Monday, 30 December 2013

[POETRY] Asap

kala aku
meratapi dosa di atas api
keabadiannya takkan menjadi abu
tak bisa kupungkiri
bernaung dalam kelambu, masa lalu
yang kujahit dalam diri

kataku dan katamu
berakhir bisu
bisu dalam ratap
dan kamu tak juga menatap
aku yang ragu
bahuku yang layu
dan semerbak duka yang lama
mekar menyala-nyala

dunia yang berkelakar
apakah ini drama semata?
kata yang berubah murka
tawa yang ditampar lara
semua tak sama
penuh keganjilan maya

biarlah dosa menjadi abu
dalam malam-malam lalu
biarlah hati menjadi luluh
oleh sepatah katamu
"maafkan aku"



READ MORE

Asap | Kemudian.com

Saturday, 28 December 2013

[POETRY] Lalai

sakit
badan berkelit
dari tumpukan putih-putih
di sudut sempit

merinding
menatap detik
menitik
air mata miris

 

READ MORE

Lalai | Kemudian.com

Wednesday, 25 December 2013

[POETRY] Muak

bolehkah aku bertanya
oh cermin maha cermin
apakah yang kau pantulkan di wajah mulusmu itu
adalah kebenaran?
atau
kepalsuan?
dapatkah kau tampilkan
kebusukan dibalik keindahan?

jika boleh aku mengadu nasibku
kugantung!
kubuang jauh jauh sosok yang kusebut aku
karena aku muak!
muak akan sindiran manis bibirmu
yang menusuk seribu asa dan harapan
milikku
semuanya!

aku muak
dalam kesunyian aku berkutat
bibirmu yang seribu gelambir
dan wajahmu yang seribu rupa
kutoreh semua dalam ingatan kelabu


READ MORE

Muak | Kemudian.com

[SHORT STORY} Malam Sebelum Tahun Baru

Little Santas! by. Sylphermizt 


Malam. Gelap. Aku menguap saking tebalnya ruas-ruas mata berbaris di wajahku. Kutatap berkas-berkas di hadapanku yang berserakan tak menentu sambil menggaruk kepalaku. 'Lembur lagi,' pikirku. Aroma kopi buatan Dagger masih terbersit di benakku walaupun makan malam barusan sudah 2 jam berlalu.

Aku berdiri dan berjalan ke arah sofa, menatap rekan-rekanku yang tidur bergelimpangan dengan wajah konyol mereka sambil tersenyum. Kudekati Tim yang tertidur dalam posisi duduk sambil menepuk kepalanya, "Elda pulang tuh!" bisikku. Alis mata Tim berkerut dan mengigau, 'elda.. elda..' Aku terkekeh kemudian kembali ke meja kerjaku, harus menyelesaikan beberapa artikel untuk majalah yang akan dicetak besok. Artikel tahun baru.

Kuambil pena dari sakuku dan mulai menulis. 'Salah,' pikirku kemudian merobek kertas barusan, meremas kemudian membuangnya. Hal itu terus terulang, dan tanpa sengaja aku menyenggol tumpukan buku di sampingku, membuatnya jatuh berdebum.

"Eh, apa?!" seru Alyster, terbangun dari tidurnya dan menoleh ke arahku, "...Ed?"

"...Aha?"

"Kamu.. Ngapain?"

Aku tak sanggup menahan tawaku, melihat rambut Alyster yang amburadul dan kacamatanya yang menggantung di telinga kanannya, "Sudahlah Al. Tidur sana!" seruku cekikikan.

"Hee?" Alyster berdiri dan menghampiriku sambil berdecak menatap kertas-kertas sampah yang bertebaran di belakangku, "Kau boros kayak biasanya e?"

"Nggak ada inspirasi! Dan sialnya kenapa Mr. Robertsen nyuruh aku nyelesain semuanya?" seruku, menggerutu.

"Karena beliau pikir kamu yang paling kompeten, mungkin?"

"Kompeten? Apa hubungannya?"

"Entah. Jangan maksain dirimu lah. Sisain beberapa ke aku dan Lacie," katanya, menepuk pundakku kemudian kembali ke sofa, "karena dia pasti nggak mau pacarnya tambah tua gara-gara kerja, kan?"

"Diem kamu." kataku tersenyum kemudian berbalik menghadap meja, "Lacie, ya?"

"Cepet selesain. Dia nggak akan muncul bawa konfeti atau apa kalau kamu lembur setiap hari!"

