Sunday, 20 April 2014

[INTERPRETATION] BE THE LIGHT - ONE OK ROCK

BE THE LIGHT - O N E  O K  R O C K


A. LYRIC

I.
Just the thought of another day
How did we end up this way?
What did we do wrong?
God

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

You can touch the sorrow here
I don’t know what to blame
I just watch and watch again
Oh..

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

Even though the days go on
So far, so far away from
It seems so close

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

REFF:
You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that was lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
Oh..
Be the light

II.
Always weighing on my shoulder
A time like no other
It all changed on that day
Sadness and so much pain

Anyone can close their eyes
Pretend that nothing is wrong
Open your eyes
And look for light
Oh..

What did it leave behind?
What did it take from us and wash away?
It may be long
But with our hearts start a new
And keep it up and not give up
With our heads held high

Yeah, yeah...
  
REFF:
You have seen hell and made it back again
How to forget? We can’t forget
The lives that was lost along the way
And then you realize that wherever you go
There you are
Time won’t stop
So we keep moving on

Yesterday’s night turns to light
Tomorrow’s night returns to light
Oh..
Be the light

“Some days just pass by and some days are unforgettable.We can’t choose the reason why.But we can choose what to do from the day after.So with that hope, with that determination,Let’s make tomorrow a brighter and better day”


B. INTERPRETATION

The Interpretation of the Song “BE THE LIGHT”:
            This song is about a person, in this content the writer of this song, who encourages other people to be able to move forward from the obstacles of life. Described in this song is, keep strong to overcome the disaster caused by the nature.

The happy days were just like yesterday and after that the disaster came out of nowhere, destroyed their hometown. They refers to the people who lived on that area, asked God about their faults which eventually make Him punished them as they were. The people can’t move forward, even though that disaster already passed for quite a long time. They couldn’t endure the merciless memories, and pain. There are people who closed their eyes, as if nothing was wrong. But actually, they were hurt deep down inside. The writer told them to open their eyes and even though the world was pitch black, don’t ever stop to look for the shred of light.

The disaster left only painful memories, and took away everything, washed up into pieces. Those people who came back alive from the disaster were personified as people who came back from hell. The image of hell, where so many lives were lost along with it, was a thing nobody could ever forget. But then, they have and must realize that whatever happen, wherever they go, the time won’t stop so they have to keep moving forward. Recovery may be long, but with a brave heart to stay strong and keep moving on, they tend to overcome all those darkness with their head held high up.

On the part which said,

Yesterday’s night turns to light.
Tomorrow’s night returns to light.
Be the Light..”

Night means the end of the day, and nighttime is always described with dark. Changing yesterday’s night into light means, we should turn all bad and sad thing which had happened yesterday into light and happiness for the day after, and continuously towards the next days for the rest of our life. “Be the light” means become a light, the source of hope toward every darkness, sadness, and tears in life which will give happiness to others.


            The last part is a poem (not a ‘sing able’ lyric) of the song which mainly is a message that tell us to choose what to do for the day after. Either it will be a happy day, or a day which will just pass by. With that hope and determination, let’s make tomorrow a brighter and better day.



**** Hope This Help ****

Sunday, 16 March 2014

KIK! Me :3

Click here to chat with me on Kik!: My username is sylphermizt on Kik Messenger, the crazy-fast, free, mobile messenging app. Click the link to chat with me!

Saturday, 8 March 2014

[NOVEL] Hotaru Chapter: 6

-Part 6-

“To believe in others
is one proof that oneself has heart.”


“Ha.. Hacchan?” tanya Chizue sambil melompat ke bahuku,
“Namamu? Haiku Hosaka kah?”

“Apa maksudmu haiku?
Kau kira aku puisi?”

“Sudahlah nee-san. Emang
kenapa namanya? Aneh kah?” tanya Suzaku heran kemudian menepuk kepalaku, “Sebuah nama adalah berkah dari orang tuamu! Kau harus mensyukurinya!”

E.. Ettou.. hai..”

Soreyori nee-san, jadi gimana? Anak ini kenapa?”
tanya Suzaku lagi.

Shiro bersin, mengendap-endap ke arah pintu halaman kemudian
pergi ke luar rumah Benzaiten.

