Sunday, 20 April 2014

[INTERPRETATION] BE THE LIGHT - ONE OK ROCK

BE THE LIGHT - O N E  O K  R O C K


A. LYRIC

I.
Just the thought of another day
How did we end up this way?
What did we do wrong?
God

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

You can touch the sorrow here
I don’t know what to blame
I just watch and watch again
Oh..

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

REFF:
You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that was lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
Oh..
Be the light

II.
Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

Anyone can close their eyes
Pretend that nothing is wrong
Open your eyes
And look for light
Oh..

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

Yeah, yeah...
  
REFF:
You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that was lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
Oh..
Be the light

“Some days just pass by and some days are unforgettable.We can’t choose the reason why.But we can choose what to do from the day after.So with that hope, with that determination,Let’s make tomorrow a brighter and better day”


B. INTERPRETATION

The Interpretation of the Song “BE THE LIGHT”:
            This song is about a person, in this content the writer of this song, who encourages other people to be able to move forward from the obstacles of life. Described in this song is, keep strong to overcome the disaster caused by the nature.

The happy days were just like yesterday and after that the disaster came out of nowhere, destroyed their hometown. They refers to the people who lived on that area, asked God about their faults which eventually make Him punished them as they were. The people can’t move forward, even though that disaster already passed for quite a long time. They couldn’t endure the merciless memories, and pain. There are people who closed their eyes, as if nothing was wrong. But actually, they were hurt deep down inside. The writer told them to open their eyes and even though the world was pitch black, don’t ever stop to look for the shred of light.

The disaster left only painful memories, and took away everything, washed up into pieces. Those people who came back alive from the disaster were personified as people who came back from hell. The image of hell, where so many lives were lost along with it, was a thing nobody could ever forget. But then, they have and must realize that whatever happen, wherever they go, the time won’t stop so they have to keep moving forward. Recovery may be long, but with a brave heart to stay strong and keep moving on, they tend to overcome all those darkness with their head held high up.

On the part which said,

Yesterday’s night turns to light.
Tomorrow’s night returns to light.
Be the Light..”

Night means the end of the day, and nighttime is always described with dark. Changing yesterday’s night into light means, we should turn all bad and sad thing which had happened yesterday into light and happiness for the day after, and continuously towards the next days for the rest of our life. “Be the light” means become a light, the source of hope toward every darkness, sadness, and tears in life which will give happiness to others.


            The last part is a poem (not a ‘sing able’ lyric) of the song which mainly is a message that tell us to choose what to do for the day after. Either it will be a happy day, or a day which will just pass by. With that hope and determination, let’s make tomorrow a brighter and better day.



**** Hope This Help ****

Sunday, 16 March 2014

KIK! Me :3

Click here to chat with me on Kik!: My username is sylphermizt on Kik Messenger, the crazy-fast, free, mobile messenging app. Click the link to chat with me!

Saturday, 8 March 2014

[NOVEL] Hotaru Chapter: 6

-Part 6-

“To believe in others
is one proof that oneself has heart.”


“Ha.. Hacchan?” tanya Chizue sambil melompat ke bahuku,
“Namamu? Haiku Hosaka kah?”

“Apa maksudmu haiku?
Kau kira aku puisi?”

“Sudahlah nee-san. Emang
kenapa namanya? Aneh kah?” tanya Suzaku heran kemudian menepuk kepalaku, “Sebuah nama adalah berkah dari orang tuamu! Kau harus mensyukurinya!”

E.. Ettou.. hai..”

Soreyori nee-san, jadi gimana? Anak ini kenapa?”
tanya Suzaku lagi.

Shiro bersin, mengendap-endap ke arah pintu halaman kemudian
pergi ke luar rumah Benzaiten.

“Oi.. Shiro!” teriak Suzaku, hendak mengejarnya.

“Kucchan, diamlah di sini. Biar Hacchan yang mengikutinya.”
kata Benzaiten pelan sambil mengelus ular putihnya.

“Tapi..” kataku ragu.

“Cepat Hacchan. Kau akan kehilangan jejak kenari itu!” seru
Benzaiten lagi diikuti desis marah ular putihnya.

“H..Hai..” seruku, berlari keluar rumah Benzaiten bersama
Chizue.

 “Ah.. hontou ni..”

“Apa?” tanya Suzaku pada Benzaiten, “Aku yakin neesan, ada sesuatu yang ingin kau
katakan padaku, kan?”

“Hmm, aku akan mengatakannya Kucchan. Hanya jika kau mau
melakukan sesuatu untukku,” jawab Benzaiten, memetik salah satu senar biwa-nya lagi, “dan aku yakin kau akan
melakukannya.”

Aku berlari keluar halaman bersama Chizue, mengejar Shiro
yang ternyata tidak begitu jauh dengan pintu gerbang rumah Benzaiten. Ia memainkan
jari-jarinya, nampak ragu.

“Apa yang kau lakukan?”

Shiro menggelengkan kepalanya, berjalan ke belakangku dan
mendorongku ke arah sebuah jalan besar tempat beberapa lampion terpasang.

Tsukuyomi-no-Machi*,’
pikirku, melihat tulisan kanju yang terpampang di sebuah palang di sudut jalan
itu.

“Ini..” seru Chizue terkejut dengan mata berbinar-binar,
“Kalau tidak salah sebulan ini, masyarakat dunia roh merayakan festival bulan
baru..”

Lampu-lampu berbagai warna yang gemerlap memenuhi ruas jalan
besar dengan hiruk pikuk selayaknya pasar tradisional. Genderang bertalu-talu,
mengikuti alunan musik klasik khas Jepang yang meriah. Beberapa dewa terlihat
mabuk di sebuah kedai, beberapa lagi menonton pertunjukkan tari, ada yang
menghias rumahnya dengan mewah, dan beberapa dewa dengan postur seperti anak
kecil berlarian sembari menebar bunga-bunga kuning, lambang emas dan kekayaan.

“Festival yang mewah,” kataku sambil berjalan di antara
kerumunan ramai perayaan itu, “Shiro, ayo kembali..”