Aku memasang wajah facepalm sambil menulis lagi. Artikel tahun baru, ya? Apa saja yang harus kutulis? Review selama setahun, kah? Atau kesan bekerja di MOOM? Apa mungkin--kutatap rekan-rekanku, Tim, Alyster, Ivonne, Drew, dan Dagger. Orang-orang yang bersamaku selang 5 tahun terakhir ini. Dan sama seperti tahun lalu, setiap menjelang tahun baru kami akan berkutat di ruangan ini, ruang kerja editing majalah yang sudah tua ini. Menikmati kopi bersama, tertawa bersama dan lainnya. Entahlah. Segalanya terasa begitu kurang tanpa mereka. Tim dengan Eldanya yang selalu ia banggakan, Alyster dengan sikap reck and carelessnya yang too obvious, Ivonne dengan cerutunya, Drew dengan over-persistancenya, dan Dagger dengan kopinya. 'Mereka..' pikirku sambil tersenyum kemudian menulis lagi.

Jam menunjukkan pukul 23.58. Beberapa menit lagi menuju tahun baru. Serentak kembang api membuncah, merekah dan merobek ketenangan malam, terpampang dari jendela kaca ruang kerjaku, "Selamat tahun baru," bisikku sambil menatap tulisan kecil di akhir artikelku yang telah rampung,
"A new year. A new bond. Eternal friendship. Eternal happiness,"
Aku tersenyum puas, beranjak dari tempat dudukku kemudian menyadari telepon genggamku bergetar pelan di saku celanaku. Kurogoh sakuku, tersenyum menatap log message yang muncul di layar, 'Lacie,' pikirku.
"Selamat tahun baru Ed. Happy new year for you :) I wish for us to have another amazing year together.. See you tomorrow~"
"Ya," jawabku pelan sambil menatap salah satu kembang api yang merekah di langit, "Happy new year."



READ MORE

Malam Sebelum Tahun Baru | Kemudian.com

Monday, 23 December 2013

[POETRY] Musikalisasi Kehidupan

Tahukah kau
Lagu hati manusia
Mengalir lembut dalam kalbu
Tubuh dan jiwa
Bergejolak bimbang namun merdu
Kehidupan

Pernahkah kau dengar
Tangisan hujan?
Pernahkah kau terka
Gurauan rerumputan?
Pernahkah kau rasa
Panas api amarah?
Pernahkah kau tanya
Perasaan manusia?
Semuanya
Misteri kehidupan dalam jutaan rasa

Kehidupan
Anugerah kasat mata yang nyata
Hayal
Segalanya berupa tanya
Jawabannya seribu jika
Indahnya sebatas indera
Hangatnya sekejap terasa

Apakah
Melodi ini akan berakhir
Dalam pelukan surga yang maya?
Atau neraka sepahit getir?


READ MORE

Musikalisasi Kehidupan | Kemudian.com

Wednesday, 18 December 2013

[NOVEL] Hotaru Chapter: 3




”There’s a time where people started to change. The change occurs like the flow of the water. They can move and fade easily like the wind. One of them called love.”


Aku dan Chizue masih berada dalam kardus pakaian milik Terra-Oni, sementara beberapa budak mengangkut kardus itu ke ruang ganti di kediaman Terra-Oni.

Brugh. Suara kardus berdebum dan pintu ditutup.

“Chizue..”

“Sssstt! Diam..” bisik Chizue lirih sambil menempelkan telinganya pada kardus, “Ada sesuatu di luar,”

“Hee?”

“Jangan bergerak..” Chizue memejamkan matanya dan menghela napas, “sebentar saja,”
Aku menelan ludah, memicingkan telingaku hingga 5 menit berlalu kemudian Chizue menyalakan api dari telunjuknya, “Sepertinya sudah..”

Chizue melepas segel api yang sebelumnya ia buat kemudian kardus terbuka. Aku melangkah keluar, menyadari napasku sedikit tersengal-sengal, ‘Bukti aku manusia, ya?’ pikirku.

Ruangan itu nampak seperti ruang ganti. Berkat sinar remang-remang yang menerobos ventilasi aku dapat melihat gunungan kardus dengan lemari-lemari besar dan pakaian berserakan diantaranya, “Berantakan,,”

Sou.. Sekarang ganti pakaianmu dengan salah satu jubah ini. Usahakan agar baumu tetap tertutupi,” kata Chizue sambil menyodorkan beberapa potong jubah dengan corak dan motif unik, “Bertingkahlah,,” lanjutnya sambil berpikir, “seperti seorang pedagang!”