“Oi.. Shiro!” teriak Suzaku, hendak mengejarnya.

“Kucchan, diamlah di sini. Biar Hacchan yang mengikutinya.”
kata Benzaiten pelan sambil mengelus ular putihnya.

“Tapi..” kataku ragu.

“Cepat Hacchan. Kau akan kehilangan jejak kenari itu!” seru
Benzaiten lagi diikuti desis marah ular putihnya.

“H..Hai..” seruku, berlari keluar rumah Benzaiten bersama
Chizue.

 “Ah.. hontou ni..”

“Apa?” tanya Suzaku pada Benzaiten, “Aku yakin neesan, ada sesuatu yang ingin kau
katakan padaku, kan?”

“Hmm, aku akan mengatakannya Kucchan. Hanya jika kau mau
melakukan sesuatu untukku,” jawab Benzaiten, memetik salah satu senar biwa-nya lagi, “dan aku yakin kau akan
melakukannya.”

Aku berlari keluar halaman bersama Chizue, mengejar Shiro
yang ternyata tidak begitu jauh dengan pintu gerbang rumah Benzaiten. Ia memainkan
jari-jarinya, nampak ragu.

“Apa yang kau lakukan?”

Shiro menggelengkan kepalanya, berjalan ke belakangku dan
mendorongku ke arah sebuah jalan besar tempat beberapa lampion terpasang.

Tsukuyomi-no-Machi*,’
pikirku, melihat tulisan kanju yang terpampang di sebuah palang di sudut jalan
itu.

“Ini..” seru Chizue terkejut dengan mata berbinar-binar,
“Kalau tidak salah sebulan ini, masyarakat dunia roh merayakan festival bulan
baru..”

Lampu-lampu berbagai warna yang gemerlap memenuhi ruas jalan
besar dengan hiruk pikuk selayaknya pasar tradisional. Genderang bertalu-talu,
mengikuti alunan musik klasik khas Jepang yang meriah. Beberapa dewa terlihat
mabuk di sebuah kedai, beberapa lagi menonton pertunjukkan tari, ada yang
menghias rumahnya dengan mewah, dan beberapa dewa dengan postur seperti anak
kecil berlarian sembari menebar bunga-bunga kuning, lambang emas dan kekayaan.

“Festival yang mewah,” kataku sambil berjalan di antara
kerumunan ramai perayaan itu, “Shiro, ayo kembali..”

Shiro menggelengkan kepalanya, menatapku dengan geram
kemudian menunjuk ke sebuah kedai makanan yang ada di seberang jalan. Raut
wajah polosnya merengut, seakan-akan memaksaku untuk pergi ke kedai itu.

“Tapi aku tak punya uang.. Tapi tunggu dulu.. di sini kita
memerlukan uang juga?”

“Tidak.. Kau membayar menggunakan keterampilan,” jawab Chizue
sambil melambaikan ekornya, “Dewa sangat menyukai hal-hal unik dan indah, sehingga
kebahagiaan menurut mereka adalah yang utama. Kau bisa menghibur mereka untuk
memperoleh hal lain, seperti barter.”

“Aneh..” gumamku sambil menatap Shiro, “Jadi apa yang harus
kulakukan?”

Shiro berlari, tersenyum kepada dewi penjaga kedai yang
mengenakan bandana sutera dan pakaian kimono luar biasa indahnya. Nampaknya, ia
tak bermaksud membeli apapun. Pandangannya yang polos tertuju kepada dewi yang
menjaga kedai itu. Dewi itu sedang menyapu dan merapikan kursi yang berjejer di
sekeliling meja-meja kecil di depan kedainya, sampai Shiro menghampirinya.

Ara..Shiro-chan! O Hisashiburii desu ne!** Kau sehat?”

Shiro mengangguk dan tersenyum, mengedipkan matanya yang berbinar
seolah mengatakan ‘Ia sehat.’

“Shiro..” kata dewi itu terkejut kemudian hendak menyentuh
pipi Shiro, tapi Shiro menghalau tangannya, “.. Shiro..”

Shiro meringis pelan kemudian meletakkan telunjuknya di
depan bibirnya. Kemudian ia menoleh kepadaku sambil melambaikan tangannya,
tersenyum lebar.