Shiro menggelengkan kepalanya, menatapku dengan geram
kemudian menunjuk ke sebuah kedai makanan yang ada di seberang jalan. Raut
wajah polosnya merengut, seakan-akan memaksaku untuk pergi ke kedai itu.

“Tapi aku tak punya uang.. Tapi tunggu dulu.. di sini kita
memerlukan uang juga?”

“Tidak.. Kau membayar menggunakan keterampilan,” jawab Chizue
sambil melambaikan ekornya, “Dewa sangat menyukai hal-hal unik dan indah, sehingga
kebahagiaan menurut mereka adalah yang utama. Kau bisa menghibur mereka untuk
memperoleh hal lain, seperti barter.”

“Aneh..” gumamku sambil menatap Shiro, “Jadi apa yang harus
kulakukan?”

Shiro berlari, tersenyum kepada dewi penjaga kedai yang
mengenakan bandana sutera dan pakaian kimono luar biasa indahnya. Nampaknya, ia
tak bermaksud membeli apapun. Pandangannya yang polos tertuju kepada dewi yang
menjaga kedai itu. Dewi itu sedang menyapu dan merapikan kursi yang berjejer di
sekeliling meja-meja kecil di depan kedainya, sampai Shiro menghampirinya.

Ara..Shiro-chan! O Hisashiburii desu ne!** Kau sehat?”

Shiro mengangguk dan tersenyum, mengedipkan matanya yang berbinar
seolah mengatakan ‘Ia sehat.’

“Shiro..” kata dewi itu terkejut kemudian hendak menyentuh
pipi Shiro, tapi Shiro menghalau tangannya, “.. Shiro..”

Shiro meringis pelan kemudian meletakkan telunjuknya di
depan bibirnya. Kemudian ia menoleh kepadaku sambil melambaikan tangannya,
tersenyum lebar.

“Hey Chizue.. Semenjak tadi aku penasaran,” kataku menatap
Chizue.

“Ya aku juga..” jawab Chizue seolah sudah tahu apa yang ada
di pikiranku, “Shiro bukannya tidak bisa bicara sejak awal. Ia.. kehilangan
suaranya.. mungkin..”

Seorang dewa yang terkesan tua lewat di hadapan Shiro,
terkejut, meletakkan dagangannya di tanah dan memeluk Shiro erat, “Shiro! Yokatta! Kau tak tau betapa khawatirnya
aku semenjak sebulan lalu! Kau ke mana saja? Orang-orang kuil sangat
merindukanmu!”

Shiro mendorong kakek itu, bernapas lega kemudian tersenyum.
Ia menggeleng kemudian menggerakkan jari-jari tangannya seakan ingin
mengatakan, ‘Aku tidak bisa bicara sekarang,’

“Ngg? Ada masalah dengan suaramu? Kalau begitu, setelah
kondisimu membaik datanglah ke kuil! Akan kulayani dengan sake terbaikku!” kata
sang kakek kemudian mengangkat barang dagangannya lagi, “Kalau begitu aku
duluan. Perayaan hampir  mencapai
puncaknya! Ingatlah untuk datang ke Kuil Tsukuyomi besok. Sampai jumpa ya!”

Shiro melambaikan tangannya ke arah kakek itu, tiba-tiba
tersentak kaget dan menatapku, melambaikan tangannya lagi seolah memanggilku. Tapi
kali ini wajahnya terlihat menggerutu.

“Ayo Chizue..” kataku sambil terkekeh menanggapi tingkah
Shiro dan berjalan ke arahnya.
Shiro menepuk pundak dewi penjaga kedai permen tadi kemudian
mengarahkan tangannya padaku, seolah memperkenalkan dewi itu.

“Oh.. Aku Kazuha Kurawari.. Salam kenal.. er..” kata Dewi
itu, Kazuha, menjulurkan tangannya hendak menyalamiku, “..namamu?”

“.. Aku Hosaka.. Salam kenal..” jawabku, menjabat tangannya.

Begitu menyentuh tanganku, Kazuha terkejut dan menatapku
heran, “Kau.. aneh..” katanya.

Ettou.. “ kataku
ragu sambil tersenyum, “Aneh maksudnya?”

“Ngg.. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Kau baru di sini?”

“Iya.”

“..Kau siapanya Shiro-chan?”

‘Kau diinterogasi.’ pikir Chizue terkekeh sambil menatapku.

“Aku hanya..” kataku ragu kemudian menatap Shiro. Kembali
aku teringat saat Shiro menciumku dan mendadak wajahku memerah, “hanya
temannya.”

Mata Shiro sebelumnya berbinar, seolah ia mengharapkanku
mengatakan sesuatu yang terkesan lebih spesial. Kemudian, setelah mendengarku
menjawab ‘teman’ wajahnya langsung merengut.

“Oh begitu..” jawab Kazuha kemudian menguap, “Oh ya.. Ne.. ne.. Shiro-chan, untuk menyambut
kedatangan teman barumu, bagaimana kalau Shiro-chan nyanyi?”

“Eh? Menyanyi? Shiro?” tanyaku heran kemudian menatap Shiro.
Shiro diam, memainkan jari-jarinya kemudian ‘memasang’ wajah
memelas dan menggelengkan kepalanya.

“Kau tak tau? Shiro-chan itu kenari distrik dewa lho..” kata
Kazuha, tersenyum bangga.

“Kenari?” kata Chizue pelan, “Maksudmu Shiro biasa nyanyi?”

“Ya.. Suara Shiro-chan sangat indah. Tapi aku heran, semenjak
dua bulan lalu Shiro-chan nggak pernah kelihatan,” Kazuha menatap Shiro, “Seperti
kata Tenjin-sama, Shiro-chan, kau ke mana saja?”

Shiro diam dan menunduk. Aku merasa tangannya bergetar dan
ia hendak menangis. Tiba-tiba Shiro melompat, menepuk pipinya, dan mengambil
sebuah koto*** dari lemari kecil di dalam kedai Kazuha.

“Eh? Mau kau apakan koto itu ne?

Shiro menyerahkan koto itu padaku kemudian duduk di salah
satu kursi yang terjejer di depan kedai.

“Kau ingin aku memainkan koto ini?” seruku kaget, “tapi
aku..”