“Pedagang?”

“Ya. Satu-satunya tamu Terra-Oni yang diperbolehkan masuk selain perwakilan dari distrik lain adalah pedagang. Terutama pedagang pakaian karena Terra-Oni sangat fanatik dengan pakaiannya,” kata Chizue sambil menumpuk beberapa potong pakaian yang terlihat berkelas ke dalam sebuah kardus, “Pakaian menentukan pantas tidaknya perkataan seseorang, katanya.”

“Fanatisme pakaian?”

“Sepertinya,” jawab Chizue singkat kemudan menguap, “Setidaknya ia orang yang cukup teliti.”

Hee?” seruku heran, “Apa ia.. kuat?”

“Terra-Oni? Tentu saja. Kenapa kau bertanya?”

“Karena kalau kita ketahuan, bisa saja ia membunuh kita, kan?”

“Kamu, bukan kita.” jawab Chizue sambil tersenyum mengejek, “Jika hal buruk terjadi, aku bisa tetap bekerja menjadi budak disini. Lagipula, roh tak bisa mati hingga hari kelahiran kembali mereka tiba. Paling buruk, mereka akan mendapat siksaan, itu saja.”

“Hey, jangan bercanda! Katamu kau akan membantuku mencari ibuku!”

“Tapi jika itu tak membahayakan, kan? Karena aku juga,” kata Chizue kemudian menatapku tajam, “punya harapan yang harus kucapai apapun yang terjadi.”

“C.. Chizue,” kataku lirih, “ma..”

“Sudah cepat! Sebelum mereka menyadari ketidak-hadiran kita!” serunya sambil membenarkan selendang yang menggantung di lehernya lalu mengangkat kardus berisi pakaian itu di punggungnya, “Ayo!”

“Biar aku yang bawa,” kataku kemudian mengambil kardus itu dan membuka pintu, “Kau tunjukkan jalannya.”

Um..




“Ke kanan,” kata Chizue sambil berjalan pelan di lorong besar rumah Terra-Oni yang penuh lukisan antik dan hiasan porselen di tiap dindingnya, “kita masuk ke pintu hijau itu. Itu ruang tamu.”

“Luasnya..”

“Ini belum seberapa. Kau akan lebih terkejut lagi saat masuk ke tempat peristirahatan Terra-Ryou, mantan penguasa dunia roh bagian timur.”

“Bagian timur?” tanyaku pelan sambil memperhatikan langkahku, “Maksudmu dunia ini ada daerah khususnya juga?”

“Ya,” jawab Chizue, “Dunia dewa ada di bagian utara. Disini, distrik timur adalah dunia roh hewan. Distrik barat adalah dunia roh tak berbentuk dan distrik selatan adalah dunia setan. Jadi jika kau ingin menemui ibumu, kau harus memeriksa keempat distrik itu.” Chizue menatapku lagi, “Kau siap?”

“Tentu saja!” teriakku cukup keras.

Souka..” kata Chizue sambil tersenyum, “Buktikan anak muda.”

“Apa maksudmu anak..”

Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, pintu hijau di hadapanku terbuka. Seekor kelinci dengan pakaian buruh yang berada di seberang pintu menatapku dan Chizue dengan heran, “Kalian siapa?”
“eh..” seruku terkejut, “Chizue..”

“Oh, ini Tuan Hosaka dari distrik dewa,” seru Chizue sambil berlari ke hadapan kelinci itu, “Beliau ingin menemui Tuan Terra-Oni untuk mempersembahkan pakaian terbaru dan berkelas dari sana,”

“Oh, selamat datang tuan.” kata kelinci itu sambil membungkuk dan nampak salah tingkah, “Saya akan menyiapkan keperluan anda. Anda bisa menemui tuan setelah siang karena tuan sedang tidur. Silakan menunggu di sini.”

“Oh, ya. Kami hanya sebentar. Lanjutkan saja pekerjaanmu.” kataku sambil meletakkan kardus di lantai.

Kelinci itu dengan terkejut berkata,“Eh? Ano..”

“K.. Kenapa?”

“Maksud Tuanku, beliau tidak memerlukan apapun untuk sekarang. Biar saya yang mengurus keperluan beliau karena mereka bisa dikatakan sangat spesifik, mengerti?” kata Chizue sambil membungkuk di hadapan kelinci itu dan tersenyum.