“Hey Chizue.. Semenjak tadi aku penasaran,” kataku menatap
Chizue.

“Ya aku juga..” jawab Chizue seolah sudah tahu apa yang ada
di pikiranku, “Shiro bukannya tidak bisa bicara sejak awal. Ia.. kehilangan
suaranya.. mungkin..”

Seorang dewa yang terkesan tua lewat di hadapan Shiro,
terkejut, meletakkan dagangannya di tanah dan memeluk Shiro erat, “Shiro! Yokatta! Kau tak tau betapa khawatirnya
aku semenjak sebulan lalu! Kau ke mana saja? Orang-orang kuil sangat
merindukanmu!”

Shiro mendorong kakek itu, bernapas lega kemudian tersenyum.
Ia menggeleng kemudian menggerakkan jari-jari tangannya seakan ingin
mengatakan, ‘Aku tidak bisa bicara sekarang,’

“Ngg? Ada masalah dengan suaramu? Kalau begitu, setelah
kondisimu membaik datanglah ke kuil! Akan kulayani dengan sake terbaikku!” kata
sang kakek kemudian mengangkat barang dagangannya lagi, “Kalau begitu aku
duluan. Perayaan hampir  mencapai
puncaknya! Ingatlah untuk datang ke Kuil Tsukuyomi besok. Sampai jumpa ya!”

Shiro melambaikan tangannya ke arah kakek itu, tiba-tiba
tersentak kaget dan menatapku, melambaikan tangannya lagi seolah memanggilku. Tapi
kali ini wajahnya terlihat menggerutu.

“Ayo Chizue..” kataku sambil terkekeh menanggapi tingkah
Shiro dan berjalan ke arahnya.
Shiro menepuk pundak dewi penjaga kedai permen tadi kemudian
mengarahkan tangannya padaku, seolah memperkenalkan dewi itu.

“Oh.. Aku Kazuha Kurawari.. Salam kenal.. er..” kata Dewi
itu, Kazuha, menjulurkan tangannya hendak menyalamiku, “..namamu?”

“.. Aku Hosaka.. Salam kenal..” jawabku, menjabat tangannya.

Begitu menyentuh tanganku, Kazuha terkejut dan menatapku
heran, “Kau.. aneh..” katanya.

Ettou.. “ kataku
ragu sambil tersenyum, “Aneh maksudnya?”

“Ngg.. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Kau baru di sini?”

“Iya.”

“..Kau siapanya Shiro-chan?”

‘Kau diinterogasi.’ pikir Chizue terkekeh sambil menatapku.

“Aku hanya..” kataku ragu kemudian menatap Shiro. Kembali
aku teringat saat Shiro menciumku dan mendadak wajahku memerah, “hanya
temannya.”

Mata Shiro sebelumnya berbinar, seolah ia mengharapkanku
mengatakan sesuatu yang terkesan lebih spesial. Kemudian, setelah mendengarku
menjawab ‘teman’ wajahnya langsung merengut.

“Oh begitu..” jawab Kazuha kemudian menguap, “Oh ya.. Ne.. ne.. Shiro-chan, untuk menyambut
kedatangan teman barumu, bagaimana kalau Shiro-chan nyanyi?”

“Eh? Menyanyi? Shiro?” tanyaku heran kemudian menatap Shiro.
Shiro diam, memainkan jari-jarinya kemudian ‘memasang’ wajah
memelas dan menggelengkan kepalanya.

“Kau tak tau? Shiro-chan itu kenari distrik dewa lho..” kata
Kazuha, tersenyum bangga.

“Kenari?” kata Chizue pelan, “Maksudmu Shiro biasa nyanyi?”

“Ya.. Suara Shiro-chan sangat indah. Tapi aku heran, semenjak
dua bulan lalu Shiro-chan nggak pernah kelihatan,” Kazuha menatap Shiro, “Seperti
kata Tenjin-sama, Shiro-chan, kau ke mana saja?”

Shiro diam dan menunduk. Aku merasa tangannya bergetar dan
ia hendak menangis. Tiba-tiba Shiro melompat, menepuk pipinya, dan mengambil
sebuah koto*** dari lemari kecil di dalam kedai Kazuha.

“Eh? Mau kau apakan koto itu ne?

