Monday, 25 November 2013

[SHORT STORY] When Will My Life Begin?


"These days are normal and I felt like it. But somehow I'm still not myself. At the moment, at the stated place, where will my life grow? When will my life begin?"

Hari itu adalah hari apel pertamaku semenjak libur panjang bagaikan mimpi yang berkelit begitu lincahnya bak kibasan ekor naga di cerita - cerita dongeng. Kutatap matahari yang tak henti - hentinya mengharapkan kehitaman kami meningkat beberapa persen. Panas. Aku mendongak menatap langit saat beberapa burung melintas di langit dan menari dengan gesitnya, "ahh,," pikirku, "rasanya enak sekali,"
Cucuran keringat merembes ke bajuku dan mengubah warna topi yang biru menjadi abu. Abu kehitaman begitulah. Dengan ogah aku memasuki kelas dan duduk berpangku tangan sementara orang - orang kelasku berhamburan dan mengobrol. Rutinitas hari Senin. Kuambil earphoneku, menutup mataku dan bersender di bangku. Menikmati lagu Sen no Yoru wo Koete milik Aqua Timez yang sangat kusukai sehingga tanpa sepengetahuanku, aku berdendang kecii.
"Lihat si Aki,"
"Live-Class-Performance lagi ,kan?" Salah satu temanku, Souda, merogoh telepon genggamnya dan merekamku, "Buka youtube, cepetan!"
Beberapa saat kemudian bel tanda pergantian jam belajar berbunyi dan aku terbangun dari duniaku, mendapati layar proyektor terpampang di depan kelas dan orang - orang sekelas mentertawakanku melihat video gumamanku yang Souta rekam. Memalukan. Aku mengerinyitkan mata dan berpaling, "Sudah masuk, beres - beres!" teriakku sambil bangkit dari bangkuku, mencabut kabel proyektor dan menutup laptop Souta, "Cepat,"
"Hai.. Hai.. Aki-sama.."
Pelajaran berjalan mulus seperti biasa dan aku bermimpi bersamanya. Semua yang ada di papan merupakan makanan sambilan bagiku. Aku sudah terlalu bosan dengan formula - formula dasar yang sebagian besar kupelajari dulu dan saat libur. Aku tak tau bagaimana cara menyita waktu libur yang berharga. Sibuk adalah nafasku. Aku merasa saat dimana orang - orang mengandalkanku, mendukungku, dan membimbingku sangat berharga untukku, karena itu aku akan mendedikasikan segalanya untuk mereka. Terutama ibu.
Seiring dengan desiran angin yang berbisik di telingaku, aku menatap melalui jendela beberapa orang dewasa yang tampak sibuk, berjalan dengan cepat sambil menenteng tas hitam dengan telepon genggam menemani mereka. Selintas benakku bertanya, "Apa yang akan kulakukan setelah ini, ya?"

~~~~


READ MORE

When Will My Life Begin? | Kemudian.com

Sunday, 24 November 2013

[POETRY] Doa untuk Tuhan

Tuhan
Kalau Kau seribu mendengar
Seribu mengetahui
Bisikkanlah selirih kabut saja
Nyanyianku untuk ayah
Puisiku untuk ibu
Dalam keabadian tuk menemukanMu

Tuhan
Kalau Kau seribu penyabar
Seribu pemaaf
Cintailah kebaikan ayah semerbak anggur
dan keburukannya walau sepahit getir
Cintailah kasih sayang ibu semanis madu
dan kesalahannya walau seluas semesta
Diatas semua itu
Mereka merajut aku
Untuk berdoa setiap batas ingatanku
Untuk bersedekah semiskinku
Untuk berjuang seujung ekorku
Untuk tersenyum setulus hatiku
dan Untuk memujaMu

Tuhan
Kalau Kau seribu mendengar
Seribu mengetahui
Tersenyumlah untuk doa kecilku ini

 

READ MORE

Doa untuk Tuhan | Kemudian.com

Saturday, 23 November 2013

[POETRY] Meringis

Meringis..
Anak itu meringis lagi
Entah...
Apa yang ada di benaknya
Dengan riasan lebam di pipi
dan kaki kecilnya yang bergetar, merinding
Tersenyum menatapku
Seolah esok tiada beban

Perempuan
Perselingkuhan
Amarah
Denting porselen menari - nari
Sosoknya..
Terduduk..
Diantara jarum - jarum yang menusuk tiada ampun
Dengan tangannya yang redup
Dengan tubuhnya yang bergetar mungil

Meringis..
Apa ia meringis lagi?
Rautnya terlukis di benakku
Semenjak hari itu
Setelah genting berubah senyap
Dan lampu dimatikan
Merah - merah itu masih terlihat
Diantara prasasti jejaknya yang mungil
Ah..
Ia pasti meringis lagi

READ MORE

Meringis | Kemudian.com

[POETRY] Selamat Pagi

Erang
Dahaga-ku bersemburat
Celah - celah tersibak berkilau
Terik menyilaukan menerjang lensa mata
Memaksaku tuk turun dari singgasana-ku
Ogah
Aku menggeliat bagai ulat

Hari para burung cinta terlewati
Dan hari berbeda telah tiba
Sang sinar memojokkanku
Dengan kilau yang sangat mengusik itu
Aku ingin terkulai lagi
Karena dunia yang lalu sungguh mencekik
Aku ingin bermimpi lagi
Karena dunia yang lalu memakan semua dambaku

Detik - detik berlalu
Semua yang hitam itu kini berubah putih
Karena ia sudah berada di atas
Kicau perabotan dan hewan - hewan besi bertalu - talu
Menggelitik telingaku
Ahh..
Dengan ogah kulipat permadani surgaku
Dan turun dari takhta-ku

READ MORE

Selamat Pagi | Kemudian.com