“Oh, baiklah. Permisi.” jawab kelinci itu kemudian keluar ruangan dan menutup pintu.
Chizue melompat ke sofa dan menghela napas, “Huh, kau tak seharusnya merendah di dunia roh hewan. Secara tipuan barusan, kau berasal dari strata yang lebih tinggi, dewa. Dan pada umumnya dewa memiliki harga diri yang tinggi jadi hati-hati dengan lidahmu.”

“Oh begitu?” Aku merebahkan tubuhku dan mengusap perutku, “Entah kenapa aku merasa lapar.”

“Ya, aku juga. Setelah kita berhasil keluar dari sini akan kutraktir ramen.

“Roh bisa lapar?” tanyaku heran, “Katamu roh tidak memiliki hal yang seharusnya dimiliki makhluk hidup?”

“Kami berbeda. Roh hewan, setan, dan tak berbentuk merupakan roh dengan hubungan terdekat dengan dunia nyata. Mereka masih memiliki rasa sakit, amarah, kesedihan, dan perasaan. Karena itu, umur dan waktu untuk kami mengalami kelahiran kembali menjadi makhluk hidup relatif singkat,” Chizue menjelaskan, “mengerti?”

“Sedikit,” jawabku.­­

“Begitulah. Hidup menjadi roh bawah hampir mirip dengan menjadi makhluk hidup.”

Souka..” gumamku pelan.

“Eh tidak. Mungkin, lebih menyedihkan..” lanjut Chizue sambil memasang tampang sedih di wajahnya.

Aku menelan ludahku, “Chizue..”

“Hm?”

“Barusan, kau..”

“Apa?” tanya Chizue sambil menguap, “Kenapa?”

“..tidak.. tak apa..”

“Hng? Kau menarik Hosaka,” kata Chizue sambil menepuk kepalaku, “hidup itu indah, ya?”

“Apa maksudmu? Bodoh! Siapapun tau kalau hidup itu indah!” bentakku keras sambil balik menggosok kepala Chizue.

“Tapi dalam ajaran agama tidak,” elak Chizue sembari terkekeh, "Oya, ada satu lagi hal yang selalu Terra-Oni ujarkan pada siapa saja."

"Apa? Kenapa tiba-tiba mengganti topik?" ujarku.

"Haah. Dengarkan!" bentak Chizue, "Begini. Semua orang harus bekerja. Karena tanpa bekerja, mereka takkan bisa mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan bukan sekedar omongan dan kebaikan saja. Hal itu memerlukan sikap dan perbuatan yang dinamakan kerja keras, mengerti?"

"Souka.. Lalu?"

"Ya begitu," Chizue melompat turun dari sofa, "kurasa kau akan memerlukannya, mungkin?"

"Chizue, kamu.."

“Sudah, bersiaplah sekarang. Terra-Oni sudah bangun.”

“Darimana kau tau?”

“Aroma parfum menyengat yang ia gunakan untuk menerima tamu,” jawab Chizue sambil tersenyum, “beraktinglah dengan baik anak muda.”




Pintu hijau terbuka dan iring-iringan musik diikuti genderang bertalu-talu memenuhi ruangan. Beberapa kelinci melompat memasuki ruang tamu, melemparkan bunga-bunga wangi bak konfeti dan rubah-rubah budak menggunakan kuas ajaib mereka untuk melukis sinar berwarna-warni yang melayang bebas dan menghiasi ruangan. Diantara semua itu, sebuah tandu emas dijinjing oleh 4 ekor berang-berang dan Terra-Oni duduk diatasnya sementara 2 ekor ayakashi semacam kucing mengipasinya, hingga mereka tiba di tengah ruangan dan sebuah singgasana klasik muncul dari lantai. Tandu itu menghilang dan Terra-Oni duduk di singgasananya, diikuti munculnya red carpet­ membentang membentuk jalan dari singgasana ke pintu hijau.

Aku terbujur kaku melihat penampilan spektakuler Terra-Oni dan pengikutnya. Kutarik-tarik ekor Chizue sambil berbisik, “Apa ini?”

“Diam.” jawab Chizue dingin.

“S..Seekor tanuki?” bisikku lagi pada Chizue.

“Sstt! Diam!” Chizue menjewer telingaku kemudian berbalik menghadap Terra-Oni dan tersenyum, 

“Yang mulia.” katanya sambil membungkuk, “Senang bertemu denganmu lagi.”