Shiro menyerahkan koto itu padaku kemudian duduk di salah
satu kursi yang terjejer di depan kedai.

“Kau ingin aku memainkan koto ini?” seruku kaget, “tapi
aku..”

Shiro menatapku dengan penuh harap kemudian mengangguk.

“Tapi..”

“Mainkanlah Hosaka..” kata Kazuha, menepuk pundakku, “anggap
saja sebagai salam perkenalan. Jika permainanmu bagus, akan kuberikan benda
yang bagus juga.”

Hee?” gumamku
pelan, “..Baiklah.. Tapi aku masih pemula..”

Koto. Alat musik yang identik dengan ibu. Ibu dulu selalu
memainkannya setiap malam bulan purnama. Seperti hari ini di dunia roh.

‘Apa ibu akan memainkannya hari ini? Aku ingin tahu,’
pikirku pelan kemudian meletakkan koto itu di depanku, sembari duduk bersimpuh
di tanah, menghela napas dan mulai memetik senar-senar pada koto tersebut, ‘Semoga
ibu bisa mendengar permainanku, di mana pun ibu berada. Lagu ini.. Lagu yang
selalu ibu nyanyikan untukku, Haru no Umi..’

Dunia itu, dunia roh adalah dunia yang penuh hal-hal luar
biasa. Karena itu aku tak heran saat percikan keemasan memancar, mengelilingiku
seiring jari-jariku memetik senar dengan irama. Dewa dewi yang sebelumnya hiruk
pikuk dengan kegiatan mereka, satu per satu mendekat untuk melihat permainanku.
Selang lima menit berlalu, kubuka mata dan kuakhiri
permainanku. Aku terkejut. Begitu banyak orang berkumpul di sekelilingku, riuh,
berdecak kagum, dan menepuk tangan.

“Uuh.. Hosaka.. Kau luar biasa!” seru Kazuha berderai air
mata haru dan memelukku, “Indah sekali! Kau harus sering melakukan pertunjukan
keliling! Harus!”

“Eh.. Syukurlah kau menyukainya..” kataku gugup. Dewa-dewa
lain masih berkerumun dan menyalamiku, menyambutku sebagai anggota baru mereka.

Di dalam kerumunan itu, aku tak menemukan sosok Shiro dan
Chizue, “Shiro?” panggilku, “Chizue?! Di mana kalian?”

Tak ada. Mereka tidak ada di sana. Keramaian mulai mereda
seraya para dewa kembali melaksanakan aktivitas mereka.

“Hosaka?” tanya Kazuha sambil menoleh ke arahku, “Kenapa?”

“Mana Shiro?” tanyaku gugup, “Tadi aku rasa dia duduk di
sini. Bersama Chizue..”

Kazuha mengambil cangkir kotor
yang ada di salah satu meja kedainya, mengernyitkan alisnya, “Kenapa? Kau tak
harus selalu bersamanya kan? Shiro-chan bukan penghuni baru di sini. Ia takkan
tersesat! Paling nanti juga Shiro-chan akan pulang ke rumahnya, seperti biasa.”

“Oh..” kataku pelan, “T..Tapi..”

“Kau khawatir?” tanyanya lagi
kemudian menyentuh daguku, “Jangan bilang kau menyukainya?”

“Eh..” seruku kaget, “B.. Bukan
itu maksudku..”

“Aku tahu, aku tau. Kau terlihat..
“ Kazuha berbisik di telingaku, “ masih perawan, ya?”

“Eh?!”

Kazuha tersenyum sambil menepuk
dahiku, “Dasar! Kau terlalu mudah untuk ditebak!”

“Kazuha-sama.. “ kataku dengan
wajah memerah.

“Tapi,” Tiba-tiba ekspresi wajah
Kazuha berubah, “jangan sampai kau menyukai Shiro-chan, Hosaka. Karena ada
orang lain yang lebih, lebih mencintainya hingga mempertaruhkan segalanya.”

Aku tertegun. Kugaruk kepalaku
dan mengangguk, “Iya, aku tau.. aku tau..”

“Bagus.  Sekarang, bantu aku bersih-bersih dulu. Baru kau
akan kuantar ke rumah Shiro-chan,” Kazuha melirikku dengan sebelah matanya
kemudian tersenyum, “dan tentu saja imbalan atas permainanmu.”