Shiro menatapku dengan penuh harap kemudian mengangguk.

“Tapi..”

“Mainkanlah Hosaka..” kata Kazuha, menepuk pundakku, “anggap
saja sebagai salam perkenalan. Jika permainanmu bagus, akan kuberikan benda
yang bagus juga.”

Hee?” gumamku
pelan, “..Baiklah.. Tapi aku masih pemula..”

Koto. Alat musik yang identik dengan ibu. Ibu dulu selalu
memainkannya setiap malam bulan purnama. Seperti hari ini di dunia roh.

‘Apa ibu akan memainkannya hari ini? Aku ingin tahu,’
pikirku pelan kemudian meletakkan koto itu di depanku, sembari duduk bersimpuh
di tanah, menghela napas dan mulai memetik senar-senar pada koto tersebut, ‘Semoga
ibu bisa mendengar permainanku, di mana pun ibu berada. Lagu ini.. Lagu yang
selalu ibu nyanyikan untukku, Haru no Umi..’

Dunia itu, dunia roh adalah dunia yang penuh hal-hal luar
biasa. Karena itu aku tak heran saat percikan keemasan memancar, mengelilingiku
seiring jari-jariku memetik senar dengan irama. Dewa dewi yang sebelumnya hiruk
pikuk dengan kegiatan mereka, satu per satu mendekat untuk melihat permainanku.
Selang lima menit berlalu, kubuka mata dan kuakhiri
permainanku. Aku terkejut. Begitu banyak orang berkumpul di sekelilingku, riuh,
berdecak kagum, dan menepuk tangan.

“Uuh.. Hosaka.. Kau luar biasa!” seru Kazuha berderai air
mata haru dan memelukku, “Indah sekali! Kau harus sering melakukan pertunjukan
keliling! Harus!”

“Eh.. Syukurlah kau menyukainya..” kataku gugup. Dewa-dewa
lain masih berkerumun dan menyalamiku, menyambutku sebagai anggota baru mereka.

Di dalam kerumunan itu, aku tak menemukan sosok Shiro dan
Chizue, “Shiro?” panggilku, “Chizue?! Di mana kalian?”

Tak ada. Mereka tidak ada di sana. Keramaian mulai mereda
seraya para dewa kembali melaksanakan aktivitas mereka.

“Hosaka?” tanya Kazuha sambil menoleh ke arahku, “Kenapa?”

“Mana Shiro?” tanyaku gugup, “Tadi aku rasa dia duduk di
sini. Bersama Chizue..”

Kazuha mengambil cangkir kotor
yang ada di salah satu meja kedainya, mengernyitkan alisnya, “Kenapa? Kau tak
harus selalu bersamanya kan? Shiro-chan bukan penghuni baru di sini. Ia takkan
tersesat! Paling nanti juga Shiro-chan akan pulang ke rumahnya, seperti biasa.”

“Oh..” kataku pelan, “T..Tapi..”

“Kau khawatir?” tanyanya lagi
kemudian menyentuh daguku, “Jangan bilang kau menyukainya?”

“Eh..” seruku kaget, “B.. Bukan
itu maksudku..”

“Aku tahu, aku tau. Kau terlihat..
“ Kazuha berbisik di telingaku, “ masih perawan, ya?”

“Eh?!”

Kazuha tersenyum sambil menepuk
dahiku, “Dasar! Kau terlalu mudah untuk ditebak!”

“Kazuha-sama.. “ kataku dengan
wajah memerah.

“Tapi,” Tiba-tiba ekspresi wajah
Kazuha berubah, “jangan sampai kau menyukai Shiro-chan, Hosaka. Karena ada
orang lain yang lebih, lebih mencintainya hingga mempertaruhkan segalanya.”

Aku tertegun. Kugaruk kepalaku
dan mengangguk, “Iya, aku tau.. aku tau..”

“Bagus.  Sekarang, bantu aku bersih-bersih dulu. Baru kau
akan kuantar ke rumah Shiro-chan,” Kazuha melirikku dengan sebelah matanya
kemudian tersenyum, “dan tentu saja imbalan atas permainanmu.”

“Y..Ya..”

Aku tak tau. Aku baru hari ini
bertemu dengannya, dengan Shiro.  Gadis seumuran
denganku yang tingkahnya terlihat masih kekanak-kanakan. Namun, sepertinya ia
menyembunyikan begitu banyak rahasia, begitu banyak hal pahit. Dan aku tahu,
salah satunya pasti menyangkut keberadaanku di sini.

‘Chizue sudah berada bersamanya.
Aku harus tenang,’ Kuambil koto itu dari tanah dan meletakkannya lagi di lemari,
‘Shiro, ya? Entah kenapa aku merasa, aku pernah bertemu dengannya di suatu
tempat. Shiro..’ pikirku sambil menatap rembulan.

“Shiro!” seru Chizue, melompat ke
arah Shiro yang duduk di sebuah lorong gelap cukup jauh dari Tsukuyomi-no-Machi, “K.. Kenapa..”

Air mata Shiro menitik
dan ia menyembunyikan wajahnya, “H..Ha.. Ha..” bisiknya lirih, tiba-tiba
tubuhnya bergetar dan ia semakin meringkuk menahan sakit, namun Chizue tidak
mendengarnya.

“O..Oi.. Shiro!”

Di rumah Benzaiten, Suzaku duduk
di tatami depan kamar Benzaiten sambil mendesah kecewa, menatap telapak tangan
kanannya, “Jadi begitu.. Dasar, Shiro bodoh!” katanya sambil mengepal tangan
kanannya, “Neesan, kalau sudah
begini, apa yang harus kulakukan?”

Benzaiten berhenti memainkan biwa-nya, menatap Suzaku lembut, “Tidak
ada.”

“Tapi kalau begini terus, Shiro..”

“Kau tak ingin melukainya, kan?
Inilah jalan yang Shicchan pilih. Inilah yang ia inginkan.” Benzaiten
mengarahkan tangannya ke langit, “Karena itu Kucchan, apa kau akan menghancurkan
harapannya demi menyelamatkannya, atau kau akan membuatnya bahagia, walau kau
tahu hal itu pun akan membunuhnya? Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku tau.. Aku tau.. Tapi, aku.. Kuso****!” seru Suzaku marah.

