I write poetry, novel with abalism types, drawings with animanga, traditional or abstract style, eat rice :3 and many more~
Sunday, 16 March 2014
KIK! Me :3
Click here to chat with me on Kik!: My username is sylphermizt on Kik Messenger, the crazy-fast, free, mobile messenging app. Click the link to chat with me!
Saturday, 8 March 2014
[NOVEL] Hotaru Chapter: 6
-Part 6-
“To believe in others
is one proof that oneself has heart.”
is one proof that oneself has heart.”
“Ha.. Hacchan?” tanya Chizue sambil melompat ke bahuku,
“Namamu? Haiku Hosaka kah?”
“Namamu? Haiku Hosaka kah?”
“Apa maksudmu haiku?
Kau kira aku puisi?”
Kau kira aku puisi?”
“Sudahlah nee-san. Emang
kenapa namanya? Aneh kah?” tanya Suzaku heran kemudian menepuk kepalaku, “Sebuah nama adalah berkah dari orang tuamu! Kau harus mensyukurinya!”
kenapa namanya? Aneh kah?” tanya Suzaku heran kemudian menepuk kepalaku, “Sebuah nama adalah berkah dari orang tuamu! Kau harus mensyukurinya!”
“E.. Ettou.. hai..”
“Soreyori nee-san, jadi gimana? Anak ini kenapa?”
tanya Suzaku lagi.
tanya Suzaku lagi.
Shiro bersin, mengendap-endap ke arah pintu halaman kemudian
pergi ke luar rumah Benzaiten.
pergi ke luar rumah Benzaiten.
“Oi.. Shiro!” teriak Suzaku, hendak mengejarnya.
“Kucchan, diamlah di sini. Biar Hacchan yang mengikutinya.”
kata Benzaiten pelan sambil mengelus ular putihnya.
kata Benzaiten pelan sambil mengelus ular putihnya.
“Tapi..” kataku ragu.
“Cepat Hacchan. Kau akan kehilangan jejak kenari itu!” seru
Benzaiten lagi diikuti desis marah ular putihnya.
Benzaiten lagi diikuti desis marah ular putihnya.
“H..Hai..” seruku, berlari keluar rumah Benzaiten bersama
Chizue.
Chizue.
“Ah.. hontou ni..”
“Apa?” tanya Suzaku pada Benzaiten, “Aku yakin neesan, ada sesuatu yang ingin kau
katakan padaku, kan?”
katakan padaku, kan?”
“Hmm, aku akan mengatakannya Kucchan. Hanya jika kau mau
melakukan sesuatu untukku,” jawab Benzaiten, memetik salah satu senar biwa-nya lagi, “dan aku yakin kau akan
melakukannya.”
melakukan sesuatu untukku,” jawab Benzaiten, memetik salah satu senar biwa-nya lagi, “dan aku yakin kau akan
melakukannya.”
Aku berlari keluar halaman bersama Chizue, mengejar Shiro
yang ternyata tidak begitu jauh dengan pintu gerbang rumah Benzaiten. Ia memainkan
jari-jarinya, nampak ragu.
yang ternyata tidak begitu jauh dengan pintu gerbang rumah Benzaiten. Ia memainkan
jari-jarinya, nampak ragu.
“Apa yang kau lakukan?”
Shiro menggelengkan kepalanya, berjalan ke belakangku dan
mendorongku ke arah sebuah jalan besar tempat beberapa lampion terpasang.
mendorongku ke arah sebuah jalan besar tempat beberapa lampion terpasang.
‘Tsukuyomi-no-Machi*,’
pikirku, melihat tulisan kanju yang terpampang di sebuah palang di sudut jalan
itu.
pikirku, melihat tulisan kanju yang terpampang di sebuah palang di sudut jalan
itu.
“Ini..” seru Chizue terkejut dengan mata berbinar-binar,
“Kalau tidak salah sebulan ini, masyarakat dunia roh merayakan festival bulan
baru..”