“Y..Ya..”

Aku tak tau. Aku baru hari ini
bertemu dengannya, dengan Shiro.  Gadis seumuran
denganku yang tingkahnya terlihat masih kekanak-kanakan. Namun, sepertinya ia
menyembunyikan begitu banyak rahasia, begitu banyak hal pahit. Dan aku tahu,
salah satunya pasti menyangkut keberadaanku di sini.

‘Chizue sudah berada bersamanya.
Aku harus tenang,’ Kuambil koto itu dari tanah dan meletakkannya lagi di lemari,
‘Shiro, ya? Entah kenapa aku merasa, aku pernah bertemu dengannya di suatu
tempat. Shiro..’ pikirku sambil menatap rembulan.

“Shiro!” seru Chizue, melompat ke
arah Shiro yang duduk di sebuah lorong gelap cukup jauh dari Tsukuyomi-no-Machi, “K.. Kenapa..”

Air mata Shiro menitik
dan ia menyembunyikan wajahnya, “H..Ha.. Ha..” bisiknya lirih, tiba-tiba
tubuhnya bergetar dan ia semakin meringkuk menahan sakit, namun Chizue tidak
mendengarnya.

“O..Oi.. Shiro!”

Di rumah Benzaiten, Suzaku duduk
di tatami depan kamar Benzaiten sambil mendesah kecewa, menatap telapak tangan
kanannya, “Jadi begitu.. Dasar, Shiro bodoh!” katanya sambil mengepal tangan
kanannya, “Neesan, kalau sudah
begini, apa yang harus kulakukan?”

Benzaiten berhenti memainkan biwa-nya, menatap Suzaku lembut, “Tidak
ada.”

“Tapi kalau begini terus, Shiro..”

“Kau tak ingin melukainya, kan?
Inilah jalan yang Shicchan pilih. Inilah yang ia inginkan.” Benzaiten
mengarahkan tangannya ke langit, “Karena itu Kucchan, apa kau akan menghancurkan
harapannya demi menyelamatkannya, atau kau akan membuatnya bahagia, walau kau
tahu hal itu pun akan membunuhnya? Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku tau.. Aku tau.. Tapi, aku.. Kuso****!” seru Suzaku marah.

Sekelebat angin besar berhembus
di langit distrik dewa yang menjelang malam, melewati sebuah rumah dewa mewah
dan bertingkat. Seorang dewi dengan paras elok dan kimono keemasan yang mewah
duduk menatap langit, memperbaiki rambutnya yang terkena desir angin.

“Bulannya, indah sekali. Seperti permainan
koto sore tadi. Aku ingin tahu, siapa yang memainkannya?” katanya pelan sambil
tersenyum menatap bulan kemudian memainkan koto-nya dengan anggun, “Haru.. no Umi..”


-End Of Chapter 6-

Keterangan Tambahan:
*) Tsukuyomi-no-Machi : Sebuah jalan (yang saya buat
secara asal LOL) yang mencirikan dewa bulan/malam, Tsukuyomi :)
**) O hisashiburii
desu ne
: Lama tak berjumpa
***) Koto : alat musik khas jepang yang dimainkan dengan
cara dipetik.
****) kuso :
istilah jepang seperti sial dsb (saya sering denger di anime ^^”)

 
READ MORE
Hotaru Chapter: 6 | Kemudian.com

Thursday, 27 February 2014

[POETRY] Hati Seorang Prokrastinator

dalam hati aku mengerang
mengapa semua ini tertumpuk begitu saja?
mengapa semua ini menjejal tiba-tiba?
ya
aku prokrastinator alasannya

karena semua yang ada
takkan mau bersusah payah
karena itulah
aku berlari sendiri tanpa arah
mendekati garis darah
menuntaskan pekerjaan yang harusnya kami gotong
harusnya kami gotong

entahlah
apakah aku orang lemah
atau orang yang kalah
karena selalu bersalah menentukan mereka yang mengalah
menyerah sebelum perang
entahlah kakak
jiwa ini ternyata goyah




akan alasan-alasan yang payah


READ MOREHati Seorang Prokrastinator | Kemudian.com