Sekelebat angin besar berhembus
di langit distrik dewa yang menjelang malam, melewati sebuah rumah dewa mewah
dan bertingkat. Seorang dewi dengan paras elok dan kimono keemasan yang mewah
duduk menatap langit, memperbaiki rambutnya yang terkena desir angin.

“Bulannya, indah sekali. Seperti permainan
koto sore tadi. Aku ingin tahu, siapa yang memainkannya?” katanya pelan sambil
tersenyum menatap bulan kemudian memainkan koto-nya dengan anggun, “Haru.. no Umi..”


-End Of Chapter 6-

Keterangan Tambahan:
*) Tsukuyomi-no-Machi : Sebuah jalan (yang saya buat
secara asal LOL) yang mencirikan dewa bulan/malam, Tsukuyomi :)
**) O hisashiburii
desu ne
: Lama tak berjumpa
***) Koto : alat musik khas jepang yang dimainkan dengan
cara dipetik.
****) kuso :
istilah jepang seperti sial dsb (saya sering denger di anime ^^”)

 
READ MORE
Hotaru Chapter: 6 | Kemudian.com

Thursday, 27 February 2014

[POETRY] Hati Seorang Prokrastinator

dalam hati aku mengerang
mengapa semua ini tertumpuk begitu saja?
mengapa semua ini menjejal tiba-tiba?
ya
aku prokrastinator alasannya

karena semua yang ada
takkan mau bersusah payah
karena itulah
aku berlari sendiri tanpa arah
mendekati garis darah
menuntaskan pekerjaan yang harusnya kami gotong
harusnya kami gotong

entahlah
apakah aku orang lemah
atau orang yang kalah
karena selalu bersalah menentukan mereka yang mengalah
menyerah sebelum perang
entahlah kakak
jiwa ini ternyata goyah




akan alasan-alasan yang payah


READ MOREHati Seorang Prokrastinator | Kemudian.com

Monday, 24 February 2014

[POETRY] Mencintaimu Dalam Keheningan

di penghujung tirai merdu
aku akan selalu menunggu
dirimu
datang dalam kalbu, kian sendu

walau hening, hatiku berteriak
dengan suara yang tak mampu terucap
mengalir lembut
emosi dalam kabut wajahku, raut
"jangan menyerah!"
teriakku tanpa arah
dengankanlah tangisan ini
"jangan lari!"

dan aku akan selalu mencintaimu
walau kau tak tau namaku
dan aku akan selalu bersamamu
walau aku hanya sebatas abu
dan aku akan mencintaimu
sepenuh hatiku


READ MOREMencintaimu Dalam Keheningan | Kemudian.com

Wednesday, 19 February 2014

[NOVEL] Hotaru Chapter: 5

-Part 5-
I might know nothing
about you. But I know someone’s yearning and eagerly loved you, even if you
know nothing about her either.”

Hening. Tatapan tajam laki-laki itu menusuk legam hitam yang
berkabut, menggerayangi suasana panas menjadi dingin. Aku masih diam. Karena
sosok dingin itu seolah-olah dapat mengoyakku kapanpun ia mau.

Kualihkan mata ke arah Chizue, berharap ia tahu apa maksud
semua itu. Namun aku justru terkejut melihat ekspresi wajahnya.. seperti
melihat setan, yang kemudian balas menatapku dengan wajah yang sama,
“M..Mereka..”

“Apa?” tanyaku sambil berdiri dan menatap laki-laki itu, “Ano,, Terima kasih telah menyela..” aku
belum sempat menyelesaikan kata-kataku saat laki-laki itu dengan tiba-tiba
memukul keras punggungku, mengakibatkan sakit yang teramat sangat.

Aku berteriak, “Itte!!!”

“Dasar lembek!”
teriaknya geram, “Hey Shiro! Kau susah-susah dengan komat-kamit anehmu itu
menyuruhku datang kemari, ke dunia bobrok bau ini untuk orang seperti ini?
Orang lembek ini? Jangan bercanda!” serunya sambil tersenyum kesal.

Shiro, maksudnya mungkin gadis cantik dengan iris emas yang
sejak tadi menutup mulutnya, dan sepertinya tidak berniat bicara itu terlihat
kaget, mengerutkan alis matanya kemudian menghela nafas, menatapku lagi dengan
tatapan lesu dan menggelengkan kepalanya.

“A..Apa?” tanyaku sembari merintih, “Apa maksud..”

“Sudahlah! Jelaskan semuanya di luar! Di sini bau sekali!”
kata laki-laki itu lagi sambil memikulku di bahunya dan berjalan keluar pintu,
“Kita pergi!”

“O..Oy! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!” seruku memukul
punggung laki-laki itu, kemudian menatap Chizue, “Hey Chizue tolong aku!”

“H..Hey Tuan.. mau bawa Hosaka kemana?” tanya Chizue gugup
sambil mendekati laki-laki itu, “T.. Tuan Suzaku..”

“Tuan?”

Laki-laki itu berbalik ke arah Terra-Oni dan tersenyum
sinis, “Kali ini kalian takkan kutuntut. Bersyukurlah pada Suzaku-sama yang
baik ini.” serunya lalu mengayunkan tangannya, menciptakan angin keras yang
menerbangkannya, dan gadis itu.




“Hosaka!” teriak Chizue sambil
melompat dan meraih bawah jubahku.

Aku dan Chizue dibawa dua orang
misterius itu keluar istana, keluar dunia roh hewan, ke atas langit dengan kabut
berawan putih pekat misterius dan berhenti di sana, melayang di atas awan.

“Nah, sekarang buka bajumu!”
seru laki-laki yang dipanggil Suzaku-sama itu sambil menurunkanku dari
gendongannya, “Bau busuk dunia itu akan mencemari keindahan dunia dewa. Bau
penuh kelicikan dan kebencian itu. Ini kali kedua dan terakhirku pergi ke sana!”

“Apa? Lalu pakaianku?” seruku
kaget, “Lagipula, siapa kalian? Seenaknya mengaturku dan nggak ngejelasin
apapun.”

