Friday, 13 December 2013

[POETRY] Colors of Life

Have you ever see
The breeze that I loved
Once
I agonized it's flare
Fierce but warm
The breeze of courage

On a faraway hill
The people dance
Around their pure souls
Wind blows slowly
Grasps their smile
Brings the color
Of peace

On a faraway city
There's a dirt called pain
People around it
Agonized by fear
Those tainted hearts
With no mercy at all
Strikes the color of emerging hatred

On a deserted land
Lifes are flaring
Work hard in order to live
Smiles on their cheeks
Dirt around their skin
Hid the color of their fear
Brings the breeze of togetherness

Have you ever try to catch
The wind called hope
The colors are so bright, we can't see
Have you ever try to grasp
The wind called fate
No one knows
No one does
But they keep living
Yes they do
Paint those colors
The colors of life

Wednesday, 11 December 2013

[NOVEL] Hotaru Chapter: 2

"All people must work. Because without work no one will able to gain happiness. Happiness is not all about talk and kindness. Furthermore it needs and act called hard work,"

Aku terbangun. Gelap. Kukejap-kejapkan mataku, menatap kayu maroon klasik seperti papan panjang, membentang di depan hidungku. Aku dalam kondisi berdiri di sebuah tempat yang sangat sempit.

“Apa ini?” kataku kemudian mengetuk keras kayu di hadapanku itu, “Seseorang? Siapa saja?!” teriakku sambil mendorong kayu di hadapanku dan mencondongkan tubuhku hingga kayu – kayu itu membuka dan aku terpental kedepan, jatuh dengan miris, “Brugh!!”

Aku mengusap daguku dan merintih pelan sembari menatap sekelilingku. Sebuah ruangan tua menyerupai gudang yang berisi barang – barang antik seperti cermin besar, kursi, meja, pigura, patung dan sebagainya yang berserakan di seluruh ruangan. Lantainya terbuat dari kayu yang terlihat cukup rapuh. Sebuah lemari besar tersandar di belakangku, tempat seseorang ‘mengunciku’.

Sebuah jendela besar terpampang di salah satu dinding dan dengan ragu aku menyibakkan tirai merah berdebu yang menutupinya, “heee?” seruku terkejut. Yang kulihat bukan Gifu, desaku. Bukan hutan pula, melainkan sebuah perkotaan ramai yang sangat riuh dan hari sudah sangat siang.

“Apa ini?!” kataku sambil memicingkan mataku, melihat seekor gajah berpakaian ala pakaian tradisional Cina dan berjalan menggunakan dua kaki belakangnya, seekor jerapah berlari dikejar kera yang membawa dua bilah katana, kucing dan anjing berbelanja di kios – kios milik kambing dan semua yang bergerak dan beraktivitas di kota itu adalah hewan, “Dunia apa ini?! Apa ini drama? Apa aku bermimpi?!”

“Siapa diatas?!!” Terdengar suara laki – laki tua dari bawah lantai itu diikuti derap langkah berat yang kian mendekat, “Pencuri kah?”

Aku bergidik. Dengan cepat aku melompat masuk ke dalam lemari itu, lagi. 'Si penculik,' pikirku sambil mengintip dari lubang kunci.

Seekor tanuki dengan syal hitam , beberapa potongan kain menggantung di pinggangnya, dan tongkat kayu besar terikat di punggungnya masuk ke gudang  sembari mengendus - enduskan hidungnya, "Aneh. Ada bau aneh disekitar,," Ia berjalan mendekati lemari tempatku bersembunyi, ",, sini." katanya sambil mengerinyitkan mata, “Lemari ini,”

"Gawat!" pikirku sambil menahan nafasku.

"Bau manusia. Tapi wajar saja, mayat Abe berada di dalam sini." kata tanuki itu sambil mengetuk - ngetuk pintu lemari, "Puji Seimei." katanya lalu berjalan pergi.

Hening. Aku keluar dari lemari, menoleh ke kanan kiri kemudian melompat turun, “Apa aku bermimpi” tanyaku sambil mencubit pipiku, “Itte!” kataku merintih, “Ini bukan mimpi.”

Aku mendesah, menggaruk kepala sambil berjalan ke arah pintu gudang, “Aku harus pulang,” kataku kemudian membuka pintu.

Di seberang ruangan itu terdapat sebuah lorong sempit dengan tangga di ujungnya. Aku mengendap – endap menuruni tangga dan menjulurkan kepalaku ke bawah, mengamati ruangan di bawah tangga. Ruangan itu begitu ramai, penuh kain berwarna – warni dengan motif bunga beraneka ragam. Hewan – hewan berkeliaran memindahkan pakaian jadi dan kain.

