Monday, 30 December 2013

[POETRY] Asap

kala aku
meratapi dosa di atas api
keabadiannya takkan menjadi abu
tak bisa kupungkiri
bernaung dalam kelambu, masa lalu
yang kujahit dalam diri

kataku dan katamu
berakhir bisu
bisu dalam ratap
dan kamu tak juga menatap
aku yang ragu
bahuku yang layu
dan semerbak duka yang lama
mekar menyala-nyala

dunia yang berkelakar
apakah ini drama semata?
kata yang berubah murka
tawa yang ditampar lara
semua tak sama
penuh keganjilan maya

biarlah dosa menjadi abu
dalam malam-malam lalu
biarlah hati menjadi luluh
oleh sepatah katamu
"maafkan aku"



READ MORE

Asap | Kemudian.com

Saturday, 28 December 2013

[POETRY] Lalai

sakit
badan berkelit
dari tumpukan putih-putih
di sudut sempit

merinding
menatap detik
menitik
air mata miris

 

READ MORE

Lalai | Kemudian.com

Wednesday, 25 December 2013

[POETRY] Muak

bolehkah aku bertanya
oh cermin maha cermin
apakah yang kau pantulkan di wajah mulusmu itu
adalah kebenaran?
atau
kepalsuan?
dapatkah kau tampilkan
kebusukan dibalik keindahan?

jika boleh aku mengadu nasibku
kugantung!
kubuang jauh jauh sosok yang kusebut aku
karena aku muak!
muak akan sindiran manis bibirmu
yang menusuk seribu asa dan harapan
milikku
semuanya!

aku muak
dalam kesunyian aku berkutat
bibirmu yang seribu gelambir
dan wajahmu yang seribu rupa
kutoreh semua dalam ingatan kelabu


READ MORE

Muak | Kemudian.com

[SHORT STORY} Malam Sebelum Tahun Baru

Little Santas! by. Sylphermizt 


Malam. Gelap. Aku menguap saking tebalnya ruas-ruas mata berbaris di wajahku. Kutatap berkas-berkas di hadapanku yang berserakan tak menentu sambil menggaruk kepalaku. 'Lembur lagi,' pikirku. Aroma kopi buatan Dagger masih terbersit di benakku walaupun makan malam barusan sudah 2 jam berlalu.

Aku berdiri dan berjalan ke arah sofa, menatap rekan-rekanku yang tidur bergelimpangan dengan wajah konyol mereka sambil tersenyum. Kudekati Tim yang tertidur dalam posisi duduk sambil menepuk kepalanya, "Elda pulang tuh!" bisikku. Alis mata Tim berkerut dan mengigau, 'elda.. elda..' Aku terkekeh kemudian kembali ke meja kerjaku, harus menyelesaikan beberapa artikel untuk majalah yang akan dicetak besok. Artikel tahun baru.

Kuambil pena dari sakuku dan mulai menulis. 'Salah,' pikirku kemudian merobek kertas barusan, meremas kemudian membuangnya. Hal itu terus terulang, dan tanpa sengaja aku menyenggol tumpukan buku di sampingku, membuatnya jatuh berdebum.

"Eh, apa?!" seru Alyster, terbangun dari tidurnya dan menoleh ke arahku, "...Ed?"

"...Aha?"

"Kamu.. Ngapain?"

Aku tak sanggup menahan tawaku, melihat rambut Alyster yang amburadul dan kacamatanya yang menggantung di telinga kanannya, "Sudahlah Al. Tidur sana!" seruku cekikikan.

"Hee?" Alyster berdiri dan menghampiriku sambil berdecak menatap kertas-kertas sampah yang bertebaran di belakangku, "Kau boros kayak biasanya e?"

"Nggak ada inspirasi! Dan sialnya kenapa Mr. Robertsen nyuruh aku nyelesain semuanya?" seruku, menggerutu.

"Karena beliau pikir kamu yang paling kompeten, mungkin?"

"Kompeten? Apa hubungannya?"

"Entah. Jangan maksain dirimu lah. Sisain beberapa ke aku dan Lacie," katanya, menepuk pundakku kemudian kembali ke sofa, "karena dia pasti nggak mau pacarnya tambah tua gara-gara kerja, kan?"

"Diem kamu." kataku tersenyum kemudian berbalik menghadap meja, "Lacie, ya?"

"Cepet selesain. Dia nggak akan muncul bawa konfeti atau apa kalau kamu lembur setiap hari!"

Aku memasang wajah facepalm sambil menulis lagi. Artikel tahun baru, ya? Apa saja yang harus kutulis? Review selama setahun, kah? Atau kesan bekerja di MOOM? Apa mungkin--kutatap rekan-rekanku, Tim, Alyster, Ivonne, Drew, dan Dagger. Orang-orang yang bersamaku selang 5 tahun terakhir ini. Dan sama seperti tahun lalu, setiap menjelang tahun baru kami akan berkutat di ruangan ini, ruang kerja editing majalah yang sudah tua ini. Menikmati kopi bersama, tertawa bersama dan lainnya. Entahlah. Segalanya terasa begitu kurang tanpa mereka. Tim dengan Eldanya yang selalu ia banggakan, Alyster dengan sikap reck and carelessnya yang too obvious, Ivonne dengan cerutunya, Drew dengan over-persistancenya, dan Dagger dengan kopinya. 'Mereka..' pikirku sambil tersenyum kemudian menulis lagi.

Jam menunjukkan pukul 23.58. Beberapa menit lagi menuju tahun baru. Serentak kembang api membuncah, merekah dan merobek ketenangan malam, terpampang dari jendela kaca ruang kerjaku, "Selamat tahun baru," bisikku sambil menatap tulisan kecil di akhir artikelku yang telah rampung,
"A new year. A new bond. Eternal friendship. Eternal happiness,"
Aku tersenyum puas, beranjak dari tempat dudukku kemudian menyadari telepon genggamku bergetar pelan di saku celanaku. Kurogoh sakuku, tersenyum menatap log message yang muncul di layar, 'Lacie,' pikirku.
"Selamat tahun baru Ed. Happy new year for you :) I wish for us to have another amazing year together.. See you tomorrow~"
"Ya," jawabku pelan sambil menatap salah satu kembang api yang merekah di langit, "Happy new year."



READ MORE

Malam Sebelum Tahun Baru | Kemudian.com