“Kalau tidak salah sebulan ini, masyarakat dunia roh merayakan festival bulan
baru..”
Lampu-lampu berbagai warna yang gemerlap memenuhi ruas jalan
besar dengan hiruk pikuk selayaknya pasar tradisional. Genderang bertalu-talu,
mengikuti alunan musik klasik khas Jepang yang meriah. Beberapa dewa terlihat
mabuk di sebuah kedai, beberapa lagi menonton pertunjukkan tari, ada yang
menghias rumahnya dengan mewah, dan beberapa dewa dengan postur seperti anak
kecil berlarian sembari menebar bunga-bunga kuning, lambang emas dan kekayaan.
besar dengan hiruk pikuk selayaknya pasar tradisional. Genderang bertalu-talu,
mengikuti alunan musik klasik khas Jepang yang meriah. Beberapa dewa terlihat
mabuk di sebuah kedai, beberapa lagi menonton pertunjukkan tari, ada yang
menghias rumahnya dengan mewah, dan beberapa dewa dengan postur seperti anak
kecil berlarian sembari menebar bunga-bunga kuning, lambang emas dan kekayaan.
“Festival yang mewah,” kataku sambil berjalan di antara
kerumunan ramai perayaan itu, “Shiro, ayo kembali..”
kerumunan ramai perayaan itu, “Shiro, ayo kembali..”
Shiro menggelengkan kepalanya, menatapku dengan geram
kemudian menunjuk ke sebuah kedai makanan yang ada di seberang jalan. Raut
wajah polosnya merengut, seakan-akan memaksaku untuk pergi ke kedai itu.
kemudian menunjuk ke sebuah kedai makanan yang ada di seberang jalan. Raut
wajah polosnya merengut, seakan-akan memaksaku untuk pergi ke kedai itu.
“Tapi aku tak punya uang.. Tapi tunggu dulu.. di sini kita
memerlukan uang juga?”
memerlukan uang juga?”
“Tidak.. Kau membayar menggunakan keterampilan,” jawab Chizue
sambil melambaikan ekornya, “Dewa sangat menyukai hal-hal unik dan indah, sehingga
kebahagiaan menurut mereka adalah yang utama. Kau bisa menghibur mereka untuk
memperoleh hal lain, seperti barter.”
sambil melambaikan ekornya, “Dewa sangat menyukai hal-hal unik dan indah, sehingga
kebahagiaan menurut mereka adalah yang utama. Kau bisa menghibur mereka untuk
memperoleh hal lain, seperti barter.”
“Aneh..” gumamku sambil menatap Shiro, “Jadi apa yang harus
kulakukan?”
kulakukan?”
Shiro berlari, tersenyum kepada dewi penjaga kedai yang
mengenakan bandana sutera dan pakaian kimono luar biasa indahnya. Nampaknya, ia
tak bermaksud membeli apapun. Pandangannya yang polos tertuju kepada dewi yang
menjaga kedai itu. Dewi itu sedang menyapu dan merapikan kursi yang berjejer di
sekeliling meja-meja kecil di depan kedainya, sampai Shiro menghampirinya.
mengenakan bandana sutera dan pakaian kimono luar biasa indahnya. Nampaknya, ia
tak bermaksud membeli apapun. Pandangannya yang polos tertuju kepada dewi yang
menjaga kedai itu. Dewi itu sedang menyapu dan merapikan kursi yang berjejer di
sekeliling meja-meja kecil di depan kedainya, sampai Shiro menghampirinya.
“Ara..Shiro-chan! O Hisashiburii desu ne!** Kau sehat?”
Shiro mengangguk dan tersenyum, mengedipkan matanya yang berbinar
seolah mengatakan ‘Ia sehat.’
seolah mengatakan ‘Ia sehat.’
“Shiro..” kata dewi itu terkejut kemudian hendak menyentuh
pipi Shiro, tapi Shiro menghalau tangannya, “.. Shiro..”
pipi Shiro, tapi Shiro menghalau tangannya, “.. Shiro..”