“Semacam konveksi pakaian, ya” pikirku sambil terus mengendap – endap menuruni tangga. Saking sibuk dan ramainya, tak ada satu ‘orang’ pun yang menyadari keberadaanku.  Aku menyelinap diantara pakaian yang berjejer, mengenakan sebuah kimono putih polos dengan bau parfum yang sangat menyengat untuk menyamarkan bauku, dan selembar kain untuk menutupi rambut serta kepalaku, “Yosh.”

Aku merangkak keluar dan berhasil, “Sekarang.. kemana?” tanyaku sambil melihat sekeliling, “Ini benar – benar seperti parade di dunia hewan.” gumamku. Aku berjalan pelan sambil memperhatikan kegiatan hewan – hewan itu.

Sebuah barisan panjang dimana hewan – hewan mengenakan pakaian putih terjejer di depanku dan seekor babi yang berada di ujung barisan itu melambai – lambaikan sebuah kuas besar dengan dua kaki depannya sambil berseru, “Buruh! Buruh untuk Tuan Terra-Oni! Masuk masuk!”

Aku berjalan melewati barisan itu sambil menutupi wajahku dengan lengan kimono. Tiba – tiba seekor kucing menabrakku dan dengan marah memukul kepalaku, “Cepat antri!”

“eh apa?”

“Kau juga buruh untuk Tuan Terra-Oni kan? Cepat berbaris! Kereta sudah datang!” serunya sambil mendorongku ke arah barisan itu, “Cepat!”

“Aku bukan buruh!” seruku sambil mendorongnya, “aku ini..”

“Apa?” tanya kucing itu sambil mengenduskan hidungnya, “Baumu, dan pakaianmu juga. Itu adalah pakaian khusus buruh Terra-Oni. Kau tak bisa mengelak kecuali kau ingin aku menelanjangimu disini, sekarang!”

“Hee?” seruku sambil melompat mundur.

“Sa, ayo cepat!” kata kucing itu sambil menorehkan kuasnya di kimonoku, “Nomor 14. Masuk ke kereta!”



“Apa ini?” kataku sambil memegang kepala, duduk di pojok kereta barang yang bergerak pelan, “Kenapa aku bisa berada disini?” Kulihat sekitar ruangan kereta itu, dan banyak hewan bernasib sama sepertiku.

“Kau anak baru ya?” kata seekor rubah sambil duduk di sampingku, “Kau youkai apa? Monyet?” tanyanya sambil tersenyum, “Hajimemashite, aku Chizue, rubah kuil.”

“Youkai?” tanyaku heran, “Ini.. dimana?”

“Hee? Kau pasti pendatang baru. Jarang ada pendatang baru yang langsung jadi budak Terra-Oni. Siapa yang mengirimmu? Darimana kau ‘jatuh’?”

“Apa maksudmu, ettou, Chizue?”

“Tidak ada yang mengirimmu?” seru Chizue terkejut, “Kalau begitu dari mana kau datang?”

“Aku.. Saat pertama datang disini aku terjebak di sebuah lemari di konveksi pakaian dimana aku mendapat pakaian ini. Maksudku, mencuri pakaian ini.”

“Konveksi? Kenapa bisa?”

“Entahlah,” jawabku ragu, “Aku harus keluar dari sini.”

“Mengapa? Begitu masuk ke dunia roh, kau takkan bisa kembali hingga masa kelahiran kembalimu tiba.” jelas Chizue sambil menggelengkan kepalanya, “Aku baru saja sadar. Entah kenapa baumu lain,”

“Dunia roh? Hutan roh maksudmu?!” seruku terkejut, “hutan roh tempat roh manusia lahir kembali?”

“ngg.. sejenis itu..” jawab Chizue ragu, “Hey.. Sebenarnya kau.. apa?”

“Aku manusia,” jawabku sambil mengangguk kemudian menyentuh dadaku, “dan sepertinya aku masih hidup,”

“MANUSI...” teriak Chizue lalu aku mendekap mulutnya dengan tanganku, “Jangan berisik!” seruku. Beberapa hewan menoleh kearahku dan Chizue dengan heran, mendengar teriakan Chizue di ruangan dengan sinar remang – remang itu.

“T... Tapi.. itu tak mungkin.. Kau bergurau! Tak pernah ada seorang manusiapun yang bisa hidup di dunia roh. Kau pasti sudah mati!” bisik Chizue gemetar.

“Tapi coba dengar ini,” kataku sambil menempelkan telinga Chizue di dadaku, “Kau dengar detak jantungku?”

“I...Iya.. Sesuatu yang.. tidak dimiliki roh..” kata Chizue sambil menelan ludahnya, “Demi Seimei..”

“Jadi Chizue.. Ini adalah dunia roh?”

“I..Iya..”

“Kau bisa membantuku menemui ibuku?”

Chizue membelalakkan matanya, “Ibu?”