“Oh, kalau tidak salah kau adalah musang buruhku beberapa bulan lalu, ya? Apa yang kau lakukan bersama tamuku?” tanya Terra-Oni sambil memainkan kacamatanya untuk melihat Chizue, “Kau tampak kurus!”

“Mohon maaf tuan tapi saya seekor rubah.” jawab Chizue pelan.

“Jadi musang, apa yang kau inginkan? Apa kau yang mengantar Tuan Hosaka kesini?” tanya Terra-Oni lagi.

“Rubah tuan,”

“Jawab aku!” bentak Terra-Oni dan api bersemburat dari mulutnya, “Jangan bertele-tele!”

“Entah kenapa pembicaraan ini membuatku ingin tertawa. Tidakkah begitu musang?” bisikku pada Chizue. Dengan kesal Chizue mengibaskan ekornya ke hidungku yang membuatku bersin, “Hatsyiii!”

“Jadi Tuan Hosaka! Aku ingin melihat pakaian yang kau bawa. Pastinya mereka kain berkelas dengan hiasan distrik dewa dan aroma bunga surgawi abadi. Apa aku salah?” tanya Terra-Oni sambil memainkan kumisnya, “Tuan Hosaka dari distrik dewa?”

Ano..” Aku menggaruk-garuk rambutku dan menelan ludah, “Baiklah Yang Mu..” Sebelum aku menyelesaikan kata-kataku, dengan cepat Chizue menginjak kakiku, “Itte!! Oh.. Maksudku, Terra-Oni! Terra-Oni! Aku yakin kau akan menyukai barang bawaanku!” seruku sambil menatap Chizue kemudian berbisik, “Apa maksudmu?”

“Heh..” Chizue terkekeh pelan, “Itu baru namanya sambutan hangat,”

“Hmm?” Terra-Oni mengernyitkan alisnya dan tersenyum, “Menarik Tuan Hosaka.. Aku harap, kau tak membual. Jadi, ceritakan padaku, tolong.”


-End Of Chapter 3-


 

 READ MORE

Hotaru Chapter: 3 | Kemudian.com

Monday, 16 December 2013

[POETRY] Regret

i just cant look back
not anymore
those dillusions worth regretting
with these tainted minds

i want to enter my dreams
because reality is cruel to begin with
and i'm stucked in the nick of the time
what a pity

i trample those hate
again
again
with words not enough to say
with eyes daze in black
i just cant look back
all my sins


READ MORE

Regret | Kemudian.com

Sunday, 15 December 2013

[POETRY] AVALON : Will Of Yurei

There's no need to speak of it..
Human seek for revenge, glory, honour, love..
And desperately struggling in order to SURVIVE..


Most of them
Survive only for the sake of enjoying this nuisance life..
They don't obey anything that aren't related to their own problems..
And abandon their own race for individual cost..


But, some of them..
Who always seek for TRUTH, KNOWLEDGE, and ETERNAL HAPPINESS..
Who always..
Live for other's sake..
Smile for the sake of others..
And Protect other's smile..
There are some of them..
Who we can entrust our fate and life..
Who might be able to change FATE..


But deep inside those strong yet fragile hearts..
There might be a single thing they wish to be granted..
They wish and wish and call out for miracle..
To protect and fulfill that dream..


So NOW, all of the choosen son of the man with eagerly hearts..
FIGHT FOR YOUR DREAMS
Bestow the magic, love, tears that will shed all along, and of course your very existence..
In order to regain back what you've lost and achieve your..
DREAMS..


Let the battle begins


READ MORE

AVALON : Will Of Yurei | Kemudian.com

Friday, 13 December 2013

[POETRY] Colors of Life

Have you ever see
The breeze that I loved
Once
I agonized it's flare
Fierce but warm
The breeze of courage

On a faraway hill
The people dance
Around their pure souls
Wind blows slowly
Grasps their smile
Brings the color
Of peace

On a faraway city
There's a dirt called pain
People around it
Agonized by fear
Those tainted hearts
With no mercy at all
Strikes the color of emerging hatred

On a deserted land
Lifes are flaring
Work hard in order to live
Smiles on their cheeks
Dirt around their skin
Hid the color of their fear
Brings the breeze of togetherness

Have you ever try to catch
The wind called hope
The colors are so bright, we can't see
Have you ever try to grasp
The wind called fate
No one knows
No one does
But they keep living
Yes they do
Paint those colors
The colors of life

Wednesday, 11 December 2013

[NOVEL] Hotaru Chapter: 2

"All people must work. Because without work no one will able to gain happiness. Happiness is not all about talk and kindness. Furthermore it needs and act called hard work,"

Aku terbangun. Gelap. Kukejap-kejapkan mataku, menatap kayu maroon klasik seperti papan panjang, membentang di depan hidungku. Aku dalam kondisi berdiri di sebuah tempat yang sangat sempit.

