tersenyum dan menepuk pelan kepala Nagini,
membuatnya jatuh tertidur di bahunya, “Cepat. Mulai pertunjukannya.” katanya
kemudian usagi serta hewan pelayan
lainnya berhamburan keluar dari ruangan, sementara babi-babi yang menarik
rantai serigala api melepas rantai tersebut dan dengan cepat serigala itu
menerkam, melahap habis seekor babi.

“Chizue..”

“Aku tau!” seru Chizue sambil memunculkan api-api kecil di
sekeliling kami, “Akan kuusahakan untuk mengalihkan perhatiannya. Kau harus
lari!”

“Apa?”

“Lari..”

Aku bergidik dan melangkah mendekatinya, “Maksudmu lari? Kau
bilang akan meninggalkanku jika keadaan sulit kan? Kau punya tujuan kan? Jangan
putus asa semudah itu!”

“Tapi aku tak ingin hal yang sama terjadi padamu..
Percayalah Hosaka.. Aku tak ingin kehilangan..” Chizue menatapku sekilas
kemudian mengibaskan ekornya, “temanku lagi.”

“Chizue!”

Chizue melompat dan menerkam serigala itu. Ia melompat ke
punggungnya dan menyalakan bola-bola api melilit tubuh sang serigala, sementara
serigala itu mengeram dan mengibaskan ekornya, mengarahkan api biru ke
punggungnya.

‘Bagaimana ini?’ pikirku seraya melihat ke arah pintu yang
tertutup rapat, ‘Apa yang harus kulakukan?’

‘Lari!’ pikir Chizue sambil menatapku tajam.

“Tidak! Mana mungkin aku bisa lari meninggalkan temanku! Apa
maumu bodoh!” teriakku sambil melempar kardus berisi kimono dengan aroma-aroma
mereka yang menyengat ke arah serigala itu. Kimono bertebaran menutupi
wajahnya, dan salah satunya adalah kimono putih polos milikku, pakaian budak
yang kucuri.

‘Hngg..’ pikir Terra-Oni sambil tersenyum.

Serigala itu berhasil melepas semua kain yang menutupi
wajahnya dan dengan marah menyerangku, mencabik lengan baju kananku dan
melukaiku, “Itte!!” seruku.

“Hosaka!” seru Chizue sambil mencakar mata kiri serigala
itu, membuatnya mundur dan dengan segera Chizue memeriksa tanganku, “Sial,”
katanya sambil berbalik.

Tiba-tiba, angin keras mendobrak pintu gerbang hijau yang
semula tertutup rapat  dan di baliknya,
seorang laki-laki muda sekitar seusiaku dengan rambut urak-urakan berwarna scarlet mengarahkan tangannya ke arah
serigala itu, “Menyingkir pecundang..”

Entah, apa yang terjadi saat itu. Api-api yang memenuhi ruangan
meredup seolah ketakutan. Semua pelayan Terra-Oni membisu, termasuk Terra-Oni
sendiri. Keringat mengucur dari wajah mereka. Sementara serigala itu terbujur
kaku, seperti roh yang baru saja d

ikutuk menjadi batu. Kemudian, seorang gadis
dengan rambut hitam berkelebat muncul dari belakang laki-laki itu, membuka
matanya dan memperlihatkan iris mata emasnya yang masih melekat erat di
ingatanku.




‘Gadis itu..’ pikirku.

Terra-Oni, di antara keheningan
yang mencekam dengan aura yang menusuk dingin itu tersenyum, seolah ia telah
mengerti semuanya.

-End Of Chapter 4-

READ MORE
Hotaru Chapter: 4 | Kemudian.com

No comments:

Post a Comment