Shiro meringis pelan kemudian meletakkan telunjuknya di
depan bibirnya. Kemudian ia menoleh kepadaku sambil melambaikan tangannya,
tersenyum lebar.
depan bibirnya. Kemudian ia menoleh kepadaku sambil melambaikan tangannya,
tersenyum lebar.
“Hey Chizue.. Semenjak tadi aku penasaran,” kataku menatap
Chizue.
Chizue.
“Ya aku juga..” jawab Chizue seolah sudah tahu apa yang ada
di pikiranku, “Shiro bukannya tidak bisa bicara sejak awal. Ia.. kehilangan
suaranya.. mungkin..”
di pikiranku, “Shiro bukannya tidak bisa bicara sejak awal. Ia.. kehilangan
suaranya.. mungkin..”
Seorang dewa yang terkesan tua lewat di hadapan Shiro,
terkejut, meletakkan dagangannya di tanah dan memeluk Shiro erat, “Shiro! Yokatta! Kau tak tau betapa khawatirnya
aku semenjak sebulan lalu! Kau ke mana saja? Orang-orang kuil sangat
merindukanmu!”
terkejut, meletakkan dagangannya di tanah dan memeluk Shiro erat, “Shiro! Yokatta! Kau tak tau betapa khawatirnya
aku semenjak sebulan lalu! Kau ke mana saja? Orang-orang kuil sangat
merindukanmu!”
Shiro mendorong kakek itu, bernapas lega kemudian tersenyum.
Ia menggeleng kemudian menggerakkan jari-jari tangannya seakan ingin
mengatakan, ‘Aku tidak bisa bicara sekarang,’
Ia menggeleng kemudian menggerakkan jari-jari tangannya seakan ingin
mengatakan, ‘Aku tidak bisa bicara sekarang,’
“Ngg? Ada masalah dengan suaramu? Kalau begitu, setelah
kondisimu membaik datanglah ke kuil! Akan kulayani dengan sake terbaikku!” kata
sang kakek kemudian mengangkat barang dagangannya lagi, “Kalau begitu aku
duluan. Perayaan hampir mencapai
puncaknya! Ingatlah untuk datang ke Kuil Tsukuyomi besok. Sampai jumpa ya!”
kondisimu membaik datanglah ke kuil! Akan kulayani dengan sake terbaikku!” kata
sang kakek kemudian mengangkat barang dagangannya lagi, “Kalau begitu aku
duluan. Perayaan hampir mencapai
puncaknya! Ingatlah untuk datang ke Kuil Tsukuyomi besok. Sampai jumpa ya!”
Shiro melambaikan tangannya ke arah kakek itu, tiba-tiba
tersentak kaget dan menatapku, melambaikan tangannya lagi seolah memanggilku. Tapi
kali ini wajahnya terlihat menggerutu.
tersentak kaget dan menatapku, melambaikan tangannya lagi seolah memanggilku. Tapi
kali ini wajahnya terlihat menggerutu.
“Ayo Chizue..” kataku sambil terkekeh menanggapi tingkah
Shiro dan berjalan ke arahnya.
Shiro dan berjalan ke arahnya.
Shiro menepuk pundak dewi penjaga kedai permen tadi kemudian
mengarahkan tangannya padaku, seolah memperkenalkan dewi itu.
mengarahkan tangannya padaku, seolah memperkenalkan dewi itu.
“Oh.. Aku Kazuha Kurawari.. Salam kenal.. er..” kata Dewi
itu, Kazuha, menjulurkan tangannya hendak menyalamiku, “..namamu?”
itu, Kazuha, menjulurkan tangannya hendak menyalamiku, “..namamu?”
“.. Aku Hosaka.. Salam kenal..” jawabku, menjabat tangannya.
