”There’s a time where people started to change. The change occurs like the flow of the water. They can move and fade easily like the wind. One of them called love.”
Aku dan Chizue masih berada dalam kardus pakaian milik Terra-Oni, sementara beberapa budak mengangkut kardus itu ke ruang ganti di kediaman Terra-Oni.
Brugh. Suara kardus berdebum dan pintu ditutup.
“Chizue..”
“Sssstt! Diam..” bisik Chizue lirih sambil menempelkan telinganya pada kardus, “Ada sesuatu di luar,”
“Hee?”
“Jangan bergerak..” Chizue memejamkan matanya dan menghela napas, “sebentar saja,”
Aku menelan ludah, memicingkan telingaku hingga 5 menit berlalu kemudian Chizue menyalakan api dari telunjuknya, “Sepertinya sudah..”
Chizue melepas segel api yang sebelumnya ia buat kemudian kardus terbuka. Aku melangkah keluar, menyadari napasku sedikit tersengal-sengal, ‘Bukti aku manusia, ya?’ pikirku.
Ruangan itu nampak seperti ruang ganti. Berkat sinar remang-remang yang menerobos ventilasi aku dapat melihat gunungan kardus dengan lemari-lemari besar dan pakaian berserakan diantaranya, “Berantakan,,”
“Sou.. Sekarang ganti pakaianmu dengan salah satu jubah ini. Usahakan agar baumu tetap tertutupi,” kata Chizue sambil menyodorkan beberapa potong jubah dengan corak dan motif unik, “Bertingkahlah,,” lanjutnya sambil berpikir, “seperti seorang pedagang!”
“Pedagang?”
“Ya. Satu-satunya tamu Terra-Oni yang diperbolehkan masuk selain perwakilan dari distrik lain adalah pedagang. Terutama pedagang pakaian karena Terra-Oni sangat fanatik dengan pakaiannya,” kata Chizue sambil menumpuk beberapa potong pakaian yang terlihat berkelas ke dalam sebuah kardus, “Pakaian menentukan pantas tidaknya perkataan seseorang, katanya.”
“Fanatisme pakaian?”
“Sepertinya,” jawab Chizue singkat kemudan menguap, “Setidaknya ia orang yang cukup teliti.”
“Hee?” seruku heran, “Apa ia.. kuat?”
“Terra-Oni? Tentu saja. Kenapa kau bertanya?”
“Karena kalau kita ketahuan, bisa saja ia membunuh kita, kan?”
“Kamu, bukan kita.” jawab Chizue sambil tersenyum mengejek, “Jika hal buruk terjadi, aku bisa tetap bekerja menjadi budak disini. Lagipula, roh tak bisa mati hingga hari kelahiran kembali mereka tiba. Paling buruk, mereka akan mendapat siksaan, itu saja.”
“Hey, jangan bercanda! Katamu kau akan membantuku mencari ibuku!”
“Tapi jika itu tak membahayakan, kan? Karena aku juga,” kata Chizue kemudian menatapku tajam, “punya harapan yang harus kucapai apapun yang terjadi.”
“C.. Chizue,” kataku lirih, “ma..”
“Sudah cepat! Sebelum mereka menyadari ketidak-hadiran kita!” serunya sambil membenarkan selendang yang menggantung di lehernya lalu mengangkat kardus berisi pakaian itu di punggungnya, “Ayo!”
“Biar aku yang bawa,” kataku kemudian mengambil kardus itu dan membuka pintu, “Kau tunjukkan jalannya.”
“Ke kanan,” kata Chizue sambil berjalan pelan di lorong besar rumah Terra-Oni yang penuh lukisan antik dan hiasan porselen di tiap dindingnya, “kita masuk ke pintu hijau itu. Itu ruang tamu.”
“Luasnya..”
“Ini belum seberapa. Kau akan lebih terkejut lagi saat masuk ke tempat peristirahatan Terra-Ryou, mantan penguasa dunia roh bagian timur.”
“Bagian timur?” tanyaku pelan sambil memperhatikan langkahku, “Maksudmu dunia ini ada daerah khususnya juga?”