“Oi bocah. Sekali lagi kau
katakan hal seperti itu lehermu sudah ada di lemari Yuki-Onna* sebagai souvenir,”
kata Suzaku sambil melempar satu set kimono, “Tentu saja kau harus berpakaian
sopan. Kau pikir dirimu telanjang lebih baik dari aroma busuk? Mattaku!”

Ettou, Tuan Suzaku, Nona Shiro, bisakah kalian menjelaskan apa
maksud semua ini?” tanya Chizue, muncul dari belakangku.

Perempuan itu, Shiro, tampak
terkejut sekaligus lega begitu melihat Chizue.

“Ta-Nu-Ki! Beraninya kau
membuntuti kami! Kau membuatku terpaksa harus membawamu kembali ke sana karena
aromamu sama sa..” seru Suzaku mengendus-endus sembil mengangkat Chizue
kemudian terdiam, “kau.. bersih..” katanya kemudian menurunkan Chizue, “untuk
ukuran roh hewan baumu sangat unik.”

“Terima kasih. Jadi?”

“Hng? Kalau soal itu, aku nggak
tau. Tanya Shiro! Dia yang memaksaku menjemput kalian ke dunia bau itu.”

“Shiro?” tanyaku sambil menatap
perempuan yang sedari tadi bungkam itu sambil mengerinyitkan alisku, “Jika aku
tidak salah, bukankah Shiro.. eh.. Shiro-san.. yang membawaku kemari?”

Suzaku terkejut kemudian
menatapku lekat-lekat, “Membawamu?!”

“eh.. i.. iya.. “ jawabku gugup.

Suzaku berbalik menatap Shiro
dengan tatapan marah, kecewa, gusar namun nampak sedih. Shiro pun demikian. Matanya
begitu redup dan tangannya bergetar.

“Shiro!” teriak Suzaku sambil
menyentuh pipi Shiro dengan tangan kanannya, kemudian ia terkejut dan alisnya
berkerut, ”kau.. kau harus menjelaskan semuanya..”

Shiro tampak terkejut kemudian
menggelengkan kepalanya.

“Bagaimana pun caranya!” seru
Suzaku lagi kemudian menengadahkan telapak tangannya, “Sudah selesai kan? Ayo
kita turun.” katanya, kemudian pusaran angin muncul di bawah kami, menembus
awan dan membawa kami ke distrik utara, dunia dewa.

Kami mendarat di halaman sebuah
rumah besar yang sepi. Tampak ornamen dan suasana jepang kuno pada taman luas
tersebut. Rumahnya berupa rumah-rumah klasik jepang dengan kayu harum yang
khas. Atmosfer yang melambangkan orang yang tinggal di sana adalah orang tua,
pikirku pada mulanya.

“Kucchan?”

Obaa-san..” kata Suzaku sambil mengerinyitkan matanya, “Sudah
kubilang berhenti memanggilku seperti itu..”

Onee-chan Suzaku sayang..” Pintu terbuka dan seorang perempuan
cantik mengenakan kimono yang begitu indah dan membawa sebuah biwa duduk di dalam ruangan, “Ara, kau membawa tamu yang unik.”

‘Cantiknya.. Sasuga dewi dari dunia dewa.’ pikirku, “Maaf
mengganggu,” kataku sambil membungkuk. Tiba-tiba seekor ular putih melilit kaki
dan memanjat naik ke bahuku, “Hee!!! Apa ini?! Suzaku-sama! U..Ular ini!!”

“Heeh itu peliharaannya, nggak usah
dipikirin.” seru Suzaku sambil duduk di depan ruangan tempat perempuan itu
duduk, “Jadi bagaimana?”

“Ngg.. Sangat.. jujur..” kata
perempuan itu sambil tersenyum kemudian keluar dan duduk di samping Suzaku, “Kalau
Shicchan datang kesini, biasanya ada masalah ya?”

“Oi.. Ularnya..” kataku sambil
menatap Chizue, “Apa ini Chizue? Tolong aku!”

“Tenang, jika aku tidak salah,
ular putih, dan biwa itu, ia adalah
salah satu dari dewa-dewa utama, Benzaiten**-no-Kami..” jawab Chizue tenang, “salah
satu dewi kemakmuran, kurasa.”

“Tepat.” jawab Benzaiten sambil
tersenyum, “Jadi kali ini masalah apa?”

Aku sekilas menatap Shiro yang
tak henti-hentinya menarik nafas, memainkan jari-jarinya, dan merenung, “Ia
seperti anak-anak walaupun penampilannya seakan seumuran denganku,” pikirku.

“Ngg.. Aku juga kurang paham. Karena
itulah aku membawa mereka padamu neesan.
Kalau itu neesan, neesan pasti bisa mengetahui secara
langsung, kan?”

“Kucchan jangan merayuku!” seru
Benzaiten sambil tersenyum, jadi kira-kira, anak ini ya?” tanyanya sambil
menatapku, “kemarilah sebentar..”

Ular putih itu turun dari
tubuhku dan aku berjalan menuju Benzaiten, “Permisi.”

Benzaiten menyentuh pipiku,
memejamkan matanya, membukanya, kemudian tersenyum, “Anak baik.. Tapi, kamu..
sedih ya..” Benzaiten mendekatkan wajahnya ke telingaku dan berbisik, “Hacchan?”

Aku terbelalak kaget, “Benzaiten-sama..
darimana.. kau tau..”

Sementara itu, di istana
Terra-Oni di distrik timur, budak-budak Terra-Oni tengah membersihkan kekacauan
yang ditimbulkan Suzaku di ruang tamu. Terra-Oni duduk di singgasananya,
memegang kimono budak bernomor 14 milikku sambil tersenyum senang.

“Tuanku..” kata Nagini sambil
melilit leher Terra-Oni pelan kemudian membaui kimono itu, “Mengapa tuanku
menghentikan saya? Jika tuanku tidak menghentikan saya saat itu, saya bisa
membunuh penyusup itu dan Kaze-no-Kami*** takkan bisa mengorek informasi
darinya. Tapi kenapa?”