“Apa ini?” kataku kemudian mengetuk keras kayu di hadapanku itu, “Seseorang? Siapa saja?!” teriakku sambil mendorong kayu di hadapanku dan mencondongkan tubuhku hingga kayu – kayu itu membuka dan aku terpental kedepan, jatuh dengan miris, “Brugh!!”

Aku mengusap daguku dan merintih pelan sembari menatap sekelilingku. Sebuah ruangan tua menyerupai gudang yang berisi barang – barang antik seperti cermin besar, kursi, meja, pigura, patung dan sebagainya yang berserakan di seluruh ruangan. Lantainya terbuat dari kayu yang terlihat cukup rapuh. Sebuah lemari besar tersandar di belakangku, tempat seseorang ‘mengunciku’.

Sebuah jendela besar terpampang di salah satu dinding dan dengan ragu aku menyibakkan tirai merah berdebu yang menutupinya, “heee?” seruku terkejut. Yang kulihat bukan Gifu, desaku. Bukan hutan pula, melainkan sebuah perkotaan ramai yang sangat riuh dan hari sudah sangat siang.

“Apa ini?!” kataku sambil memicingkan mataku, melihat seekor gajah berpakaian ala pakaian tradisional Cina dan berjalan menggunakan dua kaki belakangnya, seekor jerapah berlari dikejar kera yang membawa dua bilah katana, kucing dan anjing berbelanja di kios – kios milik kambing dan semua yang bergerak dan beraktivitas di kota itu adalah hewan, “Dunia apa ini?! Apa ini drama? Apa aku bermimpi?!”

“Siapa diatas?!!” Terdengar suara laki – laki tua dari bawah lantai itu diikuti derap langkah berat yang kian mendekat, “Pencuri kah?”

Aku bergidik. Dengan cepat aku melompat masuk ke dalam lemari itu, lagi. 'Si penculik,' pikirku sambil mengintip dari lubang kunci.

Seekor tanuki dengan syal hitam , beberapa potongan kain menggantung di pinggangnya, dan tongkat kayu besar terikat di punggungnya masuk ke gudang  sembari mengendus - enduskan hidungnya, "Aneh. Ada bau aneh disekitar,," Ia berjalan mendekati lemari tempatku bersembunyi, ",, sini." katanya sambil mengerinyitkan mata, “Lemari ini,”

"Gawat!" pikirku sambil menahan nafasku.

"Bau manusia. Tapi wajar saja, mayat Abe berada di dalam sini." kata tanuki itu sambil mengetuk - ngetuk pintu lemari, "Puji Seimei." katanya lalu berjalan pergi.

Hening. Aku keluar dari lemari, menoleh ke kanan kiri kemudian melompat turun, “Apa aku bermimpi” tanyaku sambil mencubit pipiku, “Itte!” kataku merintih, “Ini bukan mimpi.”

Aku mendesah, menggaruk kepala sambil berjalan ke arah pintu gudang, “Aku harus pulang,” kataku kemudian membuka pintu.

Di seberang ruangan itu terdapat sebuah lorong sempit dengan tangga di ujungnya. Aku mengendap – endap menuruni tangga dan menjulurkan kepalaku ke bawah, mengamati ruangan di bawah tangga. Ruangan itu begitu ramai, penuh kain berwarna – warni dengan motif bunga beraneka ragam. Hewan – hewan berkeliaran memindahkan pakaian jadi dan kain.

“Semacam konveksi pakaian, ya” pikirku sambil terus mengendap – endap menuruni tangga. Saking sibuk dan ramainya, tak ada satu ‘orang’ pun yang menyadari keberadaanku.  Aku menyelinap diantara pakaian yang berjejer, mengenakan sebuah kimono putih polos dengan bau parfum yang sangat menyengat untuk menyamarkan bauku, dan selembar kain untuk menutupi rambut serta kepalaku, “Yosh.”

Aku merangkak keluar dan berhasil, “Sekarang.. kemana?” tanyaku sambil melihat sekeliling, “Ini benar – benar seperti parade di dunia hewan.” gumamku. Aku berjalan pelan sambil memperhatikan kegiatan hewan – hewan itu.