Begitu menyentuh tanganku, Kazuha terkejut dan menatapku
heran, “Kau.. aneh..” katanya.
heran, “Kau.. aneh..” katanya.
“Ettou.. “ kataku
ragu sambil tersenyum, “Aneh maksudnya?”
ragu sambil tersenyum, “Aneh maksudnya?”
“Ngg.. Mungkin itu hanya perasaanku saja. Kau baru di sini?”
“Iya.”
“..Kau siapanya Shiro-chan?”
‘Kau diinterogasi.’ pikir Chizue terkekeh sambil menatapku.
“Aku hanya..” kataku ragu kemudian menatap Shiro. Kembali
aku teringat saat Shiro menciumku dan mendadak wajahku memerah, “hanya
temannya.”
aku teringat saat Shiro menciumku dan mendadak wajahku memerah, “hanya
temannya.”
Mata Shiro sebelumnya berbinar, seolah ia mengharapkanku
mengatakan sesuatu yang terkesan lebih spesial. Kemudian, setelah mendengarku
menjawab ‘teman’ wajahnya langsung merengut.
mengatakan sesuatu yang terkesan lebih spesial. Kemudian, setelah mendengarku
menjawab ‘teman’ wajahnya langsung merengut.
“Oh begitu..” jawab Kazuha kemudian menguap, “Oh ya.. Ne.. ne.. Shiro-chan, untuk menyambut
kedatangan teman barumu, bagaimana kalau Shiro-chan nyanyi?”
kedatangan teman barumu, bagaimana kalau Shiro-chan nyanyi?”
“Eh? Menyanyi? Shiro?” tanyaku heran kemudian menatap Shiro.
Shiro diam, memainkan jari-jarinya kemudian ‘memasang’ wajah
memelas dan menggelengkan kepalanya.
memelas dan menggelengkan kepalanya.
“Kau tak tau? Shiro-chan itu kenari distrik dewa lho..” kata
Kazuha, tersenyum bangga.
Kazuha, tersenyum bangga.
“Kenari?” kata Chizue pelan, “Maksudmu Shiro biasa nyanyi?”
“Ya.. Suara Shiro-chan sangat indah. Tapi aku heran, semenjak
dua bulan lalu Shiro-chan nggak pernah kelihatan,” Kazuha menatap Shiro, “Seperti
kata Tenjin-sama, Shiro-chan, kau ke mana saja?”
dua bulan lalu Shiro-chan nggak pernah kelihatan,” Kazuha menatap Shiro, “Seperti
kata Tenjin-sama, Shiro-chan, kau ke mana saja?”
Shiro diam dan menunduk. Aku merasa tangannya bergetar dan
ia hendak menangis. Tiba-tiba Shiro melompat, menepuk pipinya, dan mengambil
sebuah koto*** dari lemari kecil di dalam kedai Kazuha.
ia hendak menangis. Tiba-tiba Shiro melompat, menepuk pipinya, dan mengambil
sebuah koto*** dari lemari kecil di dalam kedai Kazuha.
“Eh? Mau kau apakan koto itu ne?”
Shiro menyerahkan koto itu padaku kemudian duduk di salah
satu kursi yang terjejer di depan kedai.
satu kursi yang terjejer di depan kedai.
“Kau ingin aku memainkan koto ini?” seruku kaget, “tapi
aku..”
aku..”
Shiro menatapku dengan penuh harap kemudian mengangguk.
“Tapi..”
“Mainkanlah Hosaka..” kata Kazuha, menepuk pundakku, “anggap
saja sebagai salam perkenalan. Jika permainanmu bagus, akan kuberikan benda
yang bagus juga.”
saja sebagai salam perkenalan. Jika permainanmu bagus, akan kuberikan benda
yang bagus juga.”
“Hee?” gumamku
pelan, “..Baiklah.. Tapi aku masih pemula..”
pelan, “..Baiklah.. Tapi aku masih pemula..”