“Nagini..” kata Terra-Oni pelan,
“Begitu aku masuk ke ruangan ini, bau dan aura anak itu sudah membuatku
tertarik. Manusia itu.. dan auranya yang lembut namun kuat itu..” katanya
pelan.

“Tapi tuanku..”

“Hng?”

“Ah tidak.. Hanya saja
sepertinya semenjak Terra-Ryou-sama meninggal, tuan terlihat..” Nagini
menghentikan kata-katanya, “lebih bebas..”

Terra-Oni tersenyum, “ Ada masa
ketika seseorang berubah. Perubahan itu terjadi seperti aliran air yang bisa
berpindah dengan mudah, seperti halnya angin.” kata Terra-Oni, “Salah satunya
penyebabnya, adalah cinta. Ya, anak itu..”

“Begitu ya.. Saya penasaran apa
yang akan terjadi selanjutnya. Apa yang mendorong manusia untuk sebegitu
memperjuangkan hidupnya dan datang ke dunia dewa, dan meluluhkan hati dewa
sehingga meluruskan jalannya?”

“Ya.. Aku juga ingin tau.. Semua
orang punya alasan mereka masing-masing. Entah baik, entah buruk. Dan alasan-alasan
itu dapat mempertaruhkan segalanya yang mereka miliki. Jadi untuk saat ini,
kita hanya bisa melihat sampai mana mereka bisa mendorong harapan mereka,”
jelas Terra-Oni kemudian menguap, “Sudahlah Nagini. Itu bukan urusan kita lagi.
Sebaiknya kau rapikan kimono-kimono buatan Inoue**** itu dan tata gudang
pakaian. Aku tak ingin ada tamu lain yang berkomentar tentang istanaku.”

Nagini terkekeh, “Baik tuanku.”



-End of Chapter 5- 


Keterangan Tambahan:

*) Yuki-Onna: Seorang ayakashi
mitos yang dilambangkan sebagai perempuan salju. Bukan dewa tapi ayakashi yang
tinggal berbaur di dunia manusia.
**) Benzaiten: Dewi ini
sebetulnya berasal dari india, yang bernama sarasvati. Di kenal sebagai dewi
pencemburu dan ia membawa alat musik bernama Biwa serta di tubuhnya selalu di lingkari ular berwarna putih. Ia
melambangkan air dan melindungi para pelajar, musik, seni dan ilmu pengetahuan.
***) Kaze-no-Kami : Dewa angin.
Maksud Nagini adalah Suzaku.
****) Inoue: Nama panjangnya
Terra-Inoue, isteri dari Terra-Oni yang membuat semua kimono yang
diperkenalkan, eh, dicuri Hosaka ^o^)7


PS:

Maaf kesannya singkat #tapi
entah kenapa di list saya Cuma segitu scenenya, soale di scene selanjutnya ya
*psst* *psst*

Mohon kritik saran :”D Maaf
ilustrasinya ngadat soalnya ngga sempet ngambar lagi saking sibuknya aaaa TAT

Kakak, untuk scene terakhir
waktu Terra-Oni megang kimono-nya itu di kata-kata dibilang “milikku” atau “milik
Hosaka” ya? Saya masih bingung soal penulisannya ini :”D saya pikir kalau saya
tulis milikku ntar serasa Hosaka ngeliat Terra-Oni-nya megang gitu.


READ MORE
Hotaru Chapter: 5 | Kemudian.com

Sunday, 16 February 2014

[Diary] Dalam Malam-Malam Februari

Jujur, saya ngantuk. Yang namanya tugas itu sukanya ya nuntut. Lalala. Lilili. Padahal ada banyak kesempatan di luar kesempitan yang mustinya bisa saya tanggapi. Eh, semuanya malah ditumpuk-tumpuk kayak telur. Telur dadar. Tapi nggak kenapa sih. Semua juga bakal berlalu kan? Tapi ya, lagi-lagi, saya harus menunggu bulan depan. Semoga liburnya makin banyak.

Berhubung bulan ini bulan cinta, katanya, saya nggak ada kesan ini itu atau apalah. Yang jelas si 'itu' akhir-akhir ini sering senyum. Yaudah itu cukup :) Saya cuma bisa cengar cengir liatnya. Atau nepuk-nepuk kepala serasa dipuji gitu. Ah, yang pasti pujian atau kontak dari dia duluan itu gamungkin. Saya-nya gaada harapan sih. Kalau soal cokelat, dapet sih. Dari kelas, PBS I Love You :*, terus sobat anime saya. Yang cimoet banget. Saya kembaliin ya cintah kalian di White Day dan semoga saat itu hati saya juga White.

Ada kabar burung kalau bulan depan bakal ada sesuatu yang menarik. Tapi apa ya? Yang jelas bukan soal jajan atau hadiah atau apalah. Apalagi pelajaran. Soalnya, karena sesuatu dan lain hal, banyak hal rumit yang nggak seharusnya terjadi, ya kejadian di bulan ini. Entah lomba, porseni, atau urusan yang menuntut saya lari-larian kemana-mana sampe massa saya turun beberapa kilo. Eh, beneran turun lo. Ini sampai nyesek ngeliat tangan sendiri, kulit-kulit gimana gitu.

Laporan bulan ini, sekali lagi cape. Saya cape gini gitu gaada hasil. Tapi ada beberapa lomba tercintah yang membuahkan hasil, UNI:CON dsb,bener-bener membuat saya mencintai waktu. Mading sastra jepang juga udah apik kakak. Saya bangga sekali sama kalian. Sobat kemudian.com dan cerita-cerita mereka yang unik juga selalu, dan akan selalu menjadi supper saya. Saya sendiri nggak ngerti, kenapa minat belajar menurun sedangkan kegiatan yang lebih mewarnai hidup saya membuncah seakan angin kemarin sore itu hanya ilusi. Saya sudah cukup senang menjadi orang gagap yang mencoba untuk berbicara. Orang bungkam yang masih bisa berimajinasi. Orang lemah yang masih bisa tersenyum dan menangis dalam senyuman. Katanya susah, tapi bulan ini kejadian banyak. Jadi tegar itu lumayan susah, karena harus nangis sendirian nantinya. Dan nggak punya temen baik yang RL itu susah. Karena ya, saya harus melampiaskan semuanya pada cermin. Pada saya sendiri.