Sebuah barisan panjang dimana hewan – hewan mengenakan pakaian putih terjejer di depanku dan seekor babi yang berada di ujung barisan itu melambai – lambaikan sebuah kuas besar dengan dua kaki depannya sambil berseru, “Buruh! Buruh untuk Tuan Terra-Oni! Masuk masuk!”

Aku berjalan melewati barisan itu sambil menutupi wajahku dengan lengan kimono. Tiba – tiba seekor kucing menabrakku dan dengan marah memukul kepalaku, “Cepat antri!”

“eh apa?”

“Kau juga buruh untuk Tuan Terra-Oni kan? Cepat berbaris! Kereta sudah datang!” serunya sambil mendorongku ke arah barisan itu, “Cepat!”

“Aku bukan buruh!” seruku sambil mendorongnya, “aku ini..”

“Apa?” tanya kucing itu sambil mengenduskan hidungnya, “Baumu, dan pakaianmu juga. Itu adalah pakaian khusus buruh Terra-Oni. Kau tak bisa mengelak kecuali kau ingin aku menelanjangimu disini, sekarang!”

Hee?” seruku sambil melompat mundur.

Sa, ayo cepat!” kata kucing itu sambil menorehkan kuasnya di kimonoku, “Nomor 14. Masuk ke kereta!”



“Apa ini?” kataku sambil memegang kepala, duduk di pojok kereta barang yang bergerak pelan, “Kenapa aku bisa berada disini?” Kulihat sekitar ruangan kereta itu, dan banyak hewan bernasib sama sepertiku.

“Kau anak baru ya?” kata seekor rubah sambil duduk di sampingku, “Kau youkai apa? Monyet?” tanyanya sambil tersenyum, “Hajimemashite, aku Chizue, rubah kuil.”

Youkai?” tanyaku heran, “Ini.. dimana?”

“Hee? Kau pasti pendatang baru. Jarang ada pendatang baru yang langsung jadi budak Terra-Oni. Siapa yang mengirimmu? Darimana kau ‘jatuh’?”

“Apa maksudmu, ettou, Chizue?”

“Tidak ada yang mengirimmu?” seru Chizue terkejut, “Kalau begitu dari mana kau datang?”

“Aku.. Saat pertama datang disini aku terjebak di sebuah lemari di konveksi pakaian dimana aku mendapat pakaian ini. Maksudku, mencuri pakaian ini.”

“Konveksi? Kenapa bisa?”

“Entahlah,” jawabku ragu, “Aku harus keluar dari sini.”

“Mengapa? Begitu masuk ke dunia roh, kau takkan bisa kembali hingga masa kelahiran kembalimu tiba.” jelas Chizue sambil menggelengkan kepalanya, “Aku baru saja sadar. Entah kenapa baumu lain,”

“Dunia roh? Hutan roh maksudmu?!” seruku terkejut, “hutan roh tempat roh manusia lahir kembali?”

“ngg.. sejenis itu..” jawab Chizue ragu, “Hey.. Sebenarnya kau.. apa?”

“Aku manusia,” jawabku sambil mengangguk kemudian menyentuh dadaku, “dan sepertinya aku masih hidup,”

“MANUSI...” teriak Chizue lalu aku mendekap mulutnya dengan tanganku, “Jangan berisik!” seruku. Beberapa hewan menoleh kearahku dan Chizue dengan heran, mendengar teriakan Chizue di ruangan dengan sinar remang – remang itu.

“T... Tapi.. itu tak mungkin.. Kau bergurau! Tak pernah ada seorang manusiapun yang bisa hidup di dunia roh. Kau pasti sudah mati!” bisik Chizue gemetar.

“Tapi coba dengar ini,” kataku sambil menempelkan telinga Chizue di dadaku, “Kau dengar detak jantungku?”

“I...Iya.. Sesuatu yang.. tidak dimiliki roh..” kata Chizue sambil menelan ludahnya, “Demi Seimei..”

“Jadi Chizue.. Ini adalah dunia roh?”

“I..Iya..”

“Kau bisa membantuku menemui ibuku?”

Chizue membelalakkan matanya, “Ibu?”

“Ya. Ibuku..” jawabku sambil mengangguk, “Ibuku yang meninggal 3 tahun lalu,”

“Tapi.. Itu sulit..” kata Chizue sambil menyentuh kepalanya, “Seingatku, roh mereka akan terlahir menjadi roh dengan wujud lain dan ingatan mereka akan pudar, sepertinya.”