“Ya. Ibuku..” jawabku sambil mengangguk, “Ibuku yang meninggal 3 tahun lalu,”

“Tapi.. Itu sulit..” kata Chizue sambil menyentuh kepalanya, “Seingatku, roh mereka akan terlahir menjadi roh dengan wujud lain dan ingatan mereka akan pudar, sepertinya.”

“Tapi pasti ada cara! Karena aku..” kataku sambil memelankan suaraku, “anaknya,”

Chizue termenung dan menatapku, “Sepertinya kau benar. Kau tau, semenjak datang ke dunia roh ini, aku merasa seseorang entah dimana merindukanku,” katanya sambil tersenyum, “Semua makhluk hidup dan berbagi jutaan ingatan dengan orang - orang yang mereka cintai. Kenangan itu suatu saat akan memudar. Tapi pasti, suatu saat, kenangan - kenangan itu terungkap kembali dan air mata akan jatuh di pipi mereka dan hidup hingga mereka terlahir di kehidupan yang baru. Walaupun mereka hanya mengingat sebagian kecil pecahan – pecahan yang tersebar. Itu kata Mother Anonima.”

“Mother Anonima?”

“Orang yang aku temui pertama kali setelah tiba di dunia roh. Beliaulah yang menjelaskan tentang kehidupan dan dunia kepada kami, para roh.”

“Oh, begitu. Kata – kata  yang sangat in..” Sebelum aku menyelesaikan kata – kataku, sebuah tumbukan besar mengguncang kereta dan kereta pun berhenti, “Apa itu?”

“Kita sudah sampai!” seru Chizue sambil melompat ke sebuah kardus yang di dalamnya terdapat banyak kimono mewah, “Sembunyi disini!” bisiknya. Ruang kereta itu cukup gelap sehingga youkai lainnya tak menyadari gerak – gerik Chizue.

Aku melompat masuk ke dalam kardus. Chizue meniup telunjuknya dan api muncul di atas kukunya, menyegel kembali kardus itu seraya ia menggerakkan jarinya mengitari kardus itu, “Untuk sementara kira aman. Kita bisa menyamar menjadi tamu begitu pakaian ini dipindah ke ruang ganti Terra-Oni.” bisik Chizue sambil meniup apinya, “Aku sudah sering bertugas pada Terra-Oni.”

“Benarkah?” kataku lega, “Kenapa kau mau membantuku? Kita bahkan belum kenal.”

Chizue menatapku kemudian tersenyum, “Entahlah. Aku juga tak tau,”

“Terima kasih. Oya namaku Hosaka,” kataku sambil menjabat tangan Chizue, “Tapi nama kecilku akan kurahasiakan, karena terdengar seperti nama anak perempuan,”

“Fufu..” tawa Chizue sambil balas menjabat tanganku, “Yoroshiku na, Hosaka.”

Read More : Hotaru Chapter 2

Friday, 6 December 2013

[POETRY] Cabai, Kripik, dan Sambal


Pedas
Panas membara di telinga
Kau yang sok artis
Yang menyesakkan TV
Dengan gosip buruk yang buruk
Tebal muka buatku muak
Sana sini tebar senyum
Menggelitik
Koruptor
Apa kau ingat?
Masa dibalik kebusukanmu
Dimana kau hanya seorang bocah
Bocah putih
Pernahkah terlintas
Kenangan saat ujian
Mencontek?
Tidak
Menyalin?
Tidak
Zaman dulu semua ingin putih
Bukan hitam
Dan kau mungkin demikian
Mungkin
Namun apa?
Kau nodai rapormu yang putih
Dengan abu rokok hitam
Atau jas palsu
Dan nafasmu yang hitam pekat
Bagi rakyat
Untuk apa masa putihmu dulu?
Untuk apa sobat?
Eh kualat
Sudahlah silakan minggat
TV pun sudah bosan

Dengan kumis atau ekormu


Read More
http://www.kemudian.com/node/274657#.UqHI5_G1gmk.blogger



Wednesday, 4 December 2013

[POETRY] Dibalik Bunga Api

Tahun baru berarak
Bunga api membuncah
Semua bersorak
Suasana merekah
Sedang ia di barak
Berdegup dalam darah

Oh anak muda
Pantaskah kita berfoya-foya?
Diantara banyak suka
Tersisip duka
Mereka yang renta
Diantara yang bergelora
Tersisip luka
Bak bunga api menyala - nyala
Memecah langit senja

Mungkinkah?
Diantara sulur yang dibakar
Ratap lelah ia yang renta
Bergetar
Memegang dada dalam asa
Mungkinkah?
Nyawanya gemetar
Menahan ajal
Demi mereka yang mekar

READ MORE

Dibalik Bunga Api | Kemudian.com