“Ya,” jawab Chizue, “Dunia dewa ada di bagian utara. Disini, distrik timur adalah dunia roh hewan. Distrik barat adalah dunia roh tak berbentuk dan distrik selatan adalah dunia setan. Jadi jika kau ingin menemui ibumu, kau harus memeriksa keempat distrik itu.” Chizue menatapku lagi, “Kau siap?”
“Tentu saja!” teriakku cukup keras.
“Souka..” kata Chizue sambil tersenyum, “Buktikan anak muda.”
“Apa maksudmu anak..”
Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, pintu hijau di hadapanku terbuka. Seekor kelinci dengan pakaian buruh yang berada di seberang pintu menatapku dan Chizue dengan heran, “Kalian siapa?”
“eh..” seruku terkejut, “Chizue..”
“Oh, ini Tuan Hosaka dari distrik dewa,” seru Chizue sambil berlari ke hadapan kelinci itu, “Beliau ingin menemui Tuan Terra-Oni untuk mempersembahkan pakaian terbaru dan berkelas dari sana,”
“Oh, selamat datang tuan.” kata kelinci itu sambil membungkuk dan nampak salah tingkah, “Saya akan menyiapkan keperluan anda. Anda bisa menemui tuan setelah siang karena tuan sedang tidur. Silakan menunggu di sini.”
“Oh, ya. Kami hanya sebentar. Lanjutkan saja pekerjaanmu.” kataku sambil meletakkan kardus di lantai.
Kelinci itu dengan terkejut berkata,“Eh? Ano..”
“K.. Kenapa?”
“Maksud Tuanku, beliau tidak memerlukan apapun untuk sekarang. Biar saya yang mengurus keperluan beliau karena mereka bisa dikatakan sangat spesifik, mengerti?” kata Chizue sambil membungkuk di hadapan kelinci itu dan tersenyum.
“Oh, baiklah. Permisi.” jawab kelinci itu kemudian keluar ruangan dan menutup pintu.
Chizue melompat ke sofa dan menghela napas, “Huh, kau tak seharusnya merendah di dunia roh hewan. Secara tipuan barusan, kau berasal dari strata yang lebih tinggi, dewa. Dan pada umumnya dewa memiliki harga diri yang tinggi jadi hati-hati dengan lidahmu.”
“Oh begitu?” Aku merebahkan tubuhku dan mengusap perutku, “Entah kenapa aku merasa lapar.”
“Ya, aku juga. Setelah kita berhasil keluar dari sini akan kutraktir ramen.”
“Roh bisa lapar?” tanyaku heran, “Katamu roh tidak memiliki hal yang seharusnya dimiliki makhluk hidup?”
“Kami berbeda. Roh hewan, setan, dan tak berbentuk merupakan roh dengan hubungan terdekat dengan dunia nyata. Mereka masih memiliki rasa sakit, amarah, kesedihan, dan perasaan. Karena itu, umur dan waktu untuk kami mengalami kelahiran kembali menjadi makhluk hidup relatif singkat,” Chizue menjelaskan, “mengerti?”
“Sedikit,” jawabku.
“Begitulah. Hidup menjadi roh bawah hampir mirip dengan menjadi makhluk hidup.”
“Souka..” gumamku pelan.
“Eh tidak. Mungkin, lebih menyedihkan..” lanjut Chizue sambil memasang tampang sedih di wajahnya.
Aku menelan ludahku, “Chizue..”
“Hm?”
“Barusan, kau..”
“Apa?” tanya Chizue sambil menguap, “Kenapa?”
“..tidak.. tak apa..”
“Hng? Kau menarik Hosaka,” kata Chizue sambil menepuk kepalaku, “hidup itu indah, ya?”
“Apa maksudmu? Bodoh! Siapapun tau kalau hidup itu indah!” bentakku keras sambil balik menggosok kepala Chizue.
“Tapi dalam ajaran agama tidak,” elak Chizue sembari terkekeh, "Oya, ada satu lagi hal yang selalu Terra-Oni ujarkan pada siapa saja."
"Apa? Kenapa tiba-tiba mengganti topik?" ujarku.