“Tapi pasti ada cara! Karena aku..” kataku sambil memelankan suaraku, “anaknya,”

Chizue termenung dan menatapku, “Sepertinya kau benar. Kau tau, semenjak datang ke dunia roh ini, aku merasa seseorang entah dimana merindukanku,” katanya sambil tersenyum, “Semua makhluk hidup dan berbagi jutaan ingatan dengan orang - orang yang mereka cintai. Kenangan itu suatu saat akan memudar. Tapi pasti, suatu saat, kenangan - kenangan itu terungkap kembali dan air mata akan jatuh di pipi mereka dan hidup hingga mereka terlahir di kehidupan yang baru. Walaupun mereka hanya mengingat sebagian kecil pecahan – pecahan yang tersebar. Itu kata Mother Anonima.”

Mother Anonima?”

“Orang yang aku temui pertama kali setelah tiba di dunia roh. Beliaulah yang menjelaskan tentang kehidupan dan dunia kepada kami, para roh.”

“Oh, begitu. Kata – kata  yang sangat in..” Sebelum aku menyelesaikan kata – kataku, sebuah tumbukan besar mengguncang kereta dan kereta pun berhenti, “Apa itu?”

“Kita sudah sampai!” seru Chizue sambil melompat ke sebuah kardus yang di dalamnya terdapat banyak kimono mewah, “Sembunyi disini!” bisiknya. Ruang kereta itu cukup gelap sehingga youkai lainnya tak menyadari gerak – gerik Chizue.

Aku melompat masuk ke dalam kardus. Chizue meniup telunjuknya dan api muncul di atas kukunya, menyegel kembali kardus itu seraya ia menggerakkan jarinya mengitari kardus itu, “Untuk sementara kira aman. Kita bisa menyamar menjadi tamu begitu pakaian ini dipindah ke ruang ganti Terra-Oni.” bisik Chizue sambil meniup apinya, “Aku sudah sering bertugas pada Terra-Oni.”

“Benarkah?” kataku lega, “Kenapa kau mau membantuku? Kita bahkan belum kenal.”

Chizue menatapku kemudian tersenyum, “Entahlah. Aku juga tak tau,”

“Terima kasih. Oya namaku Hosaka,” kataku sambil menjabat tangan Chizue, “Tapi nama kecilku akan kurahasiakan, karena terdengar seperti nama anak perempuan,”

“Fufu..” tawa Chizue sambil balas menjabat tanganku, “Yoroshiku na, Hosaka.”

Read More : Hotaru Chapter 2

Friday, 6 December 2013

[POETRY] Cabai, Kripik, dan Sambal


Pedas
Panas membara di telinga
Kau yang sok artis
Yang menyesakkan TV
Dengan gosip buruk yang buruk
Tebal muka buatku muak
Sana sini tebar senyum
Menggelitik
Koruptor
Apa kau ingat?
Masa dibalik kebusukanmu
Dimana kau hanya seorang bocah
Bocah putih
Pernahkah terlintas
Kenangan saat ujian
Mencontek?
Tidak
Menyalin?
Tidak
Zaman dulu semua ingin putih
Bukan hitam
Dan kau mungkin demikian
Mungkin
Namun apa?
Kau nodai rapormu yang putih
Dengan abu rokok hitam
Atau jas palsu
Dan nafasmu yang hitam pekat
Bagi rakyat
Untuk apa masa putihmu dulu?
Untuk apa sobat?
Eh kualat
Sudahlah silakan minggat
TV pun sudah bosan

Dengan kumis atau ekormu


Read More
http://www.kemudian.com/node/274657#.UqHI5_G1gmk.blogger



Wednesday, 4 December 2013

[POETRY] Dibalik Bunga Api

Tahun baru berarak
Bunga api membuncah
Semua bersorak
Suasana merekah
Sedang ia di barak
Berdegup dalam darah

Oh anak muda
Pantaskah kita berfoya-foya?
Diantara banyak suka
Tersisip duka
Mereka yang renta
Diantara yang bergelora
Tersisip luka
Bak bunga api menyala - nyala
Memecah langit senja

Mungkinkah?
Diantara sulur yang dibakar
Ratap lelah ia yang renta
Bergetar
Memegang dada dalam asa
Mungkinkah?
Nyawanya gemetar
Menahan ajal
Demi mereka yang mekar

READ MORE

Dibalik Bunga Api | Kemudian.com