Koto. Alat musik yang identik dengan ibu. Ibu dulu selalu
memainkannya setiap malam bulan purnama. Seperti hari ini di dunia roh.
memainkannya setiap malam bulan purnama. Seperti hari ini di dunia roh.
‘Apa ibu akan memainkannya hari ini? Aku ingin tahu,’
pikirku pelan kemudian meletakkan koto itu di depanku, sembari duduk bersimpuh
di tanah, menghela napas dan mulai memetik senar-senar pada koto tersebut, ‘Semoga
ibu bisa mendengar permainanku, di mana pun ibu berada. Lagu ini.. Lagu yang
selalu ibu nyanyikan untukku, Haru no Umi..’
pikirku pelan kemudian meletakkan koto itu di depanku, sembari duduk bersimpuh
di tanah, menghela napas dan mulai memetik senar-senar pada koto tersebut, ‘Semoga
ibu bisa mendengar permainanku, di mana pun ibu berada. Lagu ini.. Lagu yang
selalu ibu nyanyikan untukku, Haru no Umi..’
Dunia itu, dunia roh adalah dunia yang penuh hal-hal luar
biasa. Karena itu aku tak heran saat percikan keemasan memancar, mengelilingiku
seiring jari-jariku memetik senar dengan irama. Dewa dewi yang sebelumnya hiruk
pikuk dengan kegiatan mereka, satu per satu mendekat untuk melihat permainanku.
biasa. Karena itu aku tak heran saat percikan keemasan memancar, mengelilingiku
seiring jari-jariku memetik senar dengan irama. Dewa dewi yang sebelumnya hiruk
pikuk dengan kegiatan mereka, satu per satu mendekat untuk melihat permainanku.
Selang lima menit berlalu, kubuka mata dan kuakhiri
permainanku. Aku terkejut. Begitu banyak orang berkumpul di sekelilingku, riuh,
berdecak kagum, dan menepuk tangan.
permainanku. Aku terkejut. Begitu banyak orang berkumpul di sekelilingku, riuh,
berdecak kagum, dan menepuk tangan.
“Uuh.. Hosaka.. Kau luar biasa!” seru Kazuha berderai air
mata haru dan memelukku, “Indah sekali! Kau harus sering melakukan pertunjukan
keliling! Harus!”
mata haru dan memelukku, “Indah sekali! Kau harus sering melakukan pertunjukan
keliling! Harus!”
“Eh.. Syukurlah kau menyukainya..” kataku gugup. Dewa-dewa
lain masih berkerumun dan menyalamiku, menyambutku sebagai anggota baru mereka.
lain masih berkerumun dan menyalamiku, menyambutku sebagai anggota baru mereka.
Di dalam kerumunan itu, aku tak menemukan sosok Shiro dan
Chizue, “Shiro?” panggilku, “Chizue?! Di mana kalian?”
Chizue, “Shiro?” panggilku, “Chizue?! Di mana kalian?”
Tak ada. Mereka tidak ada di sana. Keramaian mulai mereda
seraya para dewa kembali melaksanakan aktivitas mereka.
seraya para dewa kembali melaksanakan aktivitas mereka.
“Hosaka?” tanya Kazuha sambil menoleh ke arahku, “Kenapa?”
“Mana Shiro?” tanyaku gugup, “Tadi aku rasa dia duduk di
sini. Bersama Chizue..”
sini. Bersama Chizue..”
Kazuha mengambil cangkir kotor
yang ada di salah satu meja kedainya, mengernyitkan alisnya, “Kenapa? Kau tak
harus selalu bersamanya kan? Shiro-chan bukan penghuni baru di sini. Ia takkan
tersesat! Paling nanti juga Shiro-chan akan pulang ke rumahnya, seperti biasa.”
yang ada di salah satu meja kedainya, mengernyitkan alisnya, “Kenapa? Kau tak
harus selalu bersamanya kan? Shiro-chan bukan penghuni baru di sini. Ia takkan
tersesat! Paling nanti juga Shiro-chan akan pulang ke rumahnya, seperti biasa.”
“Oh..” kataku pelan, “T..Tapi..”
“Kau khawatir?” tanyanya lagi
kemudian menyentuh daguku, “Jangan bilang kau menyukainya?”
kemudian menyentuh daguku, “Jangan bilang kau menyukainya?”
“Eh..” seruku kaget, “B.. Bukan
itu maksudku..”
itu maksudku..”
“Aku tahu, aku tau. Kau terlihat..
“ Kazuha berbisik di telingaku, “ masih perawan, ya?”
“ Kazuha berbisik di telingaku, “ masih perawan, ya?”
“Eh?!”
Kazuha tersenyum sambil menepuk
dahiku, “Dasar! Kau terlalu mudah untuk ditebak!”
dahiku, “Dasar! Kau terlalu mudah untuk ditebak!”
“Kazuha-sama.. “ kataku dengan
wajah memerah.
wajah memerah.
“Tapi,” Tiba-tiba ekspresi wajah
Kazuha berubah, “jangan sampai kau menyukai Shiro-chan, Hosaka. Karena ada
orang lain yang lebih, lebih mencintainya hingga mempertaruhkan segalanya.”
Kazuha berubah, “jangan sampai kau menyukai Shiro-chan, Hosaka. Karena ada
orang lain yang lebih, lebih mencintainya hingga mempertaruhkan segalanya.”
Aku tertegun. Kugaruk kepalaku
dan mengangguk, “Iya, aku tau.. aku tau..”
dan mengangguk, “Iya, aku tau.. aku tau..”
“Bagus. Sekarang, bantu aku bersih-bersih dulu. Baru kau
akan kuantar ke rumah Shiro-chan,” Kazuha melirikku dengan sebelah matanya
kemudian tersenyum, “dan tentu saja imbalan atas permainanmu.”
akan kuantar ke rumah Shiro-chan,” Kazuha melirikku dengan sebelah matanya
kemudian tersenyum, “dan tentu saja imbalan atas permainanmu.”
“Y..Ya..”
Aku tak tau. Aku baru hari ini
bertemu dengannya, dengan Shiro. Gadis seumuran
denganku yang tingkahnya terlihat masih kekanak-kanakan. Namun, sepertinya ia
menyembunyikan begitu banyak rahasia, begitu banyak hal pahit. Dan aku tahu,
salah satunya pasti menyangkut keberadaanku di sini.
bertemu dengannya, dengan Shiro. Gadis seumuran
denganku yang tingkahnya terlihat masih kekanak-kanakan. Namun, sepertinya ia
menyembunyikan begitu banyak rahasia, begitu banyak hal pahit. Dan aku tahu,
salah satunya pasti menyangkut keberadaanku di sini.
‘Chizue sudah berada bersamanya.
Aku harus tenang,’ Kuambil koto itu dari tanah dan meletakkannya lagi di lemari,
‘Shiro, ya? Entah kenapa aku merasa, aku pernah bertemu dengannya di suatu
tempat. Shiro..’ pikirku sambil menatap rembulan.
Aku harus tenang,’ Kuambil koto itu dari tanah dan meletakkannya lagi di lemari,
‘Shiro, ya? Entah kenapa aku merasa, aku pernah bertemu dengannya di suatu
tempat. Shiro..’ pikirku sambil menatap rembulan.
“Shiro!” seru Chizue, melompat ke
arah Shiro yang duduk di sebuah lorong gelap cukup jauh dari Tsukuyomi-no-Machi, “K.. Kenapa..”
arah Shiro yang duduk di sebuah lorong gelap cukup jauh dari Tsukuyomi-no-Machi, “K.. Kenapa..”