"Haah. Dengarkan!" bentak Chizue, "Begini. Semua orang harus bekerja. Karena tanpa bekerja, mereka takkan bisa mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan bukan sekedar omongan dan kebaikan saja. Hal itu memerlukan sikap dan perbuatan yang dinamakan kerja keras, mengerti?"
"Souka.. Lalu?"
"Ya begitu," Chizue melompat turun dari sofa, "kurasa kau akan memerlukannya, mungkin?"
"Chizue, kamu.."
“Sudah, bersiaplah sekarang. Terra-Oni sudah bangun.”
“Darimana kau tau?”
“Aroma parfum menyengat yang ia gunakan untuk menerima tamu,” jawab Chizue sambil tersenyum, “beraktinglah dengan baik anak muda.”
Pintu hijau terbuka dan iring-iringan musik diikuti genderang bertalu-talu memenuhi ruangan. Beberapa kelinci melompat memasuki ruang tamu, melemparkan bunga-bunga wangi bak konfeti dan rubah-rubah budak menggunakan kuas ajaib mereka untuk melukis sinar berwarna-warni yang melayang bebas dan menghiasi ruangan. Diantara semua itu, sebuah tandu emas dijinjing oleh 4 ekor berang-berang dan Terra-Oni duduk diatasnya sementara 2 ekor ayakashi semacam kucing mengipasinya, hingga mereka tiba di tengah ruangan dan sebuah singgasana klasik muncul dari lantai. Tandu itu menghilang dan Terra-Oni duduk di singgasananya, diikuti munculnya red carpet membentang membentuk jalan dari singgasana ke pintu hijau.
Aku terbujur kaku melihat penampilan spektakuler Terra-Oni dan pengikutnya. Kutarik-tarik ekor Chizue sambil berbisik, “Apa ini?”
“Diam.” jawab Chizue dingin.
“S..Seekor tanuki?” bisikku lagi pada Chizue.
“Sstt! Diam!” Chizue menjewer telingaku kemudian berbalik menghadap Terra-Oni dan tersenyum,
“Yang mulia.” katanya sambil membungkuk, “Senang bertemu denganmu lagi.”
“Oh, kalau tidak salah kau adalah musang buruhku beberapa bulan lalu, ya? Apa yang kau lakukan bersama tamuku?” tanya Terra-Oni sambil memainkan kacamatanya untuk melihat Chizue, “Kau tampak kurus!”
“Mohon maaf tuan tapi saya seekor rubah.” jawab Chizue pelan.
“Jadi musang, apa yang kau inginkan? Apa kau yang mengantar Tuan Hosaka kesini?” tanya Terra-Oni lagi.
“Rubah tuan,”
“Jawab aku!” bentak Terra-Oni dan api bersemburat dari mulutnya, “Jangan bertele-tele!”
“Entah kenapa pembicaraan ini membuatku ingin tertawa. Tidakkah begitu musang?” bisikku pada Chizue. Dengan kesal Chizue mengibaskan ekornya ke hidungku yang membuatku bersin, “Hatsyiii!”
“Jadi Tuan Hosaka! Aku ingin melihat pakaian yang kau bawa. Pastinya mereka kain berkelas dengan hiasan distrik dewa dan aroma bunga surgawi abadi. Apa aku salah?” tanya Terra-Oni sambil memainkan kumisnya, “Tuan Hosaka dari distrik dewa?”
“Ano..” Aku menggaruk-garuk rambutku dan menelan ludah, “Baiklah Yang Mu..” Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, dengan cepat Chizue menginjak kakiku, “Itte!! Oh.. Maksudku, Terra-Oni! Terra-Oni! Aku yakin kau akan menyukai barang bawaanku!” seruku sambil menatap Chizue kemudian berbisik, “Apa maksudmu?”
“Heh..” Chizue terkekeh pelan, “Itu baru namanya sambutan hangat,”
“Hmm?” Terra-Oni mengernyitkan alisnya dan tersenyum, “Menarik Tuan Hosaka.. Aku harap, kau tak membual. Jadi, ceritakan padaku, tolong.”
-End Of Chapter 3-
READ MORE
Hotaru Chapter: 3 | Kemudian.com