Sudah deh. Bahasa yang basi ini dijadikan bacaan sekilas ya. Laporan saya bulan ini. Semoga bulan depan semua yang hitam menjadi putih :D

Salam Narnia~

Saturday, 15 February 2014

[NOVEL] Hotaru Chapter: 4

-Part 4-

“Everyone has their
own reasons. Whether good or bad.  And those
reasons could cost everything one had. So for now, let’s just see how far they could
push in their hope,”

Matahari dunia roh sama panasnya dengan yang ada di dunia
nyata. Kilauan sinarnya seakan-akan bergerak sendiri, berbentuk seperti daun
dengan warna keemasan dan terbang bebas mengitari langit yang menjelang siang.
Langit-langit ruang tamu Terra-Oni yang terbuat dari kaca mengantar sinar-sinar
itu masuk dan dengan nakalnya mereka bermain kejar-kejaran di sekelilingku,
mengundang keringat untuk keluar dari sekujur tubuhku. Panas.

Aku sudah berdiri di hadapan Terra-Oni selama kurang lebih 2
jam, menjelaskan pakaian yang disediakan Chizue satu per satu mulai dari jenis
kain hingga sejarahnya yang hampir semuanya adalah karanganku. Namun tak ada
satupun pakaian yang menurutku sangat berkualitas itu menarik baginya.
Terra-Oni. Sang penguasa distrik roh hewan dan pengidap fanatisme pakaian
pertama yang pernah kutemui. Selang 2 jam itu yang ia lakukan hanya menguap dan
mengeluh. Mencercaku dengan kantuknya.

“J..Jadi, kain yang baik adalah kain yang tidak berbau,
menyerap keringat, dan memiliki tekstur yang lembut sehingga nyaman digunakan,”
kataku sambil memperlihatkan sebuah kimono keemasan dengan bordiran bunga putih
di tepiannya, “salah satu kimono yang berkelas untukmu, Terra-Oni. Dan aku
yakin kau akan terlihat cocok dalam kimono ini, lebih dari kimono-kimono yang
sudah kutunjukkan sebelumnya.”

Terra-Oni menguap, mengusap matanya dan membenarkan kacamata
yang terpampang di mata kanannya untuk melihat lebih jelas, “Benarkah?”

“Y..Ya..” jawabku sambil mengangguk, “Emas merefleksikan
aura kehormatan seorang kaisar, i..iya kan Chizue?”

Chizue, dengan tampang datar dan mata yang hampir tertutup
mengangguk pelan kemudian bersin, “Hatsyii! Maaf, teruskan.” katanya sambil
mengusap hidungnya.

“Jadi, apa kimono ini menarik minatmu?” tanyaku pelan sambil
tersenyum jengkel, ‘Tanuki yang
sangat plin-plan!’ pikirku.

“Hng.. Semuanya sangat bagus. Tapi apa ya? Sepertinya ada
sesuatu yang kurang,” kata Terra-Oni sambil melambaikan kaki depannya ke arah
kumpulan kelinci di pojok ruangan. Dengan segera kelinci-kelinci itu membawakan
kue-kue khusus untuknya.

Terra-Oni melanjutkan omelannya dengan kue-kue memenuhi
mulutnya, “Aku punya kain yang bisa berganti warna,” katanya dengan suara yang
berkecamuk dengan kue-kue itu kemudian menelannya,”sesuai dengan kehendakku
dengan aroma yang tak kalah dengan aroma cendana. Dibandingkan dengan kainmu
Tuan Hosaka, salah satu usagi di sana
pun akan merasa ogah mengenakannya.” Terra-Oni menunjuk salah satu kelinci yang
membawa poci sementara kelinci itu dengan gelagapan mengangguk-angguk.

‘Kalau begini terus kapan selesainya,’ pikirku sambil
menelan ludah dan mengusap keringat yang mengucur di dahiku, “Terra-Oni, jika
dari sekian pakaian tidak ada yang ­­menarik minatmu, maka dengan berat hati
aku harus meminta maaf atas perkataanku sebelumnya,” kataku sambil melipat
kimono emas barusan dan memasukkannya ke dalam kardus, “mungkin di kunjunganku
yang kan datang akan ada pakaian-pakaian baru yang lebih memikat hatimu..
mungkin?”

Terra-Oni mengejap-ejapkan matanya, mengendus-endus kemudian
tersenyum, “Menarik! Sungguh dewa yang menarik!”

Chizue tersentak kaget, “Apa ada masalah Tuan?”

“Hey kucing, kau memiliki tuan yang menarik! Ini kali
pertamaku bertemu dewa dengan wajah konyol dan tingkah meragukan seperti anda,
Tuan Hosaka. Atau sebaiknya kupanggil Hosaka saja, ya?” kata Terra-Oni sambil
tersenyum licik, “Ada masalah, Hosaka?”

“Maaf?” tanya Chizue lagi.

Seekor ular melata ke bahu Terra-Oni, berbisik kemudian
melilit leher Terra-Oni membentuk syal, “Sudah kuduga. Kalian menyembunyikan
sesuatu.”

‘Ketahuan!’ pikirku dan Chizue serentak. Aku melangkah
mundur dan menarik napas pelan, “Apa maksudmu menyembunyikan sesuatu?”

“Maksudku?”

“Kau menghinaku?” kataku, menaikkan volume suaraku.

“Oh bukan! Aku akhir-akhir ini kekurangan hiburan, itu saja.
Jadi anggap yang tadi itu lelucon, Hosaka.”

“Lelucon yang tidak lucu. Apa kau marah karena kami membawa
pakaian yang kurang memenuhi seleramu?”

“Pakaian-pakaian itu,” Terra-Oni menatap kardus di samping
kiriku, “hanya kamuflase, kan?”

Chizue menelan ludahnya, ‘Ini berbahaya! Aku tak menyangka
ia akan membongkar kedok Hosaka semudah ini hanya dengan mengamati tingkahnya. Sasuga penguasa distrik timur.’ pikirnya
sambil melangkah mendekati Terra-Oni, “Maaf tuan, tapi barusan tuan secara tidak
langsung telah mengutarakan hal yang kurang berkenan bagi majikan saya. Jika
memang saya atau majikan saya mengecewakan anda, saya mewakili beliau meminta
maaf yang sebesar-besarnya.”

“Iya, kalau begitu saya juga minta ma.. Ah!” seruku kaget
karena Chizue tiba-tiba menginjak kakiku, “Apa?” bisikku lirih.

“Diam!”

“Jadi sekarang apa yang akan kalian lakukan tuan-tuan? Minum
teh?” tanya Terra-Oni, menjentikkan jarinya dan dengan ajaibnya sebuah poci teh
terbang dan menuang teh ke cangkir-cangkir kecil yang juga bertebaran, “atau..”
Terra-Oni menahan kata-katanya, “kembali ke konveksi?”

Aku bergidik, ‘Ah.. Ketahuan..’ pikirku.

“Konveksi.. Tuan? Berhentilah berkelakar karena kami serius
disini.” kata Chizue sambil menggerakkan ekornya.

Tiba-tiba ular syal Terra-Oni
melompat dan menyibakkan jubah yang dikenakan Chizue, “Tepat. Nomor 13,”
katanya, “Baruta mengatakan bahwa ada 3 ekor budak yang melarikan diri tadi
pagi. Dan sepertinya kau adalah salah satunya.”

Terra-Oni menguap, mengendus-endus lagi, “Kerja bagus
Nagini. Dan kau Hosaka, mungkin salah duanya?”

‘Tepat,’ Chizue tersenyum prihatin dan menatapku, ‘sekarang
bagaimana?’

‘Ah, mati sudah.’ Aku menggelengkan kepalaku ke arah Chizue.

“Aku menunggu jawabanmu tuan-tuan. Kelihatannya,” kata
Terra-Oni kemudian menatap seekor serigala yang ditarik beberapa babi
menggunakan rantai api masuk ke ruang tamu sambil tersenyum, ”mereka sudah tak
sabar untuk makan siang.”

“Serigala.. Api..” bisikku lirih, “Terra-Oni.. Akan
kujelaskan semuanya,”

Pintu terbuka lebar dan Baruta, Sang Babi Ketua Perbudakan
terengah-engah memasuki ruangan, “Ternyata benar, mereka orangnya!”

“Maaf. Pernyataan itu mengungkapkan bahwa KAU adalah seorang
BUDAK dan budak tak punya hak untuk bercengkrama dengan Tuanku! Beraninya
kalian menyusup ke Istana!” kata Nagini sambil menjilat pipiku kemudian
terkejut, “I..Ini!”

Terra-Oni tersenyum dan menepuk pelan kepala Nagini,
membuatnya jatuh tertidur di bahunya, “Cepat. Mulai pertunjukannya.” katanya
kemudian usagi serta hewan pelayan
lainnya berhamburan keluar dari ruangan, sementara babi-babi yang menarik
rantai serigala api melepas rantai tersebut dan dengan cepat serigala itu
menerkam, melahap habis seekor babi.

“Chizue..”

“Aku tau!” seru Chizue sambil memunculkan api-api kecil di
sekeliling kami, “Akan kuusahakan untuk mengalihkan perhatiannya. Kau harus
lari!”

“Apa?”

“Lari..”

Aku bergidik dan melangkah mendekatinya, “Maksudmu lari? Kau
bilang akan meninggalkanku jika keadaan sulit kan? Kau punya tujuan kan? Jangan
putus asa semudah itu!”

“Tapi aku tak ingin hal yang sama terjadi padamu..
Percayalah Hosaka.. Aku tak ingin kehilangan..” Chizue menatapku sekilas
kemudian mengibaskan ekornya, “temanku lagi.”

“Chizue!”

Chizue melompat dan menerkam serigala itu. Ia melompat ke
punggungnya dan menyalakan bola-bola api melilit tubuh sang serigala, sementara
serigala itu mengeram dan mengibaskan ekornya, mengarahkan api biru ke
punggungnya.

‘Bagaimana ini?’ pikirku seraya melihat ke arah pintu yang
tertutup rapat, ‘Apa yang harus kulakukan?’

‘Lari!’ pikir Chizue sambil menatapku tajam.

“Tidak! Mana mungkin aku bisa lari meninggalkan temanku! Apa
maumu bodoh!” teriakku sambil melempar kardus berisi kimono dengan aroma-aroma
mereka yang menyengat ke arah serigala itu. Kimono bertebaran menutupi
wajahnya, dan salah satunya adalah kimono putih polos milikku, pakaian budak
yang kucuri.

‘Hngg..’ pikir Terra-Oni sambil tersenyum.

Serigala itu berhasil melepas semua kain yang menutupi
wajahnya dan dengan marah menyerangku, mencabik lengan baju kananku dan
melukaiku, “Itte!!” seruku.

“Hosaka!” seru Chizue sambil mencakar mata kiri serigala
itu, membuatnya mundur dan dengan segera Chizue memeriksa tanganku, “Sial,”
katanya sambil berbalik.

Tiba-tiba, angin keras mendobrak pintu gerbang hijau yang
semula tertutup rapat  dan di baliknya,
seorang laki-laki muda sekitar seusiaku dengan rambut urak-urakan berwarna scarlet mengarahkan tangannya ke arah
serigala itu, “Menyingkir pecundang..”

Entah, apa yang terjadi saat itu. Api-api yang memenuhi ruangan
meredup seolah ketakutan. Semua pelayan Terra-Oni membisu, termasuk Terra-Oni
sendiri. Keringat mengucur dari wajah mereka. Sementara serigala itu terbujur
kaku, seperti roh yang baru saja d

ikutuk menjadi batu. Kemudian, seorang gadis
dengan rambut hitam berkelebat muncul dari belakang laki-laki itu, membuka
matanya dan memperlihatkan iris mata emasnya yang masih melekat erat di
ingatanku.




‘Gadis itu..’ pikirku.

Terra-Oni, di antara keheningan
yang mencekam dengan aura yang menusuk dingin itu tersenyum, seolah ia telah
mengerti semuanya.

-End Of Chapter 4-

READ MORE
Hotaru Chapter: 4 | Kemudian.com