Air mata Shiro menitik
dan ia menyembunyikan wajahnya, “H..Ha.. Ha..” bisiknya lirih, tiba-tiba
tubuhnya bergetar dan ia semakin meringkuk menahan sakit, namun Chizue tidak
mendengarnya.
dan ia menyembunyikan wajahnya, “H..Ha.. Ha..” bisiknya lirih, tiba-tiba
tubuhnya bergetar dan ia semakin meringkuk menahan sakit, namun Chizue tidak
mendengarnya.
“O..Oi.. Shiro!”
Di rumah Benzaiten, Suzaku duduk
di tatami depan kamar Benzaiten sambil mendesah kecewa, menatap telapak tangan
kanannya, “Jadi begitu.. Dasar, Shiro bodoh!” katanya sambil mengepal tangan
kanannya, “Neesan, kalau sudah
begini, apa yang harus kulakukan?”
di tatami depan kamar Benzaiten sambil mendesah kecewa, menatap telapak tangan
kanannya, “Jadi begitu.. Dasar, Shiro bodoh!” katanya sambil mengepal tangan
kanannya, “Neesan, kalau sudah
begini, apa yang harus kulakukan?”
Benzaiten berhenti memainkan biwa-nya, menatap Suzaku lembut, “Tidak
ada.”
ada.”
“Tapi kalau begini terus, Shiro..”
“Kau tak ingin melukainya, kan?
Inilah jalan yang Shicchan pilih. Inilah yang ia inginkan.” Benzaiten
mengarahkan tangannya ke langit, “Karena itu Kucchan, apa kau akan menghancurkan
harapannya demi menyelamatkannya, atau kau akan membuatnya bahagia, walau kau
tahu hal itu pun akan membunuhnya? Apa yang akan kau lakukan?”
Inilah jalan yang Shicchan pilih. Inilah yang ia inginkan.” Benzaiten
mengarahkan tangannya ke langit, “Karena itu Kucchan, apa kau akan menghancurkan
harapannya demi menyelamatkannya, atau kau akan membuatnya bahagia, walau kau
tahu hal itu pun akan membunuhnya? Apa yang akan kau lakukan?”
“Aku tau.. Aku tau.. Tapi, aku.. Kuso****!” seru Suzaku marah.
Sekelebat angin besar berhembus
di langit distrik dewa yang menjelang malam, melewati sebuah rumah dewa mewah
dan bertingkat. Seorang dewi dengan paras elok dan kimono keemasan yang mewah
duduk menatap langit, memperbaiki rambutnya yang terkena desir angin.
di langit distrik dewa yang menjelang malam, melewati sebuah rumah dewa mewah
dan bertingkat. Seorang dewi dengan paras elok dan kimono keemasan yang mewah
duduk menatap langit, memperbaiki rambutnya yang terkena desir angin.
“Bulannya, indah sekali. Seperti permainan
koto sore tadi. Aku ingin tahu, siapa yang memainkannya?” katanya pelan sambil
tersenyum menatap bulan kemudian memainkan koto-nya dengan anggun, “Haru.. no Umi..”
koto sore tadi. Aku ingin tahu, siapa yang memainkannya?” katanya pelan sambil
tersenyum menatap bulan kemudian memainkan koto-nya dengan anggun, “Haru.. no Umi..”
-End Of Chapter 6-
Keterangan Tambahan:
*) Tsukuyomi-no-Machi : Sebuah jalan (yang saya buat
secara asal LOL) yang mencirikan dewa bulan/malam, Tsukuyomi :)
secara asal LOL) yang mencirikan dewa bulan/malam, Tsukuyomi :)
**) O hisashiburii
desu ne : Lama tak berjumpa
desu ne : Lama tak berjumpa
***) Koto : alat musik khas jepang yang dimainkan dengan
cara dipetik.
cara dipetik.
****) kuso :
istilah jepang seperti sial dsb (saya sering denger di anime ^^”)
istilah jepang seperti sial dsb (saya sering denger di anime ^^”)
READ MORE
Hotaru Chapter: 6 | Kemudian.com
Subscribe to:
